
Alda, Renal dan Nevan sudah sejak tadi berada di rumah Aina. Sedangkan Mika dan keluarganya baru saja tiba.
"Mama udah dimana?" tanya Alda sambil membaringkan Nevan di kasur mini ruang keluarga.
"Bentar lagi sampai" jawab Ivana.
"Bentar lagi mbak Ni bakal ngomel ini. Mereka berdua udah gatal kayaknya pengen merangkak" kata Renal.
"Entar semuanya di tarik" sambung Mika.
Mereka memperhatikan Arvin dan Arion yang sedang berusaha merangkak, tapi masih gagal hingga akhirnya hanya bisa bertepuk tangan.
"Kamu gak bawa mpeng mereka, yang?" tanya Mika.
"Bawa kok" Ivana membuka tas jinjing yang dibawanya. Ia lalu menyerahkan dua empeng kepada suaminya.
Mika lalu membawa kedua anak kembarnya ke kasur persegi yang dikelilingi gabus di tiap sisinya.
Suara mobil terdengar memasuki halaman rumah. Alda berdiri tentu saja untuk menyambut anaknya. Tapi alih-alih mendapat senyum manis Athena, bayi perempuan itu malah bersandar dipundak opa Lathief sambil memejamkan mata.
"Anaknya tidur, kecapaian" ucap Aina sambil mengelus kepala anak perempuannya.
Lathief membawa Athena ke kamar yang ada di dekat tangga, menidurkannya, mengatur suhu ruangan lalu meninggalkan cucunya. Ia akan bersih-bersih dulu sebelum makan siang bersama mertua, istri, anak-anak dan menantunya. Ketiga cucunya yang laki-laki masih belum bisa makan, sedangkan Athena sedang tertidur.
"Nungguin opa yah kalian?" canda Hans.
"Tentu saja opa. Kali aja dapat tambahan warisan" jawab Mika balik bercanda.
Aina yang mendengarnya hanya mendelik ke arah anak lelakinya.
"Warisan terus. Kayak bisa ngabisin aja" cibirnya.
Yang lain terkekeh mendengar cibiran Aina. Benar, sejauh ini, anak-anaknya sudah berkeluarga, tapi masih kaku kalau masalah keuangan. Yah, meskipun itu bagus. Setidaknya mereka tidak menghamburkan uangnya. Keuangan mereka masing-masing ada yang handle. Apalagi Alda, dia punya orang khusus yang menghandle keuangannya, lain pula keuangan dari Renal.
Semuanya menikmati makan siang. Sesekali mereka memang harus menghabiskan waktu seperti ini, meluangkan waktunya walau hanya untuk makan siang dan berbincang-bincang.
Setelah makan, para laki-laki tentu saja memisahkan diri. Sedangkan para perempuan kecuali Oma Karina, membersihkan meja makan.
"Adek marahin The yah?" tanya Aina lembut.
Alda nyengir.
"Gak sengaja teriak, mama" jawabnya.
"Ngomong sama anak itu mesti hati-hati. Apalagi kita ini seorang ibu, sekolah pertama untuk anak-anaknya. Ngomongnya mesti lembut, kalau ada yang gak tepat ditegurnya pelan-pelan, jangan teriak. Anak-anak bukan tukang sayur lho yang harus diteriakin dulu supaya berhenti. Adek pernah nggak ngerasa mama teriakin adek?"
Alda menggeleng.
"Nggak pernah, ma." jawab Alda pelan.
"Nah, itu mama lagi kasih contoh sama adek, jadi mama mesti gimana. Bukannya mama mau ikut campur, tapi kasihan lho anaknya sampai panas-panasan kesininya, diantar sama penjaga rumah." cerita Aina.
Alda mengusap air matanya.
"Lho, iparnya nangis Van." goda Aina. Ia memeluk putrinya, tak lupa membawa Ivana juga ke dalam rengkuhannya.
"Jadi ibu itu gak mudah, tapi membanggakan. Selamat menjadi ibu yah kalian, anak-anaknya mama. Besarin cucu-cucunya mama dengan kelembutan. Kalau yang tegas-tegas itu tugasnya para ayah." pesan Aina.
Alda dan Ivana mengangguk.
"Yaudah, kita bikin teh dulu yuk. Ivana, tolong susun cakenya, tadi mama beli di jalan" ajak Aina.
Alda menyeduh teh dan beberapa gelas kopi bersama Aina, sedangkan Ivana menyiapkan cakenya.