Renalda

Renalda
Pulang



Mika baru saja mengkonfirmasi kepulangan mereka di base camp. Tak lupa ia memberi buah tangan yang diantar oleh Jake siang tadi.


Jake, orang yang dikirim Lathief untuk Mika. Ia datang membawa mobil Mika untuk dikendarai bersama yang lain.


"Renal, Sandi, kalian ikut kita aja" usul Randi.


"Gak usah, kak. Ini gue udah telpon papa kok" Kata Mika.


Mika mengangguk mengerti.


Tak lama kemudian, sebuah Wrangler Rubicon datang. Renal menyapa orang yang membawanya kemudian menaikkan barang-barang nya .


"Bang, kak Alda, gue dan Sandi pamit yah. Terimakasih untuk trip yang gak disengaja ini" ucap Renal berhigh five dengan Mika, Randi, Rafa dan Angga. Diikuti oleh Sandi.


Saat sampai didepan Alda, Renal tersenyum dan mengelus puncak kepala Alda. "Thank you" katanya.


Alda tersenyum. "Hati-hati di jalan" katanya.


"Bang, kak Alda, kami pamit yah. Sampai jumpa di sekolah" Pamit Sandi dan Renal kemudian berjalan menuju Jeep yang sudah menunggunya.


Setelah mobil yang membawa adik kelasnya berjalan, Alda, Mika, Randi, Angga dan Rafa menaiki mobil. Dimobil tersebut sudah ada Jake yang siap mengantar mereka ke puncak.


"Brian dan Brandon, gimana?" tanya Mika yang belum melihat keberadaan pengawal yang mengikutinya.


"Mereka sudah di base camp, kak. Sebentar lagi mereka nyusul. Lagian mereka bawa mobil." jawab Jake.


Mika duduk di depan bersama Jake, di belakangnya ada Alda dan Rafa, kemudian Angga dan Randi. Sementara barang-barangnya sudah tertata rapi di bagian belakang mobil yang terbuka.


Perjalanan menuju puncak cukup lama. Nampak Alda sudah tertidur bersandar di pundak Rafa. Dengan telaten Rafa memperbaiki posisi Alda, kemudian merangkulnya agar tidak terjatuh.


Keadaan mobil hening. Selain karena para anak muda sedang lelah, Jake pun bukan orang yang banyak bicara.


"Dek, bangun" Mika membangun kan sang adik. Rafa sudah berjalan memasuki villa diikuti Angga dan Randi.


Alda membuka matanya yang terasa sangat berat. Ia merentangkan tangannya. Mengerti kode sang adik, dengan segera Mika menggendong Alda ala koala. Alda melingkarkan kakinya di pinggang sang kakak, menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak.


Para orang tua yang melihat pemandangan kembar Arunika itupun cukup takjub. Sejak kecil dan entah sampai kapan mereka selalu begini. Alda yang selalu manja kepada sang kakak, juga Mika yang selalu menyayangi sang adik.


"Simpan di kamar mama aja, kak" kata Aina. Ia mambuka pintu kamarnya yang terletak di dekat tangga.


Mika membaringkan adiknya. Membuka sepatu sang adik, juga sepatunya. Kemudian ikut merebahkan badannya di samping sang adik.


Sementara sofa bed yang ada di ruang keluarga sudah di kuasai oleh Rafa, Randi dan Angga.


Melihat para anak-anak sudah pulang dalam keadaan baik-baik saja, para orang tua bernapas lega. Meskipun mereka pergi diikuti Brian dan Brandon, tetap saja mereka khawatir. Di alam, segala hal bisa terjadi. Apalagi kemarin Lathief mengatakan kalau disana sempat terjadi badai.


Aina kembali memasak makan malam dibantu Priska. Sementara Dina dan Aruni membuat cookies. Dan Rina sibuk memotong buah yang ia ambil di kebun belakang villa.


"Enak bener tinggal disini. Pengen makan anggur yah tinggal petik." kata Rina.


"Aku tunggu papanya Randi pensiun baru deh cari rumah di pedesaan." kata Priska.


Mendengar celetukan Aina, mata keempat ibu rumah tangga itu berbinar.


"Aku juga yah, Na" kata Rina.


"Aku juga deh" Arwini juga berminat.


Aina terkekeh.


"Terus yang bakal nempatin rumah kalian dia Arunika's, siapa?" tanya Aina.


"Anak-anak lah" kompak Arwini, Rina, dan Priska.


✨✨✨


Makan malam sebentar lagi dimulai. Alda sedang membantu para mama menyiapkan makan malam. Sementara Mika, Angga, Rafa dan Randi sedang bercerita tentang pengalaman mereka bersama para lelaki.


Lathief membuka sebuah folder yang ada di iPad nya. Disana nampak foto-foto anak mereka bersama dengan dua orang adik kelasnya.






James berdecak kagum melihat potret anak-anak mereka.


"Anak gadisku keren banget, sih" katanya.


"Anak gadis kita, yah" pertegas Lathief, Arwan dan Erlan.


James mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.


"Makan malamnya udah siap" kata Alda di pintu pembatas antara ruang keluarga dan dapur.


Mendengar pengumuman dari Alda, semua lelaki berdiri. Berjalan menuju meja makan.


Makan malam berlalu. Mereka kemudian berkumpul di taman dekat villa. Dari taman ini, nampak lampu-lampu rumah menerangi sepanjang jalan, pun dengan kendaraan yang terlihat sangat kecil.


Alda bersandar di dada sang papa, Lathief. Membuat Arwan, Erlan dan James menatap mereka sengsara.


"Enak bener dikekepin anak gadis" celetuk Erlan.


Latief terkekeh mendengar celetukan Erlan. Alda berdiri mencium satu persatu pipi para kepala tersebut.


"Adek gabung sama kakak aja deh sebelum jadi tahanan para orang tua" katanya kemudian berjalan meninggalkan perkumpulan para papa.


"Kamu sih, Lan." cibir Arwan.