
Keadaan Alda kian membaik. Ia kini hanya banyak melamun memikirkan gadis kecilnya. Sesekali Aina, Mika bahkan Lathief mendapati Alda mengusap air matanya.
Athena pasti kembali, itu yang selalu Alda tanamkan pada dirinya.
"Nona, pukul 10 pagi nona Dian akan melangsungkan akad. Apakah nona berkenan untuk menghadirinya?" Alexia mencoba mengingatkan Alda tentang hari pernikahan Dian lewat pertanyaan. Ia takut menyinggung nonanya.
"Terima kasih , Alexia. Tolong siapkan pakaianku serta kado pernikahan untuk Dian dan Sandi. Berikan mereka kado pernikahan perjalanan ke Athena. Siapkan segala keperluannya dan perintahkan seorang tour guide untuk mereka." perintah Alda.
Athena, pulau yang dihadiahkan untuk Alda dan Mika saat mereka berusia 21 tahun. Tidak banyak bangunan disana. Hanya berupa resort, pantai indah yang membentang dengan pasir berwarna putih dan pink, pusat perbelanjaan dan sebuah club. Jarak resort satu dengan yang lainnya cukup jauh, itulah sebabnya Alda meminta Alexia untuk memberikan Dian kado honeymoon.
"Baik, nona" kata Alexia sebelum meninggalkan Alda untuk melakukan tugasnya.
Alda bersiap dengan cepat. Ia akan menghadiri acara akad nikah Dian, setelah itu ia akan langsung bertolak pulang ke kota C. Tinggal di kota A tanpa kegiatan membuatnya terus mengingat anak kecilnya. Ia harus membiasakan dirinya hidup tanpa Athena, sebab Rafa yang punya hak paten atas diri Athena.
"Gak bareng kakak aja, dek?" tanya Lathief yang sedang menonton berita di Tv.
"Gak, pa. Habis dari pestanya Dian, adek langsung pulang ke kota C." jawab Alda.
Lathief kaget.
"Lho, bukannya adek baru balik pekan depan, yah?" tanya Lathief.
Alda menggeleng.
"Adek balik hari ini, pa." kekeuh Alda.
"Kenapa, pa?" tanya Aina yang baru saja bergabung.
"Adek katanya bakal balik hari ini" lapor Lathief.
Aina melihat anaknya.
"Bener, dek?" tanya Aina.
Alda tersenyum.
"Bener, ma. Salah satu teman adek ada yang ambil cuti melahirkan. Makanya adek buru-buru balik" kata Alda.
Aina mencoba mengerti keinginan anaknya. Ia tahu perkataan anaknya hanya alasan belaka agar diizinkan pergi lebih cepat.
"Hati-hati yah dek. Alexia, mbak Ni, titip adek yah" ucap Aina lembut.
"Siap nyonya" kata Alexia dan mbak Ni bersamaan.
Lathief tentu tidak pernah memikirkan hal ini akan terjadi. Dua orang anaknya yang sejak dari janin bersama, kini harus terlibat peran dingin. Mereka masih saling menyapa, tapi Alda seolah membangun benteng tak kasat mata untuk menghindari perbincangan lebih banyak.
Akad berjalan dengan lancar. Alda memeluk Dian erat.
"Selamat, Yan. Udah jadi istri aja. San, jagain yah teman aku" kata Alda saat ia memberikan selamat kepada pengantin.
"Kak Alda juga, semoga segera dipertemukan jodohnya" ucap Sandi.
"Yaudah, aku pamit deh, malu dilihat orang" Alda pamit sekali lagi sebelum meninggalkan tempat. Ia enggan untuk berlama-lama disana. Takut bertemu Mika, Randi dan Angga. Tentu saja ia juga belum siap melihat wajah Renal.
"Alda gak kesini, Ka?" tanya Angga.
"Kata mama tadi berangkatnya cepat." jawab Mika.
Mika lebih pendiam sekarang.
"Lo baik-baik aja kan?" tanya Randi.
Randi tentu saja kecewa setelah mendengar cerita Mika. Tapi ia tahu, Mika tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Ia hanya memberi pandangan lain.
"I'm okay. Gue kasih waktu 3 bulan untuk Rafa bersembunyi. Setelahnya, gue pasti bisa bikin dia balik" yakin Mika.
"Orang bar-bar akhirnya nikah." cibir Angga pada Dian yang sedang berjalan kearahnya diikuti Sandi.
"Iyalah. Emangnya kalian, jomblo aja bangga" ejek Dian.
"Yeuhh, Maemunah. Udah belagu sekarang." Angga tanpa aba-aba menjitak kepala Dian.
Dian meringis.
"Sakit, Gaga" katanya.
Sandi hanya bisa menghela napasnya pasrah. Para eksekutif muda didepannya ini memang tiada duanya.
"Selamat malam, Mr. dan Mrs. Bijaksono. Kami diminta oleh nona Alda untuk mengantarkan ini" seorang pemuda mengenakan pakaian jas yang rapi berbicara.
Ia membawa map coklat yang entah berisi apa.
Dian membukanya. Matanya melotot tak santai. Melihat ekspresi Dian, Sandi penasaran. Ia ikut melihatnya.
"Apaan deh?" tanya Angga.
"Aldaa gilaa banget." umpat Dian.
"Yan, mulut Yan" peringat Mika.
"Lihat aja, Ka. Dia ngasih gue tiket ke Athena, serta segala fasilitasnya selama dua Minggu" ucap Dian menggebu-gebu.
"Bukannya Lo harusnya senang yah?" tanya Randi.
"Ya senenglah, Ran. Tapi ini ke pulau Athena lho. Saingannya RelFath. Gue tahu gak mudah untuk kesana. Malah Alda ngasih hadiah kesana. Gue mesti sujud syukur nih punya sahabat sultan macam kalian" kata Dian tak tahu diri.
"Yeuhh ngelunjak" cibir Angga.
Sandi tentu tak kaget dengan hadiah yang ia terima kini. Dulu saja ia pernah diberi motor oleh mereka. Ia tahu ini berlebihan untuknya, tapi ia juga tentu tak lupa kalau ini hal biasa bagi para sultan Arunika.