
Pos 9
"1 jam 15 menit matahari akan tenggelam. Ada yang pengen ikut liat senja di puncak?" tanya Mika yang sudah siap dengan perlengkapan seadanya menuju puncak.
Alda tentu saja ikut. Ia sudah berdiri di dekat sang kakak.
"Gue ikutlah." Angga berdiri.
"Gue juga ikutlah" Randi keluar dari tenda membawa kameranya.
"Gue nggak deh. Gua jaga tenda aja. Besok masih ke puncak, kan?" Tanya Rafa.
Mika mengangguk. Ia melihat ke arah dua orang adik kelasnya.
Seakan mengerti tatapan sang senior, Renal berdiri "gue ikut, bang" katanya. Kemudian ia menoleh ke arah Sandi.
"Gue jaga tenda aja bang, pegel." kata Sandi.
"Dedek kakak, ngadep sini dong" kata Randi.
Seakan mengerti aba-aba dari sang sahabat, Mika merangkul pundak sang adik. Sementara Alda melingkarkan tangannya di pinggang sang kakak. Mereka tersenyum ke arah kamera.
"What a beautiful picture" puji Randi.
"Siniiii, Alda pengen liat" Alda berjalan mendekati Randi. Ia melihat hasil jepretan Randi dengan puas.
Pemandangan di pos 9 memang keren. Hampir sama dengan di puncak. Dari sini mereka bisa melihat jalan yang mereka lewati kemarin. Hutan, bunga edelweis juga tebing dari lembah-lembah.
Sampai sekarang, Alda selalu merasa mimpi bisa berjalan sejauh ini. Melewati tebing yang curam, lembah, landai, jika cuaca sedang buruk, beberapa kali mereka menjumpai badai.
"Raf, Sandi, jagain tenda yah" Kata Mika.
Keduanya mengangguk.
"Hati-hati kalian" ucap Rafa.
Mereka kembali berjalan. Di tengah jalan, tiba-tiba cuaca buruk. Mendung, kemudian hujan. Tak lama setelahnya angin berhembus dengan kencang.
Mika sudah memegang erat sang adik.
"Kita balik" kata Angga.
Tanpa perdebatan mereka memutar arah kembali ke pos 9. Pakaian Alda, Mika, Randi, Angga dan Renal sudah basah kuyup. Mereka berjalan dengan sangat pelan, jalanan sangat licin.
Sesampainya di tenda mereka langsung berganti pakaian.
Setelah hujan reda, Alda membuat kopi untuk semuanya. Sementara Mika menyiapkan makan malam. Menu makan malam kali ini adalah Indomie rebus dan ceplok telor. Makanan khas para pendaki.
Dinginnya angin malam, harum tanah setelah hujan, hangatnya tiap tetesan kopi menjadi hal yang selalu dirindukan.
Alda duduk diapit oleh Mika dan Renal. Randi dan Angga, sedangkan Sandi dan Rafa di matras lain.
"Sering ke gunung, Ren?" tanya Mika.
"Gak terlalu, bang. Sandi sih yang sering" jawabnya.
Mika mengangguk.
"Kalau abang-abang dan kak Alda sering ke gunung?" tanya Sandi.
"Kalau ekspedisi seperti ini jarang sih. Kalau ke bukit-bukit untuk sekedar menghirup udara segar yah sering. Atau kalau lagi rindu ke puncak dan waktunya gak pas, yah paling ke bukit-bukit gitu" jawab Randi.
Sandi mengangguk mengerti.
Alda, Mika, Rafa, Randi dan Angga mengangguk kompak.
"Waaah" takjub Randi dan Sandi dengan persahabatan kakak kelas mereka.
"Kak Alda sering rewel gak?" tanya Sandi menggoda Alda.
Alda yang merasa Sandi menggoda nya pun melemparkan permennya ke Sandi.
Dengan cepat Sandi menangkapnya kemudian melahapnya.
"22 jam jalan sama Alda, Lo ngerasa dia rewel, gak?" tanya Randi.
Sandi menggeleng. Sejak bertemu nya mereka kemarin malam, ia tak pernah sekalipun mendengar rengekan Alda, mengeluh pun tak pernah.
"Main TOD ku kuyy" seru Alda.
Ia berdiri mengambil ponselnya. Membuka aplikasi yang biasanya digunakan oleh para mama saat arisan.
"Oke, Alda putar yah" katanya.
Semua mata fokus ke arah ponsel Alda.
Tanda panah berhenti di nama Mika.
"Truth or dare?" tanya Alda.
"Truth lahh" jawab Mika.
"Bang Mika sayang banget yah sama kak Alda?" tanya Sandi. Kemudian melihat ke arah Renal. Ia seakan mengode untuk mendengarkan jawaban Mika.
Renal dan Sandi menatap Mika. Menanti jawaban yang akan keluar dari mulutnya.
"Sayang banget lah. Alda itu sebagiannya gue" jawab Mika enteng tanpa memperdulikan perasaan seseorang yang duduk disisi lain sang adik. Alda yang mendengar jawaban sang kakak tanpa aba-aba memeluk pinggang sang kakak.
Sementara Renal yang mendengarnya cukup kaget. Hatinya mencelos. Sandi turut prihatin terhadap sahabatnya.
Angga, Rafa dan Randi terkekeh mendengar jawaban tetangganya tersebut. Emang bener separuhnya Mika yah Alda. Sejak masih jaman dalam kandungan mereka berbagi. Separuh untuk Mika dan separuh untuk Alda.
"Lanjut pak ekooo!" Rafa kembali mengambil alih permainan.
Anak panah merah itu menunjuk nama Renal.
"Truth" kata Renal cepat.
Semuanya terkekeh mendengar ucapan Renal.
"Lo lagi suka sama seseorang?" tanya Mika.
Renal cukup terkejut mendengar pertanyaan ini, apalagi ditanyakan langsung oleh Mika. Orang yg tidak terlalu senang dengan urusan orang lain.
"Iya. Sedang suka dengan seseorang" jawab Mika.
"Tapi sayang ceweknya sudah punya cowok lain" Sandi dan mulut lemesnya.
"Wahh, kasian nih bocah" Rafa heboh
Dengan ekspresi mengasihi Angga menepuk pelan pundak Renal, "sebelum janur kuning melengkung, jangan putus asa" katanya.
Mika dan Alda saling berbicara lewat tatapan setelah mendengar jawaban Renal. Dengan lembut Mika mengelus puncak kepala sang adik, seolah mengatakan 'sabar' .
Permainan berlanjut hingga pukul 11 malam. Rafa yang memilih dare pun kena batunya. Ia diminta untuk membereskan alat makan mereka.