
Pagi-pagi sekali si A mengantarkan para tuan dan nonanya ke sport center di pulau. Benar-benar sport center, semua tersedia.
"Emang ini sering terpakai?" tanya Mika pada A yang menemaninya bermain golf.
"Selalu terpakai tuan." jawab A.
Mika memperhatikan sekitarnya. Hanya ada dua, Alda, Angga, Randi, Rafa, A dan orang yang mengurus tempat ini.
Menyadari kebingungan tuannya, A berinisiatif menjelaskan sedikit tentang pulau ini.
"Tuan, untuk masuk ke pulau ini harus menunggu lama. Bahkan bisa sampai 10 tahun. Orang yang masuk ke pulau ini adalah orang-orang pilihan, tidak semua bisa. Meskipun bisa, mereka harus membayar begitu mahal. Bahkan tuan dan nona sendiri harus menunggu usia 17 untuk bisa ke tempat ini" jelas A.
"Terlalu banyak hal mengejutkan yang aku dapat setelah berumur 17 tahun, A. Dan yang paling mengejutkan adalah pulau ini." curhat Mika.
"Menjadi seorang Arunika memang tidak mudah, tapi juga cukup menakjubkan. Semuanya tergantung dari cara tuan menyikapi nya" petuah A.
Alda berjalan mendekati kakaknya. Wajahnya terlihat begitu cerah karna pantulan cahaya matahari pagi dipadukan dengan keringatnya.
"Capek hmm?" tanya Mika lembut sambil menyeka keringat adiknya menggunakan tangannya.
"Kak, Rafa resek tuh gak mau kalah main basketnya" adu Alda pada kakaknya.
"Emang Angga dan Randi kemana?"
"Mereka melanjutkan tidurnya di kursi penonton" Alda mejawab pertanyaan kakaknya.
A terkekeh mendengar jawaban dari nonanya ini.
"Silahkan tuan muda menikmati waktunya dengan yang lain." A pamit.
"Kak Mikaaa, gendong" manja Alda merentangkan tangannya minta di gendong.
Mika jongkok di depan adiknya, tanda ia bersedia menggendong adiknya dari belakang.
"Mau liat balita gak Ren, Ga?" tanya Rafa dengan mimik serius.
"Mana?" kompak Randi dan Angga.
"Noh, digendongan Mika" tunjuk Rafa dengan dagunya.
Alda turun dari gendongan Mika. Tanpa aba-aba Mika menarik kuping Rafa.
"Seneng banget gangguin adek gua" omelnya.
"Canda aelaah , Ka" ringis Rafa sambil mengelus kupingnya.
"Rasain" cibir Alda.
"Berkuda yokk" ajak Angga.
"Emang ada?" tanya Mika.
Angga mengangguk.
"Gue liat di sebelah sana" katanya sambil berjalan kemudian di ikuti oleh yang lain.
Tempat penunggangan kudanya begitu mempesona. Di sudut lapangan luas ini berjejer puluhan kuda. Sedangkan arenanya mengikuti garis pantai.
"Aku bareng Mika deh" tawar Alda.
Mereka menunggangi kuda menyusuri pinggiran pantai.
"Maaf tuan dan nona, saya diminta untuk menjemput para tuan dan nona" kata A.
Mereka semua mengangguk. Mengikuti langkah A menuju mobil.
"Lhoo kok kulitnya pada gelap semua?" heran Karina melihat 5 orang remaja yang baru memasuki rumah.
"Tadi habis main di luar, Oma" jawab Alda dengan sedikit ringisan.
"Sana gih bersih bersih dulu. Habis itu makan siang" perintah Oma.
Setelah mandi, Alda memilih untuk tidur ketimbang makan siang. Badannya benar-benar terasa begitu pegal.
"Adek kalian mana?" tanya Ares saat tidak melihat cucu perempuan nya.
"Adek tidur, kek. Sepertinya ia kelelahan karna tadi terus berlari kesana-kemari" jawab Mika.
Ares mengangguk kemudian memerintahkan semuanya untuk makan.
"Kalau mau main game, kalian masuk ke ruangan yang pintunya berwarna abu-abu. Kakek dan opa masih ada pekerjaan" jelas Ares.
"Terima kasih, kakek, opa" kompak Mika, Randi, Angga dan Rafa.
Mereka menyusuri jalan yang menyerupai lorong yang terlihat di ruang keluarga. Di kedua sisi lorong itu berjejer 6 kamar, masing-masing terdiri dari 3 kamar dari sisi kiri dan kanan.
"Abu-abu kan?" tanya Mika meyakinkan.
Randi, Angga dan Rafa mengangguk.
"Lho, bukanya pake sidik jari, Ka" kaget Rafa.
"Lahh iya" Mika baru menyadari.
"Panggil A, gih" Randi memberi saran.
Sebelum salah satu dari mereka memanggil A, A datang lebih dulu menemui mereka.
"A, harus banget pintunya dibuat kayak gini?" tanya Angga.
A mengangguk.
"Tuan Mika, silahkan dibuka menggunakan sidik jari manis tangan kiri anda" perintah A.
Mika mencoba, tak butuh waktu lama pintu bergeser.
"Lah kok bisa?" heran Rafa.
"Pintunya bisa dibuka jika menggunakan sidik jari para tetua, tuan Lathief, tuan Abraham, Jake, sikembar Brian Brandon, tuan Mika dan nona Alda saja" jelas A.
"Owalaaah, bisa gitu ternyata" ucap Rafa.
"Silahkan menikmati waktunya, tuan" kata A sebelum berbalik meninggalkan mereka.
Mereka masuk ke dalam ruangan tersebut. Nampak 5 komputer besar tertempel pada dinding, juga pernak-pernik lainnya yang bisa dipastikan mereka akan betah berada di ruangan ini.
Bukan hanya itu, di sudut ruangan ada kulkas yang berisi minuman dan juga cemilan, ada sofa bed yang bisa dipakai untuk rebahan.
"Another level of surga dunia" ucap Angga kagum.
"Maiiiin kitaa" seru Rafa.