
Pagi pagi sekali Renal mendapat telpon dari Dina, katanya Oma Luna sudah menghembuskan napas terakhirnya. Kediaman Raka Maheswari ramai didatangi oleh pelayat. Renal cukup terpukul mendengar kabar kematian itu. Angel jangan ditanya lagi. Sejak ia bangun dan hendak membangunkan sang Oma, ia begitu terkejut mendapati sang Oma sudah susah mengambil napas. Angel berteriak, memanggil papa, mama dan Rian.
Angel sangat terpukul, Luna itu bagai mamanya. Orang tua itu yang merawatnya sejak kepergian mamanya. Sejak tadi ia menangis.
Alda duduk disampingnya, mengelus bahu Angel.
"Pemakamannya sudah siap" bisik Lathief ke Raka.
Raka mengangguk. Ia meminta istri dan anak-anaknya mengucapkan selamat jalan untuk terakhir kalinya. Alda memapah Angel yang ternyata cukup susah. Angel sedang hamil besar, perkiraan lahirannya beberapa hari lagi. Ia mesti hati-hati jika melangkah, apalagi sekarang ia juga tengah hamil muda.
Satu persatu pamit untuk meninggalkan area pemakaman. Hanya tersisa Aina, Lathief, Alda, Renal, Angel, Rian, Raka dan Dina.
Angel yang semula jongkok langsung duduk saat merasakan sakit pada perutnya.
"Mamaaaa, tolong" Angel memegang perutnya, berharap sakitnya segera hilang.
Dina kaget, ia kemudian duduk disamping Angel.
"Dina, ketubannya Angel pecah. Bawa ke rumah sakit cepet!" Seru Aina.
Rian dengan cepat mengangkat Angel menuju mobil, dan mengemudikannya dengan cepat. Ia tidak mempunyai waktu untuk sekedar menuggu Dina maupun Raka. Yang terpenting adalah Angel dan bayinya tetap selamat.
Saat sampai di rumah sakit, kesadaran Angel hilang, ia jatuh pingsan.
"Gimana, Yan?" Tanya Raka yang baru saja datang bersama Dina.
Rian menggeleng.
"Keluarga Angel" panggil seorang perawat.
Rian, Dina dan Raka segera berlari.
"Kami harus melakukan tindakan Caesareon Section pada ibu Angel, jika bapak dan ibu setuju, tolong ditandatangani dan urus administrasi dengan cepat"
Rian tanpa pikir panjang segera menandatangani surat persetujuan itu.
"Lakukan yang terbaik." Kata Raka pada perawat tersebut.
"Kamu temani Rian disini, aku urus administrasi nya dulu" lanjut Raka.
Dina mengangguk. Ia ikut duduk disamping menantunya.
"Iya, mama tahu. Ia begitu terpukul karena kepergian Oma. Semoga kejadian yang dulu tidak terjadi lagi" kata Dina dengan penuh harap.
"Kejadian apa, ma?"
"Ibu Angel meninggal saat melahirkan Angel. Ibunya juga begitu terpukul atas kepergian suaminya saat menyelamatkan opa" Dina menceritakan kejadian dulu.
"Angel akan baik-baik aja. Ada kita semua yang akan mendoakannya" Raka menenangkan istri dan menantunya.
Waktu berjalan begitu lambat saat ini. Terhitung 2 jam sejak Angel diberikan tindakan, belum ada informasi lanjut dari dokter maupun perawat. Rian berjalan kesana-kemari, tidak pernah merasa tenang.
"Lo duduk deh, Yan" suruh Renal yang belum lama datangnya.
Rian hanya menghela napasnya, kembali hilir mudik.
"Alda gak kesini?" Tanya Dina.
Renal menggeleng.
"Mood Athena lagi gak baik, ia gak biarin Alda kemana-mana. Mungkin karena tadi pagi ia belum melihat mamanya" jawab Renal.
Dina tersenyum kecil. Ia membayangkan wajah Athena yang begitu menggemaskan. Apalagi sekarang cucunya yang lain juga sedang berusaha melihat dunia.
Pintu terbuka, seorang dokter dan perawat mengikutinya.
"Bapak Rian?" Tanya dokter itu.
Rian mengangguk.
"Selamat atas kelahiran putra anda. Ibu dan bayinya baik-baik saja." Kata dokter itu.
Dina, Raka dan Renal turut senang.
"Terima kasih dokter" kata Raka.
"Bayinya akan dibersihkan terlebih dahulu, dan ibunya masih di ruang pemulihan." Jelas dokter itu sebelum pamit.
"Selamat, Yan. Udah jadi ayah sekarang" Renal memberikan selamat kepada sahabatnya.
Keadaan berbalik dengan cepat. Baru tadi pagi Tuhan memanggil Oma Luna untuk kembali, kini Tuhan juga mengirimkan sosok baru dalam kehidupan Angel.