
Setelah berceramah singkat pada menantunya, Lathief pamit untuk pulang. Sebenarnya ia akan memberitahu Renal perihal kejadian siang tadi, tapi tidak ia lakukan. Lathief akan mengurusnya sendiri.
Renal memasuki salah satu kamar ruang tunggu untuk pasien di ICU. Ia belum bisa memesan kamar karena Athena masih kritis. Ia mengaktifkan ponselnya. Terdapat beberapa panggilan pesan dari Alda dan juga Lathief.
Kejadiannya pukul 11 siang dan ia baru tahu jam 3 sore. Dirinya benar-benar gagal. Ia menelpon Abdi, meminta untuk mengecek seluruh CCTV di sekitar sekolah anaknya. Ia tahu, dirinya cukup lambat dalam bergerak.
Setelah beristirahat sejenak, Renal kembali ke depan ruang ICU, menunggu di sofa. Siapa tahu ada perkembangan dari keadaan Athena-nya.
"Keluarga nona Athena" panggil seorang perawat.
Renal berdiri. Ia mendekati perawat tadi.
"Silahkan pakai baju sterilnya. Dan ikut kami ke dalam"
Renal mengikuti instruksi perawat. Ia memakai baju yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit, kemudian memasuki ruang ICU. Ada beberapa pasien di dalam, dan Athena adalah yang paling kecil.
"Selamat malam, pak." sapa dokter yang sedang berjaga.
"Selamat malam, dok. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Renal.
"Anaknya berhasil melewati masa kritisnya. Ia begitu kuat. Tapi maaf, alam bawah sadar sedang menguasainya. Ia kami nyatakan koma. Belum ada tanda-tanda ia akan sadar. Ini sudah cukup lama setelah dilakukan tindakan, tapi pasien kecil kami tidak menunjukkan akan segera sadar" jelas dokter tersebut.
"Berapa lama biasanya pasien akan mengalami koma, dokter?" tanya Renal.
"Maaf, kami tidak bisa memastikan. Tapi kabar baiknya, pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan. Ia tidak memerlukan bantuan oksigen lagi"
Renal mengangguk.
"Berikan yang terbaik dok" pintanya.
Athena dipindahkan ke ruang perawatan saat hari sudah pagi. Setidaknya di ruang perawatan ini, keluarganya bisa melihatnya sesukanya. Lathief tentu meminta langsung kepada direktur rumah sakit ini segala pelayanan terbaik untuk cucunya.
Alih-alih di tempatkan di ruang VVIP seperti kebanyakan kalangan atas lainnya, direktur malah memberikan akses ke sebuah ruangan yang cukup megah dan tentu saja dengan fasilitas kesehatan yang memadai di dalamnya. Ruangan itu berada di lantai teratas rumah sakit.
Abdi datang, pembesuk pertama hari itu.
"Maaf pak, atas kecerobohan saya bapak tidak bisa mengetahui kabar ini lebih cepat" sesal Abdi.
"Kita sama-sama bersalah, Abdi. Ini teguran untuk kita." kata Renal bijak.
Abdi melihat ke arah gadis yang masih betah menutup matanya.
"Hal lain yang saya sesalkan, saya bergerak sangat lambat dalam kasus ini. Seseorang lebih dulu menangani kasus ini, tapi belum ada laporan yang sampai pada pihak kepolisian."
"Kenapa bisa sampai begitu?" heran Abdi.
"Bisa jadi orang yang mencelakai nona kecil bukan dari kalangan biasa" Abdi menduga.
Renal mengangguk.
"Saya akan meminta bantuan bang Mika. Kamu tolong handle pekerjaan saya"
"Baik pak. Kalau begitu saya permisi" pamit Abdi.
"Terima kasih, Abdi" ucap Renal tulus sambil mengantar kepergian asistennya.
Renal kembali duduk di kursi dekat brankar Athena. Anak gadisnya tertidur begitu nyenyak. Kepalanya yang mengalami keretakan kembali di perban. Ia pasti akan menangis saat melihat dirinya nanti. Di bagian betis dan lengannya juga nampak banyak luka. Ada yang cukup dalam dan ada yang hanya berupa goresan. Entah dengan cara apa penjahat itu menyiksa anaknya, apa salah gadis kecil di depannya ini. Renal hanya bisa berharap Mika bisa membantunya.