Renalda

Renalda
Hujan



Hujan turun membasahi bumi. Alda baru saja tiba di kamar asrama dengan pakaian yang basah.


"Mandi gih, Al" perintah Dian yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Alda beranjak dari duduknya, ia menuju ke kamar mandi. Tak butuh waktu banyak ia telah selesai dengan urusan membilas badannya yang habis terkena air hujan.


"Kok Lo pulangnya lama, Al?" Tanya Dian yang sedang berbaring.


"Tadi jadwal Alda piket" jawab Alda sambil mengeringkan rambutnya.


Dian mengangguk. "Lo istirahat, gih" perintahnya.


Alda menurut. Setelah rambutnya kering, ia berjalan menuju ranjang minimalis di sudut kamar. Ia menarik selimut hingga lehernya, kemudian menutup matanya yang terasa berat.


Hujan sudah berhenti beberapa saat lalu. Waktunya makan malam. Sejak tadi Dian melihat ke arah Alda yang belum ada tanda-tanda ia akan bangun. Karena sudah tak sabar, Dian perlahan mendekat ke tempat tidur Alda.


Ia menyibak selimut Alda, hingga hawa panas ia rasakan pada tangannya.


"Al..,. Al, bangun" Dian dengan tenang mencoba membangunkan Alda.


"Al, bangun" dari suaranya Dian mulai panik.


"Al... Al.. bangun Al" Dian mulai terisak.


Mendengar suara orang lain yang membangunnya, Alda mulai terusik. Perlahan matanya terbuka. Ia melihat Dian yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Kenapa, Yan?" Tanya Alda.


"Badan kamu panas, Al" jawab Dian.


Alda terkekeh mendengar jawaban Dian. "Emang tiap Alda habis kena hujan bakal demam gini. Tapi gak usah khawatir." Alda mencoba menenangkan Dian.


Dian mengangguk. "Sekarang sudah waktunya makan malam. Lo tunggu disini, gue ke ruang makan dulu ambil makan" ucap Dian.


"Maaf yah, ngerepotin." Alda tak enak hati.


Dian berjalan keluar, tak lupa ia menutup pintu. Dengan gerakan super cepat ia mengambil makanan untuk dirinya dan untuk Alda.


"Yang, kok telat?" Tanya Sandi yang sudah berdiri di dekat Dian.


"Alda lagi demam. Badannya panas. Tadi aku bangunin dia dulu." Jawab Dian.


"Aku gak apa-apa kan makan di kamar dulu?" Tanya Dian.


Sandi mengangguk. " Gak apa-apa. Habis makan, aku dan yang lain ke teras kamar kamu." Jawab Sandi.


"Yaudah, aku ke kamar dulu. Kasian Alda belum makan" Dian berjalan dengan cepat.


Setelah melihat Dian pergi, Sandi kembali ke meja yang sudah ada teman-temannya disana.


"Kak Dian kenapa ,San?" Tanya Renal.


"Dia buru-buru. Kak Alda lagi sakit" jawab Sandi.


"Kakak gemesh gue sakit apa, San?" Tanya Alex heboh.


"Dia demam. Tapi abis kena hujan" jawab Sandi.


Renal berdiri dari duduknya. " Gue duluan" pamitnya.


Tanpa menunggu lama ia berjalan ke arah dimana Alda berada.


Tok tok tok


Ia mengetuk pintu. Hingga Dian membuka pintu. Tanpa ba-bi-bu ia berjalan masuk.


"Kak Al, sakit?" Tanya Renal dengan wajahnya yang terlihat khawatir.


Alda yang melihat Renal duduk di kursi dekat tempat tidurnya pun tersenyum. "Cuma demam kok" jawabnya.


Renal mengangguk.


"Ren, boleh minta tolong, gak?" Tanya Dian yang masih memegang piring yang berisi makanan milik Alda.


Renal menoleh ke arah Dian. "Kenapa, kak?" Tanyanya.


"Lo suapin Alda dulu, yah. Gue pamit ke kamar mandi" jawab Dian.


"Yaudah kak, sana gih" Renal mengambil piring di tangan Dian.


Tanpa menunggu lama Dian mengacir ke kamar mandi.


"Aku bisa makan sendiri kok, Ren" ucap Alda menyodorkan tangannya, seolah meminta piring itu dari Renal.


Renal menggeleng. "Gak. Gue yang suapin Lo kak." Renal tak mau dibantah.


Karna perutnya yang sedari tadi lapar minta diisi, Alda mengangguk pasrah. Ia menerima suapan dari Renal.


"Renal udah makan?" Tanya Alda di sela kunyahan nya.


"Udah tadi. Sebelum kesini." Jawabnya.


"Kok Renal tau kalau aku demam?" Alda lagi-lagi bertanya.


Alda mengangguk. "Maaf yah, ngerepotin." Ucapnya tak enak hati.


Renal mengelus pucak kepala Alda. "Gak ngerepotin, kok" katanya.


Tak butuh waktu lama makanan Alda sudah habis. Dengan telaten Renal membantu Alda untuk minum.


"Kak Alda, ada obat?" Tanya Renal.


Alda mengangguk. "Minta tolong Renal ambilin di laci meja belajar." Katanya minta tolong.


Renal membuka laci yang tak jauh darinya. Di laci tersebut ia menemukan obat. Ia membuka bungkusan obat tersebut kemudian memberikannya kepada Alda.


"Al, gue telpon Mika gak, nih?" Tanya Dian.


Alda menggeleng. "Gak usah, Yan. Bentar lagi gue baikan kok" jawabnya.


"Kalau Mika ngamuk, gimana Al?" Tanya Dian, lagi.


"Gak bakal ngamuk kok." Kata Dian menenangkan.


Di pintu terlihat Sandi, Alex dan Rian berdiri.


"Boleh masuk gak, nih? " Tanya Rian.


"Masuk gih. Tadi gue udah lapor bokap" jawab Renal.


"Wehhh. Lo bilang apa sama pak Maheswari?" Tanya Sandi.


"Pa, calon mantu papa sakit. Renal dan kawan-kawan boleh gak besuk dia di asrama" dengan lancar Alex menjawab.


"Yee, ngadi-ngadi Lo" Sandi menjitak jidat Alex.


Semuanya terkekeh melihat kelakuan Alex.


"Pipi Lo kenapa merah, Al?" Tanya Dian..


Semua mata menoleh ke arah Alda. Alda meraba pipinya.


"Emang merah?" Tanyanya


.


Kepala Dian, Renal, Sandi, Alex dan Rian mengangguk.


"Alda kan lagi demam" katanya.


"Tapi tadi pipi Lo gak merah kok" kata Dian.


"Atau jangan-jangan karna ucapan Alex tadi yah. Cieelah, calon mantu bapak Maheswari" goda Rian.


"Apasih kalian" rengek Alda menutupi wajahnya dengan selimut.


Semuanya terkekeh melihat Alda. Renal yang paling dekat dengan Alda pun menarik selimut yang menutupi wajah Alda.


"Udah, buka selimutnya. Nanti Lo gak bisa napas" kata Renal.


"Alda maluu" ucapnya.


"Yah siapa tahu kan, Lo bener jadi mantunya pak Maheswari dimasa depan." Goda Renal.


"Woiii Renal ngalus woiii" heboh Rian.


"Iri aja Lo jomblo." Ledek Sandi.


"Kita mah apa Lex, cuman remahan biskuit" ucap Rian sambil memegang dadanya dramatis.


Suara tawa pun meledak di kamar itu.


Tak terasa malam jarum jam menunjuk angka sembilan.


"Kami pamit yah, kak Al, kak Dian" Alex berdiri, pamit pada dua orang kakak kelasnya. Diikuti Rian.


"Yang, aku pamit yah. Kak Al, lekas sehat" ucap Sandi.


Alda mengangguk tersenyum. "Terimakasih yah" katanya.


Renal yang masih duduk pun berdiri. "Cepet sembuh Lo, kak." Katanya sambil mengelus rambut Alda.


"Kak Dian, gue titip kak Alda" pamitnya pada Dian.


Dian mengangguk. Mengikuti ke empat pria itu sampai pintu. Setelah mengunci pintunya ia kembali menghampiri Alda.


"Maafin aku yah, udah ngerepotin" ucap Alda.


Dian terkekeh. "Apasih Al." Kata Dian.


"Lo istirahat gih. Gue cuci dulu piring bekas makan kita tadi"


Alda mengangguk. Karna efek obat tadi, ia pun kembali tertidur.