Renalda

Renalda
Sandi's birthday



Setelah kejadian di kota C beberapa hari yang lalu, hubungan Alda dan Renal kembali seperti biasa. Seperti tidak terjadi apapun disana. Jika bertemu Renal kembali memanggil Alda dengan sebutan seperti sebelumnya bukan lagi 'kamu' .


"Alda, bentar sore temenin gue yah." pinta Dian.


"Mau kemana emang?" tanya Alda.


"Lusa malam Sandi ulang tahun. Temenin gue beliin kado yah"


Alda mengangguk.


"Yan, lulus nanti kamu bakal lanjut kemana?" tanya Alda.


Dian berpikir sejenak.


"Pengen nikah aja sih. Tapi Sandi kan masih sekolah" celoteh Dian ringan.


Alda menimpuk kepala Dian.


"Enteng banget itu mulut ngomong"


Dian hanya cengengesan.


"Gue ambil kedok deh. Coba-coba."


"Kedok bukan bahan percobaan asal kamu tahu" Alda memulai sesi ceramahnya.


"Pengen jadi dokter aku tuh. Tapi bisa gak yah?" Dian mulai ragu.


"Yan, lo sebenarnya pintar, tapi gak tekun aja."


Dian mengangkat sebelah alisnya.


"Gimana?"


"Yah, kamu cerdas. Cuman kamu gak tekun aja. Tahu yah cukup tahu, gak dicari tahu. Belajar juga yah semaunya. Tapi aku yakin deh kamu bakal jadi mahasiswa FK terus nanti jadi dokter cantik dan kaya raya." Alda menyemangati Dian.


"Habis UN gue langsung masuk akademi. Persiapan sebelum tes"


"Yahhh berarti nanti kamu bakal sibuk" ucap Alda murung.


"Nanti gue ajak ketemu deh." hibur Dian.


✨✨✨


Alda dan Dian menyusuri sebuah pusat perbelanjaan. Alda dengan pasrah ditarik kesana kemari oleh Dian.


"Gue beliin apa kira-kira untuk Sandi?" tanya Dian.


"Sepatu, Yan" Alda memberi saran.


Dian menggeleng.


"Sepatunya dia banyak banget, Al. Nyaris ganti tiap hari."


"Baju. Lo coupel-an sana"


Dian kembali menggeleng.


"Kayak bocah aja"


"Heh, lo masih 17 tahun Ferguso!" Alda mengingatkan Dian.


"Gak mau baju deh"


Alda berpikir sejenak.


"Jam tangan aja, Yan" ucapnya.


Dian memikirkan saran Alda.


"Boleh juga. Lo punya rekomendasi tempat jual jam untuk cowok?" tanya Dian.


Alda tentu saja mengangguk. Ia menarik Dian menuju salah satu stand yang ada dipusat perbelanjaan tersebut.


Pegawai yang bertugas membungkuk melihat Alda memasuki stand.


"Selamat datang, non" sapanya.


Alda tersenyum.


"Hai, Ardi. Alda minta tolong dong tunjukin jam unik"


Ardi, sang pegawai mengangguk. Ia keluar membawa dua jam tangan yang cukup mewah.




Dian berdecak kagum melihat kemewahan jam tangan yang baru dibawa oleh pegawai tadi.


"Gimana, Yan?" tanya Alda


"Keren banget, Al" jawab Dian singkat karna masih kagum melihat jam tangan itu.


"Kamu pilih gih. Yang paling cocok dengan your boyfriend" goda Alda.


"Yang kombinasi biru kayaknya lebih keren dehh, Al"


Alda mengangguk mengiyakan.


Diam-diam ia mengirim pesan pada Mika untuk memotong sebagian harga jam tangan tersebut.


"Kak, temannya Alda pilih yang ini" ucap Alda pada Ardi.


Dian memberikan kartu kredit nya untuk menyelesaikan transaksi.


Tak menunggu lama, sebuah pesan masuk ke ponsel Dian. Ia heran, jam tangan tadi harganya segitu, kok tagihannya cuma senganu.


"Kak, lagi diskon yah tokonya?" tanya Dian polos.


Alda pura-pura gak tahu.


"Iya, mbak" jawab Ardi singkat sambil melihat nonanya.


"Udah kan, Yan?" tanya Alda.


Dian mengangguk.


"Terimakasih, kak Ardi" ucap Alda.


"Sama-sama, non" balas Ardi.


Alda menyeret Dian ke sebuah resto untuk makan malam.


"Alda lapar, Yan" ucapnya sambil cengengesan.


"Pesan gih!"


Alda memesan makanan untuk dirinya dan Dian, kemudian kembali duduk dimeja pojok resto.


"Mas tadi kayaknya sopan banget ke kamu, Al" kata Dian setelah sekian lama.


"B aja tuh" jawab Alda acuh.


"Kayaknya lo sering banget kesana, yah"


Alda mengangguk.


"Tapi kok gue dapat diskon sampai setengah harga sih?" Dian kembali mengingat hal tadi.


"Entahlah."


Mereka kemudian makan dengan tenang. Lalu buru-buru untuk pulang karna sebentar lagi gerbang asrama akan dikunci.


✨✨✨


Pesta ulang tahun Sandi telah tiba. Ia hanya mengundang beberapa orang. Renal, Alex, Rian, Rafa, Alda, Mika, Angga, Randi, Dian dan beberap teman basket dan teman kelasnya.


"Lo gak bawa Angel, Ren?" tanya Rian.


Renal menggeleng.


"Angel bareng bang Randi."


"Lha kok bisa?"


"Angel pernah nebeng di mobil bang Randi beberapa pekan kemarin. Kadang ketemu waktu joging juga dan you know lah gimana perkembangannya" jelas Renal.


"Lo baik-baik ajakan?" tanya Alex.


Renal mengangguk.


"Angel itu kayak adek gue sendiri. Gue gak pernah mandang dia sebagai seorang wanita"


"Gue kira" timpal Alex dan Rian.


Setelah semua tamunya datang, Sandi meniup lilin diiringi dengan nyanyian ulang tahun oleh yang lain.


"Kakak, emang Rendi dan Angel lagi deket yah?" bisik Alda pada Mika.


Mika memandang kearah Randi yang sedang tertawa dengan Angel.


"Sepertinya." jawab Mika.


"Angel bentar lagi jadi tunangan orang lho ini" Alda mengingatkan.


Mika hanya menghela nafasnya.


"Kok kakak bisa lupa yah. Entar deh kita ingatin Randi barengan"


Alda hanya mengangguk.


Malam sudah larut. Sebelum pulang Angga memberikan sebuah kotak kepada Sandi sebagai kado. Di bagian luar kotak tersebut tertulis "Alda & friends" .


"Apasih bang, ngasih kado segala?" ucap Sandi sungkan.


"Terima aja dehh" saran Rafa.


"Kalo Sandi gak mau, biar gue aja kak" kata Rian tak tahu diri.


"Yang ulang tahun siapa yang ngarep kado siapa" sarkas Dian.


"Selamat berkurang jatah hidup, Sandi." ucap Alda sambil tersenyum.


Mika juga memberikan ucapan singkat pada Sandi.


"Udah malam, kami pamit yah"


"Makasih, bang. Udah luangin waktu untuk hadir"


"Santuy lah San" kata Angga santai.


"Lo pulang bareng Angel, Ran?" tanya Rafa.


Randi mengangguk.


"Tadi berangkatnya bareng dia."


"Ren, gue liat tante Dina lagi kurang sehat. Lo gak pulang?" tanya Angel pada Renal.


"Mama sakit, Angel?" tanya Renal khawatir.


"Gue liat gak kayak biasanya aja"


"Gue pulang deh sekarang. Sandi, happy birthday bro." ucap Renal kemudian berjalan kearah mobil. Ternyata mobilnya berdekatan dengan mobil Mika.


"Semoga mamanya Renal lekas sehat, yah" ucap Alda pada Renal yang akan membuka pintu kemudi.


Renal mengangguk.


"Thanks kak Al" ucapnya.


Ketika yang lain memilih pulang, Rian dan Alex memilih untuk tidur di rumah Sandi. Saat mereka sedang rebahan di ruang keluarga, pak satpam yang bertugas di rumah Sandi datang untuk memberitahu sesuatu.


"Den Sandi, di depan ada orang yang bawa motor. Katanya buat den Sandi"


Sandi terbelalak, langsung saja ia melompat dari sofa kemudian berlari keluar memastikan ucapan satpamnya.


Benar, motor itu baru saja menginjak tanah.


"Dengan mas Sandi?" tanya seseorang yang membawa motor tersebut.


Sandi mengangguk.


"Tolong mas tanda tangan disini yah"


"Dari siapa yah mas? Masnya salah rumah kalii" Ucap Alex.


"Iya mas. Tadi bokapnya teman saya udah beri dia kado" timpal Rian.


Orang tersebut melihat nama pengirimnya.


"Dari Alda and Friends, mas" jawabnya.


"Astagfirullah" seru Rian dan Alex.


Sementara Sandi hanya mampu memijit pelipisnya.


"Mas Sandi, tolong ditanda tangani"


Sandi kemudian menandatangani suray tanda terima tersebut.


"Terimakasih, pak" ucapnya.


"Terimakasih kembali mas. Semoga panjang usia" kata orang tersebut kemudian meninggalkan kediaman Sandi.


"San, menurut lo sultan Arunika itu sekaya apa?" tanya Rian.


"Yah pasti lebih kaya dari lo, Ferguso" sarkas Alex.


"Gini yah kalau anak sultan buang duit" ucap Sandi lirih.


"BMW 1000RR cuyy." kata Alex.



"Gua juga pengen San" ucap Rian.


"Nanti lo ulang tahun, gue beliin sepeda aja yak" sarkas Sandi.