
Jum'at sore Alda meninggalkan rumahnya setelah mengantongi izin dari sang papa terkeren sepanjang masa, Lathief Arunika. Ia ke bandara diantar oleh Mika, tentu saja Brandon ikut tapi dengan jarak aman. Brian tidak ikut karna ia tengah membantu Lathief untuk mengurus peresmian rumah sakitnya.
Alda berencana untuk me time. Ia akan menyusuri kota C yang terkenal dengan keindahan pantainya.
"Finally, bisa rebahan" monolog Alda sambil merebahkan dirinya.
Ia menatap sekeliling ruangan. Kamarnya cukup luas. Di sudut ruangan terdapat pintu kamar mandi. Juga jendela yang cukup lebar dan tentu saja balkon yang langsung mengarah ke pantai.
Tak lupa Alda melapor pada keluarganya untuk memberi tahu jika ia sudah sampai dengan selamat di kota C. Meskipun ia tahu, Brandon sudah melapor terlebih dulu kepada sang papa.
Alda terbangun saat hari sudah malam. Ia membersihkan diri kemudian turun untuk makan malam. Banyak hal yang membuat Alda begitu bersyukur menjadi seorang Arunika, salah satunya adalah di kota C ada beberapa villa yang menjadi asset dari Arunika's Group. Terutama tempat yang sedang ia naungi sekarang. Villa ini seperti rumah bagi Alda dan keluarga. Jika berkunjung ke kota C, maka ia dan keluarga memilih untuk bernaung disini. Alih-alih membeli rumah di kota C, Lathief lebih memilih membangun beberapa villa di kota ini.
"Budhee" Alda memekik senang melihat seorang perempuan yang tengah menyiapkan makan malam.
"Non Alda" Budhe Ina tersenyum menyambut pelukan dari nonanya.
"Maaf yah, tadi budhee gak nyambut non Alda." ucapnya.
"Gak apa-apa budhe. Budhe sehat?" tanya Alda.
"Sehat non. Den dan nyonya gimana kabarnya? Den Mika juga sehat?" tanya Budhe Ina bertubi-tubi.
"Sehat semua, budhe." jawab Alda.
"Makan gih non. Budhe panggil Brandon dulu"
Alda duduk. Ia menunggu Brandon untuk menemaninya makan malam.
Brandon datang dengan muka bantalnya. Rupanya ia juga tertidur.
"Jelek amat itu muka." cibir Alda.
"Makasih, cantik" sarkas Brian lalu makan.
Alda hanya mencebikkan bibirnya kesal.
Setelah makan Alda mencuci piringnya, membersihkan meja kemudian membuat coklat panas untuk dirinya. Tak lupa ia juga membuat kopi untuk Brandon.
"Makasih doang? Bayar dong" sarkas Alda kemudian duduk disebelah Brandon.
Brandon mengelus kepala Alda.
"Tanggal tua nih. Belum gajian aku"
"Yeuhh sok miskin" cibir Alda.
"Emang miskin. Miskin akhlak"
Alda menggeplak kepala Brandon.
"Syukurlah, sadar diri ternyata"
"Gimana dengan Renal sekarang?" tanya Brandon.
Alda menghela nafasnya.
"Yah gak apa-apa"
"Hati kamu gimana?"
"Dibilang utuh yah pasti nggak. Tapi it's okay. Biarkan semuanya mengalir seperti seharusnya. Gak ada Renal kan ada Brandon" jawab Alda sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tangan Brandon spontan menjitak kepala Alda.
"Gue serius juga"
"Yah gak apa-apa sih. Santai aku mah." seloroh Alda santai.
Brandon cukup kagum dengan gadis disampingnya. Setelah ibunya meninggal, ia dan kembarannya dibawah ke negara ini oleh ayahnya. Ayahnya bekerja dengan Lathief sudah lama. Bahkan kakeknya juga merupakan tangan kanan kakek Alda dulu. Kini ayahnya diberi kepercayaan untuk memimpin salah satu cabang dari Arunika's Group. Sedangkan ia dan sang kembaran dipercaya untuk menjaga Alda dan Mika. Sedangkan Jake, ia dulunya anak jalanan yang sering sikembar temui di tempat penampungan sampah. Sekitar sebulan Lathief meminta ayahnya Brandon untuk mengintai kegiatan si kembar saat bertemu Jake, Lathief memutuskan untuk membesarkan Jake dibawah tangan Abraham, ayah Brandon dan Brian. Jadilah Abraham membesarkan 3 anak lelaki sekaligus.
Di saat Alda dan Mika beserta keempat sahabatnya bersekolah di sekolah elit, mereka bertiga justru dikirim ke asrama taruna. Umur Alda dan Mika setahun lebih muda dari mereka bertiga.