
Matahari sore sebentar lagi akan mencapai posisi terbaik. Separuh matahari sudah tenggelam oleh laut (Yang orang lihat dari daratan).
Alda dengan gaun selututnya yang berwarna hitam, juga high heels berwarna senada. Rambut panjangnya ia gerai ditambah dengan dua jepitan yang menghiasinya, tangannya membawa clutch berwarna maroon. Kulit putihnya terlihat begitu serasi mengenakan semua itu.
Sementara para lelaki sepakat menggunakan celana jeans, kaos putih yang dilengkapi dengan jas. Mika menggunakan jas warna navy, jas Angga berwarna maroon sedangkan Randi dan Rafa berwarna hitam.
"Ran, foto dong" pinta Alda.
Randi menyiapkan kameranya, tak lupa tripod nya. Ia menyetel kameranya dengan cepat.
Alda mengambil posisi paling tengah, disebelah kanannya ada Mika dan Angga, disebelah kirinya ada Rafa dan Randi.
"Tiap 5 detik ganti pose" beritahu Randi.
Pose pertama masih normal, Alda dengan senyum manisnya, yang lain dengan senyum coolnya. Pose kedua masing-masing mengangkat jari hingga membentuk V. Pose ketiga, Rafa sudah bertingkah absurd, ia mengecup pipi Alda, sedangkan Angga memeletkan lidahnya. Pose ke empat makin menggila, masing-masing memasang wajah konyolnya. Berbagai pose mereka abadikan. Langit jingga menjadi background terbaiknya.
"Kok tiap foto dengan senja hasilnya selalu bagus gitu yah?" tanya Alda.
"The power of twilight" ujar Randi.
Restoran sudah diservasi atas nama Mika. Jadilah mereka hanya mengikuti instruksi dari pegawai menuju meja yang sudah dipesan.
Langit malam begitu indah. Kerlap kerlip bintang menghias angkasa.
" Selfie kuy" kata Alda.
Alda dengan sukarela berada paling depan, memegang ponselnya. Mika duduk dibelakang Alda sambil memeluk bahu adiknya. Angga, Rafa dan Randi berdiri sambil saling berangkulan.
rnaldaaa Dinner with the boys
Mkalfth dan lainnya menyukai
diaaaan kece badai selalu
awwww friendship goals. Never die kyaknya
acccc panutanQ
realaccount Rafaaa, aku padamu ♥️♥️♥️
second_account Lope Lope diudara
akukamu the real of 'berkelas'
rnaldaaa rindu @diaaaan 🥲
Alda menyimpan ponselnya saat makanan sudah dihidangkan. Mereka makan dengan tenang, menikmati hembusan angin malam yang menerpa bahu Alda yang terekspos.
Mika melepaskan jasnya, menyampirkan pada bahu adiknya. Mika, si tenang, kadang bikin kesel tapi sayaaang banget.
"Mau juga dong dikasih jasnya" Rafa memulai perkara.
Randi tanpa komando menjitak jidat Rafa.
"Napa dehh Ran, hobi banget jitak gue?" emosi Rafa.
Randi memperlihatkan telapak tangannya. Sebuah bangkai nyamuk yang menjadi korban keganasan telapak tangan Randi.
"Makanya Raf, banyakin positif thinking. Kotor bener pikirannya" ceramah Mika.
"Otaknya minta disedot, Ka" Angga memanasi suasana.
"Tega bener" Ngenes Rafa.
Semuanya terkekeh mendengar lirihan Rafa.
"Jaman berubah, hidup juga ikut berubah. Dulu jaman SMA mentok makan di cafe atau resto deket deket sekolah, sekarang sudah ada perkembangan, makan di restoran bintang-bintang yang harus direservasi jauh-jauh hari dulu" Randi mengenang kebiasaan mereka jaman SMA.
"Yo man. Mentok liburan di puncak, di villanya om Lathief. Sekarang liburannya keliling negara, mana pake yacht pulak" Rafa ikut berbicara.
"Resiko punya teman yang pura-pura miskin tapi ternyata sultan" Angga secara tak langsung memaki Mika.
"Bukan pura-pura miskin sih. You know lah, anak SMA kebutuhan nya itu itu aja, tinggal juga masih bareng orang tua, makanya kebebasan yang dikasih itu gak banyak. Lo pada juga tahukan gue dan Alda gimana, kalau ada yah ada, gak pernah nyari yang gak ada. Gue pikir Lo pada juga pada pura-pura miskin. Enak bener sejak SMA nebeng dimobil gue padahal punya Lambu sendiri di garasi rumah" Mika membalik keadaan setelah puas berceramah.
"Anak hukum kalau ngomong suka balikin keadaan amat yah ,Raf" kata Angga.
Selain mengambil jurusan bisnis manajemen, Mika juga mengambil ilmu hukum. Itulah sebabnya Alda kadang ditinggal sendiri di rumah.
"Yoo, man. Damage nya wuarrrrr biasa" Rafa mengiyakan ucapan Angga.
Alda sibuk dengan ponselnya.
Ia beberapa kali mengerutkan kening kemudian kembali sibuk dengan ponselnya.