
Saat menjelang siang, Alex, Rian dan Sandi datang membesuk The. Dian dan Angel tidak ikut karena anak mereka masih kecil.
"Sempat banget kesini. Gak sibuk Lo pada?" tanya Renal.
Ketiganya menggeleng.
"Lo kapan wisuda Lex? tanya Renal lagi.
"Santailah Ren. Masih pengen gue jadi mahasiswa" jawab Alex.
"Rian dah punya baby, Renal juga dah punya The, dan bentar lagi jadi bapak dua anak. Gue juga udah baby, dan Lo masih pengen jadi mahasiswa? Nikah sana!" suruh Sandi.
"Selowww" ucap Alex sambil menyeruput minuman kaleng yang ada diatas meja.
Alex lalu berdiri, berjalan mendekati brankar The.
"Nyenyak banget tidurnya"
"Iya, Lex. Tadi habis makan dan minum obat, makanya tidurnya nyenyak" jelas Alda.
"Lekas sehat baby The" Alex mencium pipi anak kecil itu.
Renal dengan tega menarik kuping Alex untuk menjauhkannya dari anaknya.
"Jangan cium-cium anak gue deh" galak Renal.
Alex memutar bola matanya. Sementara yang lain hanya terkikik kecil.
"Posesif amat jadi bapak" seloroh Alex yang kembali duduk di sofa.
"Anak gadis itu, gak boleh dicium sembarangan"
"Astaga Ren. Gue ini teman lo kalau Lo lupa. The juga masih bayik gitu" Alex melakukan pembelaan.
Renal menggeleng. Gak mau tahu.
"Pokoknya gak boleh"
"Yang punya anak gadis damage nya beda yah?" celetuk Rian.
"Tergantung sih. Kalau gue b aja." kata Sandi.
"Heuhh, anak Lo masih kecil sih." sarkas Renal.
"Pernah gue ke kantornya ini orang, ehh gue dengar karyawannya lagi bisik-bisik, ternyata bossnya galak, sampai marahin kepala divisi yang ikut rapat karena ngeliat The pas lagi kakinya dinaikkan ke atas meja" Alex membuka kartu.
"The pakai rok yah, makanya gue marah. Enak bener lagi rapat malah liatin anak gue" kata Renal bersungut-sungut.
Sementara Alda yang mendengarnya, menahan senyumnya. Renal segitu sayangnya sama The. Ia sendiri bahkan didiemin kemarin.
"Selamat siang, tuan" sapa Abdi.
Renal mengangguk. Ia mengikuti Abdi untuk berjalan keluar ruangan. Abdi memberikan sebuah berkas pada Renal. Renal membacanya dengan teliti.
"Jadi orang itu menyerahkan dirinya sendiri ke kantor polisi?"
Abdi mengangguk.
"Seperti yang tertera disitu, pemuda itu buru-buru karena sedang membawa obat ibunya yang sedang kritis. Ternyata saat sampai di rumahnya, ibunya sudah meninggal. Setelah pemakaman ibunya, ia menyerahkan dirinya sendiri ke polisi" jelas Abdi.
"Kasihan sekali orang ini" kata Renal.
Kemarin saat Alda menerima telpon, The melihat seorang penjual balon udara. Ada banyak karakter yang ia lihat, mulai dari kartun, bola, kapal, sapi hingga pesawat. Dengan langkah kecilnya Athena mengikuti penjual balon itu. Saat akan ikut menyebrang, sebuah motor melaju kencang dan menabrak tubuh mungil itu.
"Biarkan dia menjalani hukumannya. Biar jadi pelajaran, apapun yang terjadi, keselamatan diri sendiri dan orang juga penting" putus Renal.
Abdi mengangguk. Ia pamit untuk segera kembali ke kantor, menggantikan Renal.
"Gimana Ren?" tanya Rian.
"Udah didapat" jawab Renal.
Sandi melihat jam tangannya. Ia harus segera pamit.
"Ren, gue pamit dulu yah. Dian minta untuk makan siang di rumah."
Renal mengangguk.
"Gue juga deh. Mau pulang dulu, rindu anak soalnya" kata Rian.
Alex mengelus dadanya dramatis.
"Sabar sabar" katanya.
Semuanya terkekeh melihat kelakuan absurd dari Alex.
"Gue juga pamit dah" kata Alex.
Renal mengantar mereka hingga depan pintu.
"Terima kasih udah datang besuk The" katanya.
Yang dibalas tepukan di bahunya oleh Sandi.