
Setelah bermain jetski sore tadi, kini kapal kembali berlayar ke pulau sebuah kecil. Katanya pulau itu milik tetua sultan Arunika. Di saat orang lain berpikir kota A adalah kota maju, orang- orang yang tinggal di pulau ini akan tertawa. Pulaunya mungkin tidak besar, tapi gedung-gedung pencakar langit berdiri kokoh di pulau itu, masyakarat nya sejahtera. Restoran, hotel serta pusat perbelanjaan tersusun begitu rapi. Rumah sakit dan sekolahnya begitu membuat orang berdecak kagum.
Tidak banyak pribumi yang tinggal di pulau. Hanya sekitar 30% pribumi, sedangkan yang lainnya adalah pendatang. Pulau tersebut dibeli oleh tetua Arunika saat terjadi pembantaian. Konon katanya orang disini begitu tertekan membayar pajak, menyetor hasil pertanian juga hasil laut untuk para penjarah. Hingga tetua Arunika berinisiatif membeli pulau ini dan isinya.
Pemerintah lepas tangan atas pulau tersebut, sebab itulah terjadi pembantaian. Terjadi kesepakatan agar pemerintah tidak ikut campur atas pulau tersebut jika para tetua berhasil memiliki nya. Jadilah pulau itu sah atas nama RelFath. RelFath hanya sebuah nama samaran dari Arunika, agar tidak diketahui orang-orang.
Pembangunan perlahan berjalan. Dari generasi ke generasi selanjutnya saling menopang melanjutkan pembangunan, hingga pada saat Ares yang memimpin, pembangunan ini dinyatakan selesai. Tidak ada lagi pembantaian, tidak ada lagi penjarahan. Orang pribumi hidup dengan semestinya, seperti manusia pada dasarnya.
"Kita mau kemana bang Jake?" tanya Alda yang sedang duduk di deck kapal sambil menikmati paparan sinar matahari pagi.
"Ke pulau, dek" jawab Jake sekenanya.
"Pulaunya cantik gak?" Tanya Alda yang masih penasaran.
"Lebih dari cantik, dek" jawab Jake.
"Abang pernah kesana?"
Jake mengangguk. Ia pernah ke pulau tersebut saat usianya 17 tahun, bersama Brian dan Brandon. Menunggu 17 tahun rasanya begitu worth it kala kakinya pertama kali menginjak pulau itu. Keindahan alam yang dipadukan dengan seni buatan manusia begitu memikat mata.
"Abang kesana bareng Brian dan Brandon, ditemani tuan Ares dan ayah" jawab Jake.
Alda mengangguk.
"Tuan Ares dan tuan Hans serta nenek dan Oma sudah ada di pulau RelFath, dek. Beliau berangkat sehari setelah adek berulang tahun." Jake kembali bersuara.
"Alda kira mereka ke kota C, ternyata ke pulau itu yah" kata Alda.
Satu persatu mulai terbangun dari tidurnya. Alda kembali masuk ke kapal, memeluk Mika yang sedang bermain PlayStation dengan Brandon.
"Adek ngantuk hmm?" Tanya Mika.
Alda mengangguk.
"Alda kenapa , Ka?" Tanya Angga yang melihat Alda berada di gendongan Mika.
"Tadi bangunnya kepagian. Sekarang malah ngantuk" jawab Mika sebelum membuka pintu bilik Alda.
Dengan telaten Mika menidurkan adiknya, mengelus kepalanya hingga Alda berada di alam mimpi. Ia menyalakan pendingin ruangan untuk adiknya agar tidurnya nyenyak. Langit begitu bersih hari ini, panas begitu menyengat apalagi saat berdiri di deck kapal.
"Adek udah makan kan, bang Jake?" tanya Mika yang mengambil posisi duduk disebelah Jake.
Jake mengangguk.
"Tadi saya dan nona sudah sarapan, kak"
"Bang Jake, kak Brian dan kak Brandon kok gak ikut?" tanya Angga. Ia jarang melihat kedua orang itu ikut bersamanya, padahal ia tahu betul kalau Brian dan Brandon adalah PA nya Alda, tapi gak pernah terpakai. Kebanyakan nganggur dua orang itu.
"Brian sekarang ini sedang KOAS, bentar lagi dapat gelas dokter. Sedangkan Brandon sibuk ngurus thesis nya." jelas Jake.
"Kalau bang Jake, gimana?" tanya Mika.
"Abang tunggu Kakak dulu selesai sarjananya, supaya nanti bisa lanjut master bersamaan" jawab Jake.
"Maafin Mika dan Alda yah bang Jake. Pendidikan bang Jake terpaksa harus dipending" ucap Mika tak enak.
Jake terkekeh.
"Alasannya bukan hanya itu, kak. Rumah sakit sudah jadi, sudah diresmikan, dan tentu saja ia butuh pemimpin. Adek milih gap year, satu-satunya harapan ada pada Brian karna ia sekolah dibidang tersebut. Tentang manajemen, ia mengikuti private course. Sedangkan Brandon, Pak Lathief beberapa waktu lalu habis akusisi perusahaan yang bikin bahan makanan setengah jadi, jadilah Brandon diminta lanjut sekolah lebih dulu ketimbang saya. Lain daripada itu, setelah lulus sarjana kemarin, selain menjaga kakak dan adek, saya juga kadang ikut dengan pak Lathief ke pulau RelFath untuk berlatih." jelas Jake.
"RelFath. What a beautiful name" kagum Randi.