
Renal melihat istrinya yang sedang duduk sambil bersandar di sofa. Alda masih belum tidur, padahal ini sudah pukul 1 dini hari.
"Kamu tidur gih!" perintah Renal.
Alda menoleh ke arah Renal. Itu adalah serangkaian kalimat pertama yang ia dengar sejak kejadian tadi siang.
"Kamu dulu aja yang istirahat. Aku belum ada lihat kamu makan" kata Alda.
Renal berdiri dari duduknya. Ia berjalan ke sofa dan duduk disamping Alda.
"Cukup Athena yang sakit, Al. Kamu jangan, dedeknya juga jangan. Kamu tidur yah, kasihan dedeknya belum istirahat" ucap Renal lembut.
Alda menangis.
"Maafin aku karena udah lalai jagain Athena" kata Alda.
Renal mengangguk.
"Lain kali Athena gak boleh ikut kamu kalau aku gak ada" kata Renal tegas.
Alda mengangguk dengan cepat.
"Kamu gak boleh bawa Athena kemana-mana. Atau kalau kamu gak bisa, kamu ngomong sama aku."
Alda lagi-lagi hanya bisa mengangguk.
Renal mengelus kepala Alda. Ia lalu mengubah sofa itu menjadi bed.
"Kamu tidur yah" ucapnya pelan.
"Kamu makan dulu" Alda menunjuk kotak makan yang dibawa Aina.
Renal menggeleng.
"Aku masih gak bisa makan" katanya.
Alda mengerti. Renal sebegitu sayangnya kepada Athena. Anak itu bahkan mampu merepotkan orang-orang penting dunia hanya karena golongan darahnya yang langka. Athena begitu beruntung disayangi oleh banyak orang.
Alda berbaring di sofa bed. Ia mengelus perutnya, yang kebetulan tidak begitu rewel hari ini. Rupanya janinnya mengerti kalau ia sedang tidak bisa direpotkan.
"Kamu gak istirahat?" tanya Alda.
Renal menggeleng.
"Aku akan tunggu The bangun dulu" jawabnya.
Menurut penjelasan dokter, Athena akan sadar beberapa saat lagi. Kondisinya masih begitu lemah. Sungguh, ia hanya anak berusia 2 tahun 6 bulan, dan sebuah kecelakaan tragis menimpanya.
Renal mencium kening anaknya yang dililit perban.
"Cepat sembuh sayang" ucapnya lirih.
Ia lalu melipat tangannya, menjadikannya bantal. Ia duduk sambil tertidur.
Menjelang pagi, sebuah suara ringisan terdengar. Renal terbangun. Ia duduk dengan tegak, untuk memperbaiki perasaannya. Ringisan itu terdengar lagi, ia lalu menoleh ke arah Athena.
Mata Athena masih tertutup, tapi bibirnya sesekali meringis. Ia menekan tombol yang tersambung pada nurse station. Tak lama, seorang perawat dan dokter memasuki ruangan.
"Wah, anaknya hebat. Ia bisa melawan semuanya dengan baik. Darah yang dimasukkan pun diterima dengan baik oleh tubuhnya." jelas dokter tersebut.
"Tapi anak saya meringis dokter" lapor Renal.
Dokter itu mengangguk.
"Itu karena lukanya terasa sakit, pak. Perawat akan memberikan pereda sakit" kata dokter itu.
Perawat tersebut melakukan tugasnya.
"Kapan anak saya bangun?" tanya Renal.
"Sebentar lagi. Sebenarnya ia sudah sadar, karena sudah merasakan sakit. Hanya saja tubuhnya masih lemah, bahkan hanya untuk membuka matanya ia belum bisa." jelas dokter.
"Terima kasih, dokter"
Dokter tersebut mengangguk. Ia kemudian pamit.
Mendengar suara orang yang mengobrol, Alda terbangun. Ia melihat ke arah brankar.
"Kenapa, Ren? The baik-baik aja kan?"
Renal mengangguk.
"Tadi sepertinya ia merasa sangat kesakitan sampai ia meringis padahal matanya belum terbuka." jawab Renal.
Alda berdiri dari duduknya. Ia mendekati sang anak.
"Cepat bangun sayang" ucapnya kemudian mencium kedua mata anaknya.