Renalda

Renalda
Pulau F (2)



Setelah membagikan hadiah kecil-kecilan untuk para krucils yang menggemaskan, mereka diminta oleh pak kades untuk bertamu ke rumahnya.


Tanpa pikir panjang mereka mengiyakan. Alda sudah berkeringat, tak lagi secantik tadi.


"Silahkan diminum" pak kades mempersilahkan mereka untuk minum kopi dan juga makan singkong rebus.


Alda lupa kapan terakhir kali makan singkong rebus yang begitu enak jika dicocol dengan saus tomat yang ditumbuk halus dengan cabe, bawang merah dan bawang putih. Ia tanpa sungkan tapi tetap sopan memakan singkong rebus dengan lahap.


Saat sedang seru-serunya berbincang, sebuah suara terdengar. Gendang yang dipukul menghasilkan nada yang cukup khas.


"Ada acara yah pak?" tanya Mika.


"Iya. Lima rumah dari sini sedang hajatan. Anaknya nikah. Kalau kalian mau, ayo ikut bapak lihat proses adat disini" ajak pak kades.


Mika melihat Rafa, Angga, Randi dan Alda secara bergantian. Semuanya mengangguk. Masih ada waktu.


"Boleh pak" kata Mika.


Mereka berjalan ke rumah warga yang pak kades sebut tadi. Orang-orang berbaris rapi. Para perempuan menggunakan sarung tenun khas setempat dengan baju yang disebut baju bodo. Para lelaki juga mengenakan sarung tenun dan baju labbu yang berwarna hitam.


Seorang perempuan membawa dupa, yang baunya cukup harum. Dibelakangnya dua orang laki-laki masing-masing memikul ujung bambu di bahunya. Dimana bambu tersebut digantung beberapa buah sarung.


Randi yang begitu suka memotret tentu saja mengabadikan hal tersebut.


Katanya, mereka akan ke rumah tetangga. Di rumah tetangga tersebut mereka akan melakukan sedikit ritual. Dimana para anak gadis akan diberi daun yang sudah ditumbuk pada kedua telapak tangannya, pelipis kini dan kanannya juga pada dahi mereka. Setelah semuanya selesai, mereka kembali ke rumah yang punya pesta.


Rangkain masih belum berhenti sampai disana. Mereka kembali melanjutkan ritual setelah menjemput yang punya rumah dan keluarganya dan dibawa ke tempat yang lapang.


Disana sudah ada seekor kerbau, tiga orang penari dan tentu saja puluhan warga yang juga ikut menyaksikan. Gendang masih terus dimainkan, dipadu dengan gong. Tiga orang penari menari, sesekali mereka bernyanyi dengan suara yang bisa membuat Alda merinding.


Gendang berhenti. Tetua desa duduk diatas tikar, berhadapan dengan keluarga yang punya acara. Bau dupa kembali tercium, tetua tersebut sepertinya membaca sesuatu. Kemudian memegang kening satu persatu dari ayah, ibu hingga anak-anak yang punya acara.


Setelah selesai, gendang dan gong kembali dimainkan. penari kembali menari, sebelum berjalan mengelilingi kerbau. Ayah, ibu dan anak-anak nya yang duduk ditukar tadi, ikut mengelilingi kerbau, juga beberapa sanak saudara mereka. Kerbau dikelilingi sebanyak 7 kali sebelum disembelih.


Acara masih berlangsung. Sebuah alu panjang yang terbuat dari kayu dikelilingi oleh para sanak saudara pemilik acara. Masing-masing ditangannya memegang sebuah kayu yang digunakan untuk menumbuk padi yang ada di dalam alu. Irama dari gendang dan gong menyatu dengan irama pertemuan antara penumbuk dan alu. Menghasilkan melodi yang tak biasa.


"Terima kasih pak kades sudah menerima kami dengan baik" kata Mika mewakili semuanya.


"Seharusnya saya yang bilang terima kasih. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk berkunjung ke desa kami" pak Kades mengantar mereka hingga ke dermaga.


"Beberapa hari lagi mungkin ada sembako yang bakal datang. Kami meminta kepada pak kades untuk membagikan kepada pada warga" Mika memberitahu.


"Terima kasih sekali lagi. Semoga kesehatan selalu bersama kalian" kata pak Kades yang tidak tahu lagi harus berkata apa.


Mereka benar-benar totalitas.