
Alda kini berkunjung ke rumah mamanya. Ia sedang membuat kue bersama sang mama.
"Nenek sama Oma kapan pulangnya sih, ma?" tanya Alda.
"Sebentar lagi pasti pulang" jawab Aina.
"Ngapain juga jalan-jalan segala, padahal udah tua gitu" Alda mendumel.
"Awas lho, ntar nenek dan Oma denger" Aina menakut-nakuti anaknya.
"Heheh, peace" kata Alda cengengesan.
Aina hanya menggelengkan kepalanya. Sudah lama ia dan sang putri tidak membuat kue seperti sekarang. Putrinya sudah memiliki kesibukannya sendiri menjadi seorang istri dan seorang ibu.
Tapi ada hal lain yang membuat Aina merasakan sesuatu. Anaknya sedang tidak baik-baik saja. Ia tentu tahu tanpa diberi tahu. Aina enggan untuk bertanya. Jika memungkinkan, Alda pasti akan menceritakannya sendiri tanpa diminta.
"Mama" teriak Mika dari luar.
"Ngapain pula kakak kesini?" tanya Alda heran.
"Yeuh, mentang-mentang kesininya duluan" cibir Mika tapi tetap mencium kening adiknya, ibunya juga.
"Ivana mana, nak?" tanya Aina.
"Ivana tidur, ma. Belakangan ini selalu tidur, entah masih pagi, siang atau sore." jawab Mika. Ia duduk dimeja pantry, memakan kue yang dibuat oleh Aina dan Alda.
"Tapi udah rajin makan kan yah?" tanya Aina lagi.
Mika mengangguk.
"Gak seperti dulu sih ma. Sekarang kalau makan sudah rajin, dan gak muntah lagi" jelas Mika.
"Ngapa Lo?" tanya Mika.
Alda terkejut mendapati tissue yang sudah digulung yang mendarat di dahinya.
"Aku kok belum hamil yah?" tanya nya dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar.
Aina mengelus bahu anaknya.
"Kan belum lama nikahnya, belum dikasih sama Tuhan. Sabar yah, nanti juga pasti dikasih" Aina menenangkan sang anak.
"Bener apa kata mama. Barangkali usahanya perlu ditingkatkan" kata Mika seenaknya.
"Tapi aku takut. Ivana dibulan ketiga setelah menikah sudah hamil. Dian juga cepat hamilnya, Angel juga" Alda menyampaikan ketakutannya.
"Bener, ma?" tanya Mika.
Aina mengangguk.
"Papa, kakek, nenek, opa dan Oma selalu nenangin mama. Diminta untuk sabar, karena punya anak itu tanggung jawabnya besar" jelas Aina.
"Denger, dek. Soal anak, rejeki dan kematian sudah diatur Tuhan. Mungkin belum waktunya dikasih, lagian Athena juga masih kecil" kata Mika.
Alda mengangguk. Ia sekarang lebih lega setelah menyampaikan ketakutannya, dan mendapat dukungan dari orang tersayangnya.
"Mama" panggil anak kecil masih dengan seragam sekolahnya, diikuti nanny nya yang berjalan dibelakangnya.
"Wahh, lucunya anak papa" Mika mengangkat Athena, kemudian berputar-putar bak film Disney.
"Terima kasih, mbak Ni. Mbak Ni boleh pulang ke rumah untuk istirahat" kata Alda.
"Terima kasih, nona. Mari nyonya, tuan, saya pamit" kata mbak Ni sopan sebelum meninggalkan ruang makan kediaman 05.
"Cetoop papa cetop" teriak Athena.
"Udah kak, nanti Athena pusing" peringat Aina.
Mika berhenti, ia duduk. Membawa Athena duduk di pangkuan nya. Tapi Athena minta turun. Ia berjalan ke arah Alda.
"Cayiim mama" katanya kemudian menggaet tangan Alda kemudian mencium punggung tangan mamanya. Hal serupa juga dilakukannya pada Aina dan terakhir Mika.
"Wah, cucu Oma pintar yah" Aina mengelus kuncir Athena.
"Maacii Oma" kata Athena, yang sedang sibuk memanjat kursi di samping Mika.
Mika yang melihatnya pun tanpa aba-aba mendudukkan nya di pangkuannya.
"Mau kue nggak?" tanya Mika.
Athena mengangguk.
"Cue cokcat" katanya.
"Makin bawel dia yah?" heran Mika.
Alda mengangguk.
"Tapi pintar kok" katanya.