Renalda

Renalda
Twins Birthday



Di ruang keluarga nampak tawa bahagia begitu terdengar. Sekarang pukul 00:02 menit, Lathief dan Aina menyiapkan dua cake berukuran sedang untuk Mika dan Alda.


"Sekarang kakak dan adek duduk gih" perintah Aina pada twins.


Alda duduk di sofa panjang, disampingnya ada Mika.


"Madep sini, nak" perintah Lathief sambil mengarahkan kameranya.


Seakan mengerti aba-aba Lathief, Alda mengangkat cakenya sedangkan Mika memilih merangkul adiknya.


"Happy sweet- seventeen anak-anaknya papa" kata Lathief kemudian mengecup kening kedua anaknya.


"Makasih papa" ucap keduanya memeluk Lathief.


"Papa aja nih?" celetuk Aina.


"Terima kasih, mama" Mika dan Alda memeluk Aina.


"Potong kuenya gih" perintah Aina.


Mika dan Alda masing-masing memotong kuenya kemudian saling menyuapi.


"Happy Birthday" ucap Alda pada Mika kemudian mencolek krim pada wajah Mika.


"Jail yahh dek" Mika membalas perbuatan adiknya.


Aina kembali bergabung bersama suami dan anak-anaknya setelah izin ke kamar sebentar.


"Minta kado apa nih?" goda Aina.


"Minta kartu yang di dompet papa dong, sehari aja" jawab Mika.


Lathief menghela napasnya.


"Harus banget minta black card papa?"


"Yah kan tadi ditanya" Mika ngeyel.


"Besok pagi ke Capil dulu, bikin KTP, setelahnya papa pinjamin sehari" Lathief mengajukan syarat.


"Kan ngurus KTP nya lama, pa" kata Alda.


"Kalian cuman diminta untuk scan sidik jari aja, terus retina mata dan tanda tangan. Sisanya biar papa yang urus" Lathief menjelaskan.


"Udah, nanti dilanjut besok. Papa tidur, Mika dan Alda juga. Udah larut malam ini" perintah Aina tak terbantahkan.


"Selamat malam papa, mama" ucap Mika dan Alda kemudian berlalu meninggalkan ruang keluarga.


Aina dan Lathief melihat anak-anaknya melangkah meninggalkan ruang keluarga.


"Rasanya baru kemarin mama lahirin mereka, pa. Liat mereka tiduran, duduk, merangkak, belajar berjalan" kata Aina.


Lathief memeluk istrinya.


"Kemarin diajarin berdiri, hingga kini sudah bisa melangkah, berjalan hingga berlari mengejar mimpinya."


"Waktu berjalan begitu cepat. Sekarang udah 17 tahun aja, tadi baru kelulusan. Mana Alda udah ditaksir anaknya pak Maheswari pula" kata Aina.


"Kok gak rela yah anak-anak jadi besar" Lathief menggalau.


"Yah mau gimana pun, anak-anak bakal gede, punya jalan masing-masing. Kita jadi orang tua cukup mendukung, mengarahkan dan menemaninya menggapai mimpinya" Aina mengelus kepala suaminya.


"Terima kasih mama sudah menemani papa, bertahan sama papa dan berjuang bersama"


"Terima kasih papa, sudah jadi seorang suami dan papa yang baik untuk anak-anak"


✨✨✨


Morning sunshine.


Alda melakukan ritual paginya, membersihkan tempat tidur kemudian membersihkan diri. Setelahnya ia turun untuk sarapan.


"Omaaa, opaa" teriaknya sambil berlari menuruni tangga.


"Pelan-pelan sayang, jangan lari" kata Karina menyambut pelukan cucunya.


"Kakek" Alda juga memeluk Hans.


Hans terkekeh.


"Kakek baik-baik aja sayang" jawabnya.


"Udah-udah, kita sarapan dulu" kata Lathief.


Semuanya duduk di kursi masing-masing. Alda melihat sekitar, ia tidak melihat Mika.


"Kakak dimana, ma?" tanyanya.


Aina menelan makanannya sebelum menjawab pertanyaan anaknya.


"Ke bandara jemput kakek dan nenek"


Mata Alda berbinar.


"Woaaah, rumah bakalan rame nih" ucapnya senang.


"Dek" panggil Lathief pelan.


Seakan mengerti nada panggilan Lathief, Alda meminta maaf.


"Maaf, papa" ucapnya.


Sarapan berjalan dalam keheningan. Setelah selesai, Alda membantu Aina membersihkan meja makan. Sementara Lathief ke teras depan bersama Hans dan Karina untuk menunggu kedatangan orangtuanya.


Setelah membersihkan meja makan, Aina dan Alda membuat minuman dan mengambil cookies untuk ngemil sambil menunggu Mika, kakek dan nenek.


Gerbang rumah dibuka lebar oleh security yang bertugas di depan, mobil berwarna putih kini memasuki halaman rumah.


Weni Arunika dan Ares Arunika kini menginjakkan kakinya di halaman rumah sang anak.


"Kakek nenek" sapa Alda senang kemudian memeluk kakek dan neneknya bergantian.


"Cucunya kakek makin cantik aja" kata Ares sambil mengelus rambut cucunya.


"Selamat datang pa, ma" Aina menyalami mertuanya, tak lupa dibalas kecupan di dahinya.


"Masuk dululah" Hans mengajak besannya untuk segera masuk.


Mereka kemudian masuk ke dalam rumah.


"Selamat ulang tahun cucu-cucunya nenek" ucap Weni pada si kembar.


"Udah besar yah cucunya Oma" sambung Karina.


"Tahu gak pa, Abi, tadi cucunya minta pinjam black card punya Lathief" adu Lathief pada papa dan mertuanya.


"Minta black card buat apa tuh?" tanya Hans.


"Buat kesana sini lah, opa, kakek" jawab Mika.


"Beneran udah besar ternyata, mintanya black card pula" pasrah Ares.


"Adek makin kesini makin cantik aja." puji Weni.


"Yaiya, cantiklah. Kan Omanya juga cantik" kata Karina.


"Neneknya juga cantik" bangga Weni.


"Ya cantik dong Oma, nenek. Mama Aina kan cantik, makanya adek juga cantik" ucap Alda bangga.


"Saking cantiknya udah ada yang ngasih bunga yah dek?" goda Lathief.


Wajah Alda memerah, menahan malu.


"Apa sih pa?" tanyanya merajuk.


Semuanya terkekeh mendengar nada rajukan dari Alda.


"Kakak, adek, siap-siap gih ke Capil" kata Aina mengingatkan.


Mika dan Alda pamit untuk bersiap-siap.