Renalda

Renalda
Terima Kasih



Setelah berkumpul menceritakan segala hal yang terjadi hari ini, Athena dan Nevan kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.


Alda dan juga Renal memasuki kamarnya. Alda membawa Renal menuju balkon kamar, disana sudah tersedia teh hangat juga cookies yang Alda buat siang tadi.


Alda duduk sambil bersandar di dada bidang suaminya. Langit cukup cerah malam ini, ada banyak bintang yang menghiasi angkasa.


"Kamu tahu love at first sight?" tanya Alda.


Renal mengangguk.


"Kamu percaya?"


Renal kembali mengangguk.


"I think I'm fall in love, at first sight. Saat itu masih abu-abu, belum jelas apakah itu cinta atau sekedar rasa penasaran." Alda bercerita.


Renal memeluk bahu istrinya.


"Who is?"


"Is you" jawab Alda tanpa pikir panjang.


"Emang iya?" kaget Renal.


Alda mengangguk.


"Aku hidup selama 15 tahun saat itu, dan belum pernah sepenasaran itu terhadap lawan jenis. Entah karena Mika dan lain-lain yang selalu bersamaku, atau mungkin karena mereka memang tidak semenarik kamu. Kamu natap aku kayak teduh banget, menenangkan gitu, tapi ada ketegasan juga."


Mika makin mengeratkan pelukannya. Menanti kelanjutan cerita sang istri.


"Mika nyuruh aku nunggu 4 bulan untuk benar-benar mastiin perasaan aku, apakah cinta atau penasaran. Empat bulan berlalu, dan kamu masih membuat aku kepikiran. Mika nyaranin untuk tetap diam, gak boleh bilang kalau aku suka kamu" lanjut Alda.


"Kenapa bang Mika larang?"


"You know, perempuan dan segala harga dirinya adalah nomor satu baginya. Apalagi saat itu status kamu terikat dalam perjodohan dengan Angel. Hal itu yang buat Mika makin protective."


"Kamu tahu nggak, cinta pertama ku siapa?" tanya Renal setelah mendengar cerita istrinya.


"Who?"


"Siapa Ren?" desak Alda.


"Renalda Arunika Atmadja" jawab Renal.


"Seperti cerita kamu tadi, dari pihak aku hampir sama. Bedanya adalah aku yang terlalu pengecut untuk ngungkapin perasaan aku. Dengan alasan kamu sulit sekali dibaca, entah dari ekspresi ataupun gesture tubuh, selain itu tentu saja karena kamu adalah tawanan dari orang-orang tampan dan juga tajir. Circle kamu benar-benar bikin aku insecure. " cerita Renal.


"Saat itu aku ngikutin alur aja. Kata mama, segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan." ucap Alda.


"Benar, Tuhan kembali mempertemukan kita pas sudah sama-sama dewasa" kata Renal.


"Dan yang lebih dahsyatnya lagi, Tuhan menyatukan kita, kedua keluarga besar kita, menitipkan kita Athena dan Nevan." sambung Alda.


"Kamu pernah nyesal suka sama aku?" tanya Renal.


Alda menggeleng.


"Bahkan saat ada berita aku tunangan sama Angel?"


Alda mengangguk.


"Saat itu yang emosi malah Mika dan yang lain. Aku nangis aja di kamar" akui Alda dan diakhiri kekehan kecil.


"Maaf yah udah buat kamu nangis." ucap Renal sambil mencium rambut istrinya yang beraroma stroberi.


"Aku aja yang masih lebay saat itu. Maklumlah masih 17 tahun" kata Alda.


Renal mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih sudah jatuh cinta sama aku, terima kasih telah menjaga hatimu hingga jatuh kepadaku untuk yang pertama kali. Terima kasih tak terhingga sudah bersedia menamaniku melangkah, menerima segala kekuranganku, memaklumi segala kesalahanku." ucap Renal tulus.


Alda mengusap air matanya yang jatuh. Ia masih kadang tidak percaya akan dibersamakan dengan Renal, junior nya di masa sekolah. Pemilik tatapan yang teduh juga tegas, yang sikapnya tak terbaca.


Ia memeluk suaminya erat.


"Terima kasih sudah bersedia melanjutkan hidup bersamaku, dibebani tanggung jawab untuk menghidupiku dan anak-anak. Terima kasih, Ren sudah kembali" kata Alda.


Renal mencium kening istrinya cukup lama.