
Kediaman 05 kini sedang ramai. Ivana baru saja pulang dari rumah sakit setelah melahirkan dua bayi kembar berjenis kelamin laki-laki.
Aina sengaja meminta Mika dan Ivana tinggal di rumahnya sejenak.
"Hans, cicit terlihat begitu tampan" Ares begitu senang saat memandangi dua bayi yang masih hobi tertidur.
"Tentu saja mereka tampan, Res. Para buyutnya juga tampan" kata Hans.
"Opa Lathief nya juga tampan" Lathief ikut menimpali.
Ivana terkekeh ringan mendengar obrolan tiga orang lelaki di depannya.
"Kalian bicara apasih? Tentu saja ketampanan mereka dari papanya" Mika yang baru saja dari dapur untuk mengambilkan makanan buat Ivana ikut bicara.
"Karena si kurang tampan sudah datang, mari kita tinggalkan ruangan ini" ajak Ares pada besan dan anak semata wayangnya.
"Sombong yah. Padahal gak punya apa-apa lagi" cibir Mika.
Ares tertawa. Ia menepuk-nepuk pundak sang cucu sebelum meninggalkan kamarnya.
Mika dengan telaten menyuapi Ivana. Istri kecilnya begitu kuat, mampu melahirkan dua malaikat sekaligus dengan cara normal.
"Terima kasih sudah melahirkan malaikat-malaikat kecil ini" Mika tak pernah berhenti mengucapkan kalimat terima kasih pada istrinya setiap mereka berduaan.
Ivana bahkan kadang memutar bola matanya karena saking seringnya ia mendengar kalimat tersebut. Tapi ia mengerti, itu adalah bentuk rasa syukur yang Mika coba ungkapkan.
"Kita besarin mereka sama-sama yah" ucap Ivana sambil mengelus pipi Mika.
"Tapi harus tetap pakai jasa nanny. Aku gak mau yah kamu kecapekan, terus jatuh sakit"
"Satu aja yah" pinta Ivana.
Mika mengangguk.
"Setelah pelatihan Mbak Ni selesai, aku bakal minta untuk langsung kesini"
"Terus Alda?" tanya Ivana.
"Alda gak mau pakai jasa nanny." jawab Mika enteng.
Sementara di bawah sana, di ruang keluarga nampak ramai karena kedatangan Renal, Alda dan The.
"Wehh bayi sultan udah datang nih" Lathief dengan cepat membawa The masuk ke dalam gendongannya.
"Gak tahu tuh, pikirannya kakek dan opa kemana?" cibir Alda tapi tetap memeluk kakek, nenek, opa dan omanya.
"Lahh kan bagus, masih kecil dapat julukan sultan. Besarnya makin kaya" Ares mencoba ngeles.
"Bersyukur deh. Papa aja yang anaknya gak dikasih" kata Lathief.
"Ngapain juga mesti di kasih. Uangnya banyak gitu" Alda lagi-lagi menimpali.
"Wahh, pinter nih" Weni mengelus kepala Athena yang kebetulan memilih duduk disampingnya.
"The udah kembali sekolah?" tanya Karina.
"Belum, Oma. Nanti pekan depan kalau dokternya bilang bisa yah aku antar" jawab Alda.
"Wehhh, anak papa datang" seru Mika dari tangga.
Athena yang sedang memainkan jelly yang berbentuk jari menoleh.
"Pa pa" panggilnya.
Mika mencium pipi The.
"Mau liat adik nggak?" tanyanya.
"De de bebiii?"
Mika mengangguk.
"Mawuu" oceh Athena.
Mika kemudian menggendong Athena.
"Say goodbye to all"
"bubayy cemuwaa" The melambaikan tangannya.
"Jagain bang, The kadang gemesan anaknya" pesan Renal.
Mika mengangguk. Ia membawa Athena ke kamar yang ia, Ivana dan anak-anaknya tempati.
Di kasur yang besar, nampak dua bayi yang matanya sudah kriyep kriyep. Sesekali tangan dan kakinya bergerak.
"Bebii duwa" Takjub Athena.
Mika dan Ivana terkekeh.
"Adiknya The ada dua yah sayang. Nanti dijaga adiknya, disayang-sayang" Ivana mengelus kepala Athena.
"Bebi ucu emoyy"
"Iya, baby-nya lucu, gemoy yah nak yah" Mika mengiyakan ocehan Athena.
"Njam boyeh?" The menatap Ivana dengan penuh harap, matanya bahkan berkedip lucu.
Mika dan Ivana cukup kaget dengan pertanyaan The.