
Alda mengantar orang tua, orang tua sahabatnya, kakak dan sahabatnya ke dermaga. Setelah berunding mereka pulang lewat jalur apa, kebanyakan memilih jalur laut.
Sekalian ngerasain naik kapal pesiarnya orang kaya, kata Erlan yang langsung dihadiahi jitakan oleh Lathief.
Alda diantar oleh Brandon yang baru saja tiba tadi sore. Brandon akan menemani Alda selama menjalani private course, sekalian belajar.
Alda memeluk satu persatu orang-orang yang disayanginya.
"Harus banget tinggal disini?" tanya Rafa yang menahan Alda dipelukannya.
Alda mengangguk.
"Demi masa depan bangsa dan negara" canda Alda.
Rafa terkekeh. Ia mengelus puncak kepala Alda.
"Sayang adek banyak banyak" ucap Mika.
"Sayang Mikaaa juga" kata Alda memeluk pinggang Mika.
"Everything will be fine, dek. Sabar aja, semua ada waktunya" pesan Mika.
"Alda mengangguk. Jangan galak galak kalau ketemu Renal." kata Alda.
Mika terkekeh.
"Paling aku bikin dia masuk IGD" canda Mika.
Alda melambaikan tangannya, melihat kapal yang pergi perlahan menjauhi dermaga.
"Yok bisa yok" canda Brandon.
Alda terkekeh.
"Brandon yang sabar yah dititipin orang kayak Alda."
"Gue tuh malah bersyukur. Biar gak dikira jomblo" Brandon menyugar rambut nya pede.
Alda sekali lagi melihat ke kapal yang membawa keluarganya pulang. Kapalnya terlihat semakin kecil, jarak mereka juga semakin jauh.
Kini ia harus melewati semuanya dengan kemandirian. Ia ingin seperti Ares yang kuat, yang dermawan, yang bijaksana, yang lembut tapi tegas dan tentu saja bermanfaat untuk orang lain.
Setahun dalam masa gap year sudah cukup untuk bersantai. Rebahan, makan, nyalon, skincare-an, main-main dan melakukan semua hal yang ia sukai.
Sekarang ia harus menempa dirinya sendiri.
Brandon menyetujui. Mereka meninggalkan dermaga.
Sementara di kapal, dalam keadaan hening.
"Incess bener jadi rakyat RelFath" lirih Rina.
"Hooh, gak ada lagi yang ngajak perang di dapur." kata Arwini.
"Pada kenapa sih? Alda ini lagi belajar lho, bukan pergi jauh. Niatnya baik." Aina mencoba memberikan pengertian.
"Terus aku gimana, Na? Randi jauh, papanya juga kadang kunjungan gitu." curhat Priska.
Aina menghela napasnya. Ia mengeluarkan 3 kotak dari paper bag yang Alda titip untuk mereka bertiga.
"Ini dari anak gadis. Masing-masing ada namanya" kata Aina.
Priska, Rina dan Arwini berlomba mengambil kontaknya masing-masing.
"Perhiasan yang tadi yah" takjub Rina.
"Gilaaa, keren banget" Arwini ikut takjub.
"Bayarnya gimana, Na?" tanya Priska yang paling waras meskipun ia juga cukup insecure melihat perhiasan yang ada di tangannya.
"Dibayar sama anak gadis kalian. Tenang, aku gak bakal tagih kalian" jawab Aina.
"Alda punya uang?" Tanya Rina.
"Papanya yang kasih. Usahanya sama Randi juga lumayan." jawab Aina.
"Lah iyaa, usahanya anak-anak gimana yah?" tanya Arwini.
"Lumayanlah. Sekali dapat bisa ratusan perorang. Hasil bersih itu" Priska juga tahu perihal itu ternyata.
"Tapi aku gak yakin kalung ini kurang dari setengah M?" terka Arwini.
Aina terkekeh.
"Alda cuman bayar setengah nya aja. Itupun cuman paksaan. Sebenarnya pemilik tokonya tidak mau mengambil bayaran yang Alda kasih. Tapi setelah dipaksa beliau menerima dengan syarat bayarnya setengah aja" jelas Aina.
"Mereka kok bisa baik gitu, Na?" tanya Rina penasaran.
"Gak tahu aku. Yang tahu mah papanya anak-anak. Hehehe" jawab Aina sambil cengengesan.