Renalda

Renalda
Peyut Mama cakit



Menjelang hari persalinan Alda, ia diminta oleh Aina untuk tinggal sementara di rumahnya. Sebenarnya Dina juga melakukan hal yang sama, tapi dengan penuh kelembutan Renal menolak halus permintaan sang mama. Apalagi Dina juga ada Angel, Rian dan bayinya. Saat Angel diminta untuk tinggal di rumah Rian, Dina melarangnya. Bukannya apa, ia sudah tua, dan ingin menghabiskan waktunya bersama sang cucu. Apalagi Rian juga masih mempunyai dua orang saudara lain yang bisa menemani orang tuanya.


Alda sedang duduk berselonjor di dekat tempat tidur yang ada di lantai satu. Ia sengaja menempati kamar di lantai satu karena merasa kelelahan jika harus naik turun tangga.


"Ciaaan ucing" celoteh Athena saat melihat si kucing lurus bagai kertas karena tersetrika.


"Kasihan yah The kucingnya" kata Alda.


The mengangguk tapi tetap fokus pada acara nontonnya.


"The, sini deh. Adeknya nendang nendang" Panggil Alda.


Athena mendekat ke Alda. Ia ikut memegang perut Alda yang bergerak dari dalam.


"Huwaaa, geyak" takjub Athena. Ini bukan yang pertama kali, tapi bayi itu selalu takjub.


"Adiknya gerak yah nak yah. Sayang adik nggak?" tanya Alda.


"Cayang. Muahh" Athena mencium perut Alda yang dilapisi baju.


Alda masih mengelus perutnya. Ia merasakan sakit yang tidak seperti biasanya.


"Mama cakit?" tanya Athena yang melihat ekspresi meringis Alda.


"Panggil Oma, boleh?" tanya Alda lembut sambil mengelus kepala Athena.


Athena berdiri dari duduknya. Dengan langkah kecil ia meninggalkan kamar yang Alda tempati.


"Omaaa"


"Omaaa Naaaa"


Athena berjalan ke arah ruang tamu.


"Omaaa" teriak Athena histeris.


"Kenapa sayang?" tanya Aina yang baru saja dari taman.


Aina segera memasuki kamar anaknya. Anaknya benar-benar kesakitan. Ia dengan cepat menelpon Renal dan suaminya. Ia juga meminta supir keluarga untuk bersiap.


"The, Oma ke rumah sakit dulu yah nak. Adiknya mau keluar. The sama Oma Karina di rumah. Nanti bakal ada Tante Ivana sama mbak Ni juga kok" jelas Aina.


The mengangguk. Tapi mukanya sudah tidak normal. Wajahnya sudah memerah menahan tangis.


"Cian mama cakit" katanya pada Karina.


"Iya, mamanya sakit, tapi nanti bakal sehat lagi kok. The berdoa yah nak yah. Tahu kan yah caranya berdoa gimana?" tanya Karina.


Athena mengusap air matanya.


"Dil gud. Aamiin" katanya pelan.


"Huwaaaaa mama" tangis Athena yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah juga. Karina menepuk pelan pundak cicitnya. Cicitnya ini begitu perasa, mamanya yang kesakitan, ia yang menangis.


"Lhoo, cucunya opa kenapa ini?" tanya Hans yang baru saja dari bermain golf. Tubuh tuanya perlu banyak olahraga.


"Ciaaaaan, peyut mama cakit. Tuyung tuyung" adu Athena sambil mengusap air matanya.


Hans menggendong tubuh gempal cicitnya.


"Lho, nanti pinggangnya retak itu" khawatir Karina.


Hans terkekeh mendengar peringatan istrinya.


"Cucu opa pintar kan yah. Nanti mama ditolong sama dokternya. The tahu nggak dokter itu apa?" tanya Hans yang mencoba mengalihkan perhatian Athena.


"Dottel paki baaaju pucih, ada hayo hayo di yeher na. Bawa cuntik"


"Wahh, pintar nih cucu opa. Nah, nanti dokternya yang tolong mamanya Athena. Athena di rumah yah sama opa, sama Oma, sambil nunggu Tante Ivana, Mbak Ni, Arvin dan Arion datang" kata Hans.


"Vin cama Yon datang?"


"Yah datang dong. Ayo, sini duduk dekat Oma. Opanya mau mandi dulu" Karina meminta Hans mendudukkan Athena disampingnya. Kasihan suaminya jika harus menggendong Athena lebih lama.