
Sepulang dari kota A, sikap Alda yang dulu cuek kini makin menjadi. Ia tetap menjadi staf di rumah sakit milik keluarganya. Ia meminta Alexia untuk membantu Brian, sementara mbak Ni ia minta tetap di rumah membantu yang lain. Siapa tahu Athena pulang dan Alda tak perlu mencari nanny baru karena Mbak Ni masih bersamanya.
Alda pulang pergi menggunakan transportasi yang bisa dipesan di sebuah aplikasi. Alih-alih meminta sopir mengantarnya, ia bahkan beberapa kali terlihat jalan kaki ke halte untuk menunggu bis. Tidak banyak yang mempertanyakan kehidupan Alda. Tidak banyak juga yang berhasil dekat dengannya. Hanya Mia. Mia adalah salah satu teman angkatan nya di Maheswari. Mia kuliah mengambil jurusan keperawatan.
Tentang Alda yang hanya lulusan SMA menjadi tanda tanya dibenak yang lain, kecuali Mia tentu saja. Bukan hal yang baru baginya melihat Alda hidup seperti sekarang. Hidup seolah tidak mampu padahal ia adalah seorang putri dari Arunika.
"Punya orang dalam Al disini?" tanya salah satu temannya. Namanya Aira. Yang menurut Alda orangnya rada gak suka sama dirinya.
Alda mengangguk.
"Kebetulan kakaknya temanku punya kenalan disini. Pas aku tanya kerjaan, beliau dengan senang hati membantu" jawab Alda.
Aira mengangguk pongah.
"Kamu masuknya lewat seleksi?" tanya Alda basa basi.
Aira mengangguk.
"Seleksi, tapi sekaligus dibantu orang dalam juga" jujur Sri.
Kini Alda kebetulan kebagian shift pagi bareng Aira. Sementara Mia kebagian shift sore.
Mereka sedang senggang. Tidak ada jadwal operasi saat ini, makanya mereka masih bisa sekedar bercakap.
"Gue dengar Lo lanjut shift sore yah selama Ayu cuti?"
"Iya, Aira. Lagian aku gak ada kesibukan lain." jawab Alda.
"Orang tua Lo dimana emangnya? Mereka gak komplain anaknya kerja dari pagi hingga malam?"
"Mereka tinggal di kota A. Aku memilih merantau kesini." jawab Alda.
"Lho, Alda?" Alda baru saja keluar dari lift. Jam kerjanya sudah selesai. Ia berpapasan dengan Andini yang kini terlihat begitu cantik.
"Hai, Andini" sapa Alda ramah.
"Ngapain Lo disini?" tanya Andini.
"Kerja" jawab Alda singkat.
"Papa Lo udah gak anggap Lo lagi? Akhirnya Mika dan kawan-kawan sadar karena sudah memelihara benalu seperti Lo" ucap Andini kasar sambil memandang Alda remeh.
Beberapa orang berlalu lalang disekitar mereka. Alda bisa menebak jika berita ini pasti tersebar begitu cepat.
"Up to you" kata Alda singkat sebelum meninggalkan Andini.
Mood Alda kian hancur. Sudah lama ia tak bertemu Andini, dan ketika mereka bertemu Andini masih orang yang sama, masih suka memandang rendah dirinya.
"Nona baik-baik saja?" tanya Alexia yang begitu mengerti menjemput nonanya menggunakan angkot berserta sopirnya.
"Aku baik-baik saja , Alexia. Tolong cari tahu kenapa Andini datang ke rumah sakit." perintah Alda.
Alexia mengangguk.
"Kepala bidang bagian penunjang adalah kekasih dari Andini, nona" beritahu Alexia.
"Keren juga seleranya. Kepala bidang, posisi yang cukup bagus. Tapi ini sudah malam, aku yakin kantor sudah tutup." kata Alda.
"Kepala bagian penunjang sedang jatuh sakit, nona. Dan Andini datang untuk membesuknya"
Alda mengangguk mengerti. Bukan hal yang rumit bagi seorang Andini untuk dekat dengan seorang petinggi di Arunika Hospital. Andini begitu cantik. Tinggi semampai, kulitnya putih, wajahnya juga terpahat pas. Tapi sayang, mulutnya masih kasar.