
Alda sedang menemani Athena bermain di ruang bermain. Renal sengaja mengosongkan satu kamar di depan kamarnya untuk dijadikan ruang bermain Athena. Berbagai macam mainan ada disana. Perosotan, ayunan kecil juga rumah Barbie.
Alda sedang menyusun Lego untuk dia jadikan rumah Barbie.
"Ma, mawuu Barbie wana piiin" Athena menyodorkan tangannya.
Alda mencari Barbie yang berwarna pink tersebut di keranjang mainan Athena. Alda sempat mengangkatnya, kemudian melepaskannya.
Perutnya bergejolak, serasa sedang di putar dari dalam. Ia merasa mual, dengan cepat ia berlari ke kamar mandi di sudut ruangan. Ia memuntahkan isi perutnya. Kepalanya juga mendadak pusing saat melihat warna pink.
"Huwaaaa mama" Athena menangis. Ia mengikuti mamanya hingga depan pintu kamar mandi yang sengaja Alda biarkan terbuka.
Alda menoleh sejenak, melihat Athena yang sedang menangis.
Alexia yang mendengar tangisan Athena dengan cepat memasuki kamar. Nampak Athena sudah duduk berselonjor dengan muka yang tidak karuan karena menangis. Sementara di dalam kamar mandi, Alda sudah terkulai lemas.
Alexia dengan tanggap memapah Alda menuju kamarnya. Ia membaringkan Alda di tempat tidur. Kemudian menelpon Abdi, asisten Renal.
Tangis Athena belum berhenti.
"Tolong tenangkan, Athena" ucap Alda dengan suaranya yang sangat lirih.
Alexia mengangguk.
"Saya akan meminta Mi untuk membuatkan anda minum, nona" kata Alexia sebelum kembali ke ruang bermain.
"Mama The mana mana hiksss?" air mata Athena merembes hingga ke dagu.
Alexia membersihkan nya dengan tissue basah.
"Mamanya lagi sakit, kak" beritahu Alexia.
Athena menggeleng.
"Mawuu mama" katanya, kemudian berontak turun dari gendongan Alexia.
Dengan langkah kecilnya ia berjalan ke kamar orang' tuanya. Alexia mengikutinya dari belakang.
"Mama" panggil Athena sambil mengelus pipi Alda.
Alda yang memang tidak tertidur lekas membuka matanya. Ia tersenyum melihat anaknya. Tapi tiba-tiba ia merasa akan muntah kembali saat melihat jepitan rambut Athena yang berwarna pink.
Alda bergegas masuk ke kamar mandi lagi. Ia kembali memuntahkan isi perutnya.
"Huwaaa mama" Tangis Athena kembali terdengar.
"Alda dimana?" tanya Renal.
"Nona ada di kamar, tuan" jawab Alexia.
Mendengar jawaban Alexia, Renal berlari kecil memasuki kamarnya. Nampak Alda sudah berbaring di pinggir kasur. Wajahnya sedikit pucat. Ia ikut berbaring di samping sang istri, menjadikan sebelah tangannya menjadi penyangga kepalanya.
"Ayo, kita ke dokter" ucap Renal lembut.
Alda menggeleng.
"Aku baik-baik aja. Tadi hanya mual" katanya.
Renal mengelus kepala Alda, merapikan anak rambutnya yang menutupi wajah sang istri.
"Tadi aku main bareng Athena, terus ia minta diambilkan Barbie nya yang berwarna pink. Saat Barbie itu ada di tanganku, kepalaku mendadak pusing, perutku serasa diputar" jelas Alda.
Renal mengelus perut Alda.
"Babynya gak suka warna pink yah"
Alda mengangguk.
"Sepertinya"
Renal memeluk Alda.
"Kamu istirahat dulu gih"
Alda menyusupkan kepalanya di dada bidang sang suami, menghirup aroma tubuh Renal yang begitu disukainya.
Tak butuh waktu lama, Alda tertidur. Renal mencium dahi Alda lama, kemudian keluar dari kamarnya.
"Athena dimana?" tanya Renal.
"Nona sedang di kamarnya, tuan" jawab Alexia sopan .
Renal mengangguk. Ia berjalan memasuki kamar anaknya. Nampak Athena sudah tertidur begitu pulas, meskipun dengan wajahnya yang sembab karena terus menangis.
Renal melihat sekitar, kamar putrinya memang dominan warna pink. Isi lemarinya juga, perabotan nya juga. dan pernak pernik lainnya yang Alda pilih sendiri.
Ia kemudian meminta Abdi untuk membelikan perlengkapan yang baru untuk Athena, juga beberapa pakaian, setidaknya hingga Alda sudah melewati masa sensitif nya. Ia juga meminta Abdi untuk pergi bersama Alexia, karena Alexia cukup tahu banyak tentang keperluan Athena.