
Pagi sekali Rafa sudah bertandang di kediaman Mika. Ia kini menunggu Athena yang sedang dimandi oleh mbak Ni.
"Mau kemana Raf, pake bawa Athena segala?" tanya Aina.
"Mau liburan dulu, Tante. Mumpung pekerjaan agak senggang" jawab Rafa.
"Yakin sama Athena aja? Alda gak dibawa? atau mbak Ni ikut deh. Nanti kamu repot, nak" khawatir Aina.
"Gak apa-apa Tan, udah biasa mah. Namanya juga lagi punya anak" cengir Rafa.
"Hati-hati lhoo bawa Athena. Dia masih kecil, masih agak sensitif dengan keadaan diluar" pesan Aina.
Rafa mengangguk.
"Pasti, Tan." katanya.
Tak lama, Mbak Ni turun dari tangga. Tak lupa Athena yang berada dalam gendongannya, juga tas jinjing yang berisi perlengkapan Athena.
"Mbak Ni udah siapin kan perlengkapan Athena sampai sore? Makanan, susu, biskuitnya juga, ehh pakaiannya juga" Aina mengabsen perlengkapan Athena.
"Sudah, nyonya. Semuanya ada dalam di dalam tas jinjing" jawab mbak Mi.
Aina menggendong cucunya sebentar.
"Yang pintar yah nak sama papinya. Jangan rewel" pesan Aina pada bayi yang berada dalam gendongannya. Ia menciumi pipi sang cucu berkali-kali.
"Omaaa Oma" celoteh Athena.
"Pinter banget cucu Oma" Aina sekali lagi mencium pipi sang cucu sebelum memberikannya kepada Rafa.
"Raf, mbak Ni ikut deh" cemas Aina. Ia takut Rafa bakal kelabakan mengurus anak kecil.
"Tenang, Tan. Yaudah, Rafa pamit yah. Salam untuk Alda dan Mika, maaf gak nungguin Alda bangun dulu." kata Rafa sambil menyalami tangan Aina. Aina tak lupa mengelus kepala Rafa, yang ia anggap seperti anaknya sendiri. Apalagi sejak kepergian James dan Rina, Rafa begitu kesepian. Sampai tersesat dalam kubangan lumpur. Meskipun begitu, Aina bersyukur, Rafa mendapatkan amanah dari Tuhan lewat jalannya yang tersesat.
Alih-alih menaiki mobilnya yang tentu saja ada sopirnya, Rafa lebih memilih memesan mobil di aplikasi ponselnya.
Sejak pulang dari kediaman Mika semalam, Rafa berpikir. Ia merasa begitu sangat hina, membiarkan anaknya dibesarkan oleh sahabatnya. Meskipun tidak sepenuhnya, karena Alda sendiri yang menginginkan juga sudah disetujui oleh Lathief dan Aina, Rafa juga tentu tak lupa keperluan materi Athena. Kesepakatannya, Alda akan bersama Athena, sementara keperluan Athena tetap menjadi kewajiban Rafa.
Permasalahan tentu bukan itu saja. Benar apa yang Mika katakan. Ia lupa memikirkan posisi Alda yang adalah seorang gadis yang belum menikah. Bagaimana jika orang-orang mengira Alda perempuan yang tidak bener, sudah punya anak tapi gak ada suami. Atau bagaimana jika seseorang hendak meminang Alda tapi keberatan dengan adanya Athena disisi Alda. Dengan segala pertimbangan, Rafa akan membawa Athena pergi bersamanya, entah kemana, entah sampai kapan.
"Mbak Ni, Athena nya mana?" tanya Alda yang melihat mbak Ni membantu ART nya memasak.
Baru kali ini Rafa membawa Athena tanpa bilang terlebih dahulu padanya, pikir Alda.
"Kenapa dek?" tanya Aina yang baru saja masuk ke dapur.
"Rafa kok gak bilang bawa Athena jalan-jalan?" lirih Alda.
Aina heran.
"Lho, bukannya semalam Rafa udah bilang yah?" tanya Aina.
"Nggak, ma. Nggak ada" jawab Alda.
"Lhaa iya kok. Mama liat sendiri tuh Rafa ke kamarmu, katanya Athena bakal dibawa jalan-jalan tapi dia mesti kasih tahu kamu dulu" kekeuh Aina.
"Semalam? Setelah mama dari kamar adek, kan?" tanya Alda memastikan.
Aina mengangguk.
"Cuma kakak lho yang ke kamar." kata Alda.
Ia diam sejenak.
Kemudian berlari menuju kamarnya, mengambil ponselnya. Rupanya ada pesan masuk dari Rafa.
Papinya Athena
Al, thanks for everything. Makasih sudah jadi sahabat, jadi saudara juga jadi mamanya yang baik untuk Athena. Gue minta maaf. Maaf sudah menarik Alda sangat jauh kedalam masalah gue, maaf sudah merepotkan Alda dalam membesarkan Athena, maaf juga gak pernah mikirin masa depan Alda. Maaf gak bilang bawa Athena pergi. Doaian yah, gue bisa ngurus Athena.
Rafa juga rupanya mengirimkan Alda sebuah foto. Dimana Athena sedang tertawa memperlihatkan giginya.
Alda menangis begitu keras. Athena nya pergi.
Alda yakin, Rafa benar-benar ke kamarnya semalam. Ia juga mungkin mendengar ucapan Mika.
Alda berusaha menelpon nomor Rafa, tapi semuanya sia-sia. Rafa selalu tahu cara menghilang, ia tentu dengan sengaja merusak ponselnya dan merusak kartunya kemudian dia buang.
Alda linglung, bingung akan berbuat apa. Ia kembali naik ke kasurnya dan menangis dalam diam. Hanya air matanya yang mengalir deras. Athena nya pergi, ia akan kembali kesepian. Tidak ada lagi tawa bayi, rengekan juga tangisan Athena.