
Dibelahan bumi lainnya, Renal sedang bersitegang dengan sang Opa. Mr. Gio bersikeras untuk tetap melakukan perjodohan antara Renal dan Angel.
Angel sama frustasinya. Ia sedang memikirkan perasaan Rian di seberang sana. Sedari tadi ia menangis di kamarnya. Enggan untuk keluar kamar.
Hingga waktu makan malam tiba, mau tak mau semuanya harus berada di ruang makan. Sudah menjadi peraturan tak tertulis, harus makan bersama.
Angel dengan wajahnya yang sembab duduk di samping Dina. Dina mengelus rambut Angel. Ia mungkin tidak tahu bagaimana perasaan Angel, tapi ia cukup prihatin. Angel sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
Makan malam berlangsung mencekam. Meskipun hening tapi tetap ada suasana lain yang terasa.
"Opa tidak terima alasan. Besok kalian akan bertunangan di rumah ini. Selepas kalian tidur, para orang-orang opa akan menghias rumah ini" ucap Mr. Gio tak terbantahkan.
"Apa opa bakal usir Angel kalau Angel nolak?" tanya Angel memberanikan diri.
Mr. Gio cukup kaget mendengar pertanyaan dari Angel. Orang yang ia rawat sejak bayi. Perempuan yang ia sayangi.
"Hal itu tidak mungkin terjadi. Tapi opa bisa pastikan perusahaan papa Rian akan gulung tikar dalam waktu 2x24 jam jika kalian masih menolak" Mr. Gio mengeluarkan senjata pamungkasnya.
"OPA" teriak Angel dan Renal bersamaan.
"Opa tahu kalau Rian adalah sahabatnya Renal, opa juga tahu kalau Rian dan Angel dekat. Kalian tentu tidak ingin melihat Rian dalam kesusahan" jelas Opa sebelum meninggalkan ruang makan.
Angel kembali duduk dengan lemas. Ia tentu tidak ingin melihat sang kekasih hidup dalam kesulitan. Begitupun dengan Renal, ia juga tentu tak ingin melihat Rian menderita. Tapi tentu menerima opsi bertunangan dengan Angel juga punya resiko. Ia tidak ingin menyakiti hati sahabatnya.
Dina mengelus pundak Angel.
"Mama bakal bicara dulu dengan papa. Siapa tahu papa punya saran."
Raka menghela napasnya. Ia juga tidak tahu hendak melakukan apa. Ia sama bingungnya dengan sang istri.
"Papa juga bingung gimana caranya" frustasi Raka.
"Ini salah satu hal yang mama gak suka dari opa. Opa selalu nyetir anak-anak." Dina menangis sambil melihat halaman rumah sang mertua.
"Opa masih orang yang sama. Masih suka ngatur-ngatur kehidupan orang lain. Dulu papa yang diatur, sekarang anak-anak." Dina kembali meracau.
Benar. Apa yang istrinya katakan memang benar. Sejak dulu Raka hidup dalam pengawasan opa. Setiap langkah yang diambilnya merupakan arahan dari Mr. Gio.
Bibirnya kelu, ia tidak bisa menyanggah ucapan sang istri.
Angel lagi-lagi menangis.
Ia menelpon Rian. Dengan tersedu-sedu ia menjelaskan semuanya pada sang kekasih.
"Aku gak mau, Yan"
Rian juga tidak tahu akan berkata apa. Posisinya juga sulit. Ia tentu menyayangi Angel, tapi ia juga tidak mungkin mengorbankan perusahaan keluarganya.
"Sayang, dengerin aku baik-baik. Ini hanya pertunangan, bukan pernikahan. Kamu ikuti dulu kemauan opa kamu, habis itu kita cari jalan keluarnya sama-sama. Aku tahu betul, Renal juga pasti menolak pertunangan ini. Habis ini aku telpon Renal." Rian mencoba peruntungan. Mengikuti kemauan Mr. Gio untuk saat ini.
Menolak pun percuma, pendekor sudah datang dari tadi. Taman rumah Mr. Gio sudah nampak cantik meskipun belum selesai semuanya.
"kamu baik-baik yah. Aku tunggu kamu pulang. See you soon."
Angel mematikan telponnya. Setidaknya hatinya sedikit tenang setelah menjelaskan situasinya pada Rian. Ia tak perlu takut Rian akan salah paham.
Matanya kian berat, tak lama alam mimpi menguasai dirinya.