Renalda

Renalda
Normal Life



Kehidupan di keluarga Renal kembali berjalan normal. Setiap pagi Renal akan pergi bekerja, dan mengantarkan Athena terlebih dahulu ke sekolah. Sementara Alda akan berada di rumah bersama Nevan.


Min diberikan kesempatan untuk mengawal Athena lagi. Ia telah menjalani hukumannya di RelFath selama masa pemulihan Athena kemarin. Tentu saja dan Ran dan Rum bersamanya.


Menjelang jam pulang sekolah Athena, mobil Renal pasti sudah terparkir diluar, dan Renal akan menjemput Athena di kelasnya. Jika sempat ia akan ikut makan siang bersama istrinya kemudian kembali ke kantor. Jika tidak, Alda akan memasukkannya ke dalam tempat makan dan meminta Renal membawanya ke kantor. Meskipun begitu, Renal tetap mengiyakan permintaan sang istri.


Sudah disepakati, mereka tidak akan memberitahu Athena jika ia adalah anak Rafa. Mereka tetap akan memperkenalkan Rafa sebagai papinya, sama seperti Mika sebagai papanya. Mereka takut jika Athena bertanya siapa mama kandungnya, mereka tentu tidak sampai hati menjawab jika mama kandungnya adalah Gadis, orang yang berusaha mencelakainya.


"Tadi di sekolah belajar apa?" tanya Alda


"Gambal mommy." jawab Athena. Ia mengambil tas sekolahnya, kemudian memperlihatkan hasil gambarnya.


"Akak The suka gambar bunga yah?" tanya Alda.


Athena mengangguk.


"Unga mayatahi" ucapnya.


Alda terkekeh.


"Bunga matahari" ucapnya mengoreksi.


"mayatahi" ulang Athena.


"Belum bisa yah nyebutnya?"


"beyum mommy. Cucah" jawab Athena.


"Yaudah, nanti perlahan pasti bisa" Alda mengelus kepala Athena.


"Pan mana?"


"Dedeknya lagi bobo. The mau bobo juga nggak?"


Athena mengangguk.


Alda lalu menidurkan Athena, menceritakan dongeng disiang hari.


Tidak butuh waktu lama, Athena tertidur. Bayi ini tumbuh dengan cepat. Sebentar lagi akan memasuki sekolah baru.


Sore hari Athena akan duduk di teras sambil makan kue atau cemilan lainnya. Ia menunggu Renal pulang dari kantornya.


"Daddy katanya pulang malam, kak" beritahu Alda yang datang sambil menggendong Nevan.


"Napa bica?"


"Pekerjaan daddy cukup banyak hari ini. Nanti malam baru selesai."


"Om Abdi gak bancu?"


"Om Abdinya bantu juga. Tapi pekerjaannya banyak, jadi tetep malam pulangnya" Alda mencoba bersabar atas pertanyaan nyeleneh anaknya.


Athena mengangguk. Ia lalu berdiri, mengambil kotak makan yang ia bawa tadi. Ia kembali membawanya masuk dan menyimpannya di wastafel.


Hal itu tak luput dari pengamatan Alda. Athena-nya benar-benar anak yang cerdas.


Alda lalu menyalakan TV, mencari saluran seperti biasa, si tikus dan kucing yang selalu berantem. Ia menidurkan Nevan di sofa bed. Athena datang, dan mengambil duduk di sisi lain Nevan.


"Pan anteng" Athena menoel pipi Nevan.


Nevan tertawa, seolah mengerti apa yang kakaknya ucapkan.


"Pan emoy, ucu, nanci yikut akak cekoyah diyantal dedii" celoteh Athena. Sesekali ia akan mencium perut adiknya yang sangat harum, bau khas bayi. Sementara Nevan akan tertawa dan bertepuk tangan.


"Tuyung mommy"


Alda menoleh. Nevan ternyata menarik rambut kakaknya yang entah bagaimana caranya bisa berada dalam genggamannya.


"Nevan, gak boleh yah narik rambut akak The. Akak The nya sakit" ucap Alda lembut.


Ia lalu mengelus rambut Athena yang memilih pindah di sisinya yang lain.


"Pan nakal" Athena memberenggut sambil melipat tangannya di dada.


"Adiknya minta maaf. Dimaafin nggak?" tanya Alda lembut.


Athena hanya diam, menikmati tontonan di depannya.