Renalda

Renalda
Back To Arunika



Sekembalinya dari RelFath, Alda langsung meminta pada papanya untuk pindah rumah.


"Kenapa gak tinggal disini aja sih?" tanya Lathief.


"Terus ngapain papa bikin rumah banyak gitu kalau gak ditempatin?" tanya Alda balik.


"Yah kan biar anak-anak papa gak perlu mikirin rumah lagi" jawab Lathief.


"Nah, makanya. Pa, gak apa-apa yah adek misah rumah?" pinta Alda. Ia marayu papanya, nemplok di pangkuan papanya. Untung saja Renal sedang tidak ada.


"Lathief, biarin anak-anak misah rumah. Biarkan mereka belajar mandiri, mengurus rumah tangganya sendiri" kata Ares tegas.


"Tapi kan pa, nanti adek nyuekin aku. Mana rumahnya jauh lagi" keluh Lathief.


"Jauh apanya sih, nak? Orang rumahnya dekat gitu. Kamu bisa tinggal ngesot kesana" kata Hans menimpali.


"Yaudah, kamu pindah gih. Tapi Athena tinggalin sini yah?" Lathief mencoba bernegosiasi.


Alda menggeleng. Ia melepaskan pelukannya pada sang papa.


"Opa, kakek, kasih tahu papa gih" pasrah Alda sebelum meninggalkan ruang keluarga menuju taman belakang.


"Lathief, Alda bukan anak kecil lagi lho. Dia punya suami sekarang. Biarin yah dia tinggal di rumahnya sendiri" Hans mencoba memberi pengertian pada menantunya.


"Nanti rumah sepi, aba" ucap Lathief pelan.


"Nak, dari kecil kita didik anak-anak untuk kita lepas. Sekarang sudah waktunya kamu melepas Alda, seperti abamu yang melepas Aina dulu. Rumah gak bakal sepi, ada papa, mama, aba dan Umma mu" jelas Ares panjang kali lebar.


Lathief mengangguk. Sudah seharusnya ia melepas putrinya. Putrinya bukan lagi miliknya setelah ia memberinya kepada Renal beberapa hari yang lalu. Sudah waktunya anak-anaknya mandiri. Mika juga sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Sementara Alda meminta pisah rumah. Alda akan menempati rumah 03. Persis di depan rumah Mika. Renal sebenarnya meminta untuk membangun rumah baru, rumah impian Alda, tapi Lathief menolak dengan keras. Alda pun tentu tak tega menolak permintaan sang papa.


Setelah Lathief menyetujui permintaan sang anak, Alda kini disibukkan dengan pemilihan furniture yang akan mengisi kekosongan rumahnya. Ares dan Hans dengan tegas akan membiayai semua jenis furniture yang cucunya inginkan.


"Opa, kakek, Renal bisa kok beli ini itu" kata Renal.


Ares menggeleng.


"Anggap aja hadiah dari dua orang tua ini"


Hans menyetujui ucapan Ares.


Tak butuh waktu lama, rumahnya sudah bisa ditinggali. Alda mengadakan syukuran kecil-kecilan. Sekalian perayaan ulang tahun Athena yang sempat dilupakan.


"Ma, au cue" Athena meminta kue yang tadi baru dipotong.


Alda memberikannya.


"Athena memang suka kue yah, Al?" tanya Angel.


Alda mengangguk.


"Harus punya stok kue atau pudding gitu"


"Aku gak sabar juga pengen punya anak" Dian mengelus perutnya yang sudah membesar.


"Kapan HPL nya kak?" tanya Angel.


"Bulan depan, pertengahan tanggal" jawab Dian.


"Kamu deg-degan gak?" tanya Alda.


"Kadang takut gitu. Tapi Sandi selalu nenangin." jawab Dian.


"Angel sudah berapa bulan?" tanya Alda.


"Masuk bulan ke 5 kak" jawab Angel.


"Maaf, telat" ucap seseorang yang terlihat cantik meski wajahnya pucat.


Alda berdiri, mempersilahkan iparnya untuk segera duduk.


"Pucat banget" kata Alda.


Ivana mengangguk.


"Yang masuk bakal keluar lagi" katanya.


"Kalau Angel gak gitu. Malah pengen ngunyah terus" kata Angel.


Alda takjub akan 3 orang ibu hamil di depannya.


"Bentar lagi Athena bakal punya banyak adik ini" kata Alda girang.


"Ma, dek?" oceh Athena.


Alda mengangguk.


"Lihat, Tante Ivana, Tante Angel sama Tante Dian lagi hamil, nanti adiknya Kakak ada 3" jelas Alda.


Athena mengangguk, seolah mengerti ucapan Alda.


"Num" tunjuknya.


Alda mengambil minum untuk Athena.


"Al, boleh gak Athena aku bawa? Aku kyaknya ngidam tidur bareng Athena" ucap Ivana pelan.


Alda diam mendengarkan permintaan sang ipar.


"kak, mau nggak tidur bareng papa sama Tante Ivana?" tanya Alda.


"Cama papa Ka?"


Alda mengangguk.


"Sama Tante Ivana juga"


Athena mengangguk.


"Kalau udah sore, balikin yah." Alda menyetujui.


Ivana bergegas berdiri. Memanggil Mika. Hari masih siang, masih jam 11 siang.


"Pulang yuk, bawa Athena. Aku ngantuk, pengen tidur bareng Athena" kata Ivana pada Mika.


Mika mengangguk. Ia tentu saja paham, Ivana sedang mengidam.


"Pulangnya kalau udah sore" Alda mengingatkan.


"Pelit banget" cibir Mika, tapi tetap mencium kening Alda sebelum pergi.


Angga yang melihat kepergian Mika jadi bertanya-tanya.


"Kemana Lo Ka?" tanya nya.


"Pulang lah." jawab Mika.


"Apa pula ini?" bingung Angga.


"Ivana lagi ngidam. Pengen tidur bareng Athena." jawab Alda yang mengantar minum ke meja depan.


"Lhoo"


"Gak usah panik gitu. Entar juga tahu kalau udah pada punya istri" nyinyir Alda pada Angga dan Randi.


"Aku dari tadi diam lho, Al" kata Randi.


"Tapikan kamu juga belum nikah"


"Iya, nanti." pasrah Randi.


Renal sungguh takjub akan istrinya. Orang sekelas Randi aja akan kicep jika Alda ngomong.