
Renal memasuki rumahnya. Tadi ia sudah mendapat laporan dari salah satu penjaga saat Athena ingin ke rumah mertuanya. Tak lama setelah ia mendapatkan laporan, pemberitahuan lain datang, Athena dibawa oleh kedua mertuanya ke puncak.
"Athena gak sama kamu?" todong Alda saat melihat suaminya memasuki rumah.
Renal menggeleng.
"Tadi kata mbak dia lapar, terus dikasih bubur ayam. Habis itu mbaknya gak liat Athena lagi." jelas Alda.
Raut wajahnya sudah tidak karuan. Ada kesedihan juga kegelisahan disana.
"The tadi minta ke rumah Oma dan opa. Makanya diantar sama penjaga kesananya" jelas Renal. Ia duduk disamping sang istri. Sesekali mengajak Nevan berbicara.
"Lho, kok bisa?" kaget Alda.
"Gak mau ketemu kamu kalii" goda Renal.
Rupanya godaan Renal diambil hati oleh Alda. Sang istri sudah menangis.
"Ehh, aku bercanda lho" Renal memeluk Alda. Menenangkan istrinya.
"Aku jahat banget. The aja sampai kabur" lirih Alda.
Renal menggeleng.
"Mungkin tadi ia hanya iseng. Lagian kamu gak perlu khawatir, anak kita baik-baik aja"
"Aku belum ada ngomong sama dia sehari ini"
"Nanti kalau udah pulang, kamu ngomong deh sepuasnya" kata Renal.
Alda mengangguk. Ia akan menunggu putrinya pulang, ia akan meminta maaf dan akan berceloteh lagi sama Athena nya.
Nevan yang sedang tiduran di karpet menunjuk TV besar yang ada di depan mereka.
Alda yang mengerti pun, mulai menyalakan TV dan mencari saluran yang menayangkan si tikus dan si kucing.
"Rupanya sudah ada nih yang seperti kakaknya" Renal mencium perut Nevan.
Nevan yang merasa kegelian pun tertawa.
Pintu terbuka dari luar. Nampak Mika dan Ivana masing-masing anak berada dalam gendongannya. Arvin dan Arion sudah bisa duduk. Bayi 6 bulan itu sudah tidak suka jika ditidurkan.
"Lho, ada tamu. Ada bang Arvin sama Arion" ucap Renal. Ia membantu mendudukkan Arvin dan Arion yang baru turun dari gendongan mama dan papanya.
Mika tanpa dikomando mengambil sebuah benda yang menyerupai kasur tapi full hingga sisinya, kecuali bagian atasnya. Sisi benda itu kira-kira setinggi 50 CM, yang menjadi pelindung agar anak yang duduk tidak merasakan sakit saat terjatuh.
"Abang-abang nya di dalam yah. Dedek Nevan tiduran" kata Mika.
Ivana celingukan mencari Athena.
"Kakak mana?" tanyanya.
"Ikut mama ke puncak" jawab Alda.
"Kamu habis nangis?" tanya Mika.
Renal terkekeh.
"Nangisin Athena, dia"
"Sampai segitunya Al?" tanya Ivana.
Alda mengangguk.
"Tadi anaknya ngambek."
"Kok bisa?"
"Waktu dia lagi olahraga sama Daddy nya, aku masuk bawa Nevan. Dia senang dong ada Nevan, saat The akan cium Nevan, aku teriakin. Aku larang. Kan belum cuci tangan, Keringat di wajahnya juga belum sempat ia lap. Anaknya ngambek" jelas Alda.
"Sampai kabur ke puncak. Bagus tuh" sambung Mika.
Ivana mengelus bahu iparnya.
"Nanti pasti baik lagi. Namanya juga anak-anak" kata Ivana menenangkan.
"Teriaknya gimana Ren?" tanya Mika. Ia tentu saja menggoda sang adik.
"Kayak waktu gue di MOS, bang. Besar banget. Aku aja yang lagi lari langsung berhenti" jawab Renal dramatis.
Alda memberenggut.
"Gak gitu yah" katanya.
"Kacian mommy Alda ditinggal anaknya"
Alda menjambak rambut Mika.
"Ngeselin deh" katanya.
"Aduh, sakit Al" rintih Mika yang dibuat-buat.
Alda tentu tidak benar-benar menjambak kakaknya.
"Kamu juga sih. Adiknya sedih malah digodain" Ivana membantu merapikan rambut suaminya.
"Ntar keresan tinggal sama mama. Gak mau pulang. Tinggal di rumah mama terus. Terus dapat warisan dia." ngawur Mika.
"Ngomongnyaa" Ivana menegur sang suami.
Renal melihat ke arah adiknya. Ia lalu mengacak rambut adiknya.
"Nggak deh. Nanti moodnya akak The pasti baik lagi. Terus kembali sama mommy dan daddy nya. Jangan ulang kesalahan yang sama lagi yah. Anak-anak itu titipan Tuhan yang mesti kita besarin dengan baik." jelas Mika.
Alda mengangguk.