Renalda

Renalda
Twins life



"Rencana di gunung berapa lama, kak?" Tanya sang papa, Latief pada anak lelakinya.


Dua orang lelaki beda usia itu tengah bermain catur di taman belakang rumah.


"Kalau perjalanan lancar, 3 hari cukup, pa." Jawab Mika.


"Adek ikut juga?" Tanya Latief, lagi.


Mika mengangguk. "Ya kali gak ikut."


"Papa ngirim Abdi dan Soni ngikut kalian" Latief memberitahu.


"Amanlah pa." Kata Mika sambil meng-skak mati sang papa untuk yang pertama kali


.


Latief yang pertama kali di kalah pun terkejut.


"Besok papa pensiun deh. Kakak ambil alih perusahaan sebagai hadiah ngalahin papa main catur" katanya.


Mika terkekeh. "Gak usah perusahaan lah. Rumah sebelah udah cukup loh pa" katanya.


"Bisa diamuk papa sama mamamu kalau kamu ninggalin rumah" curhat Latief.


"Adek aja bisa tuh tinggal asrama" kata Mika.


"Kakak pikir papa izinin gitu aja?" Tanya Lathief.


"Ya nggaklah." Jawab Mika.


"Siapa nih yang papa kirim ngikutin adek?" Tanya Mika..


"Brian dan Brandon. Si kembar" jawab sang papa.


Mika yang mendengar ucapan sang papa pun, kaget. Si kembar itu cukup gila. Kemampuan nya tak perlu diragukan lagi. Mereka punya banyak keahlian. Saat Mika dan Alda umur 5 tahun, kedua orang itu berumur 17 tahun dan sudah memegang sabuk hitam. Keahlian menembak mereka menjadi rahasia umum di keluarga Arunika. Belum lagi kecerdasan nya dibidang IT.


"Harus banget adek dijagain mereka berdua?" Tanya Renal.


"Yah, harus. Anak perempuan tunggal, tuh. Kakak juga mau ?" Goda sang papa.


"Kakak jawab tidak juga percuma. Papa udah nyuruh Jake ngikutin aku." Kata Mika bermisuh.


Lathief terkekeh melihat ekspresi sang anak.


Mika memikirkan sesuatu. "Papa tahu dong kalau adek lagi dekat dengan anaknya pak Maheswari?"


"Ya tahulah. Sore tadi papa liat mereka sepedaan di danau." Kata Lathief.


"Papa kok bisa liat?" tanya Mika.


Sebelum menjawab pertanyaan sang anak, Lathief meneguk wine nya dulu.


"Kemarin papa pulang kantor. Kebetulan di jalan liat mereka, yah papa ikutinlah. Pengen liat pendekatan anak muda jaman now." Lathief menjelaskan.


"Ternyata papa sekurang kerjaan itu." Mika mencibir. Ikut meneguk wine yang jumlahnya sudah diatur oleh sang papa.


"Dalam rangka menjaga anak gadis, tuh" Lathief ngeles.


Mika menggeleng kan kepalanya heran. Papanya kok yah posesif gini.


"Anaknya Maheswari cakep juga" Lathief melanjutkan.


"Cakepan kakak, pah" Mika membantah.


Alda datang. Ia memilih duduk di pangkuan sang papa. Enak bener nemplok sama papa.


Dengan lembut Lathief mengelus rambut sang anak, sesekali mencium puncak kepalanya.


"Anak bayi sedang nemplok pada sang papa" Mika memulai perkara.


"Seorang anak lelaki dilantarkan oleh sang papa karena kalah pesona oleh anak perempuan" Alda membalas.


"Seorang anak perempuan sedang kedapatan bersepeda di danau bersama adik kelasnya oleh sang papa." Mika dengan mulut lemesnya.


Alda yang mendengarnya pun kaget. Ia melihat wajah sang papa.


"Emang bener, pa?" tanya Alda.


Lathief melirik Mika kesal.


"Seorang anak lelaki diduga tidak akan mendapatkan harta warisan karna mulut lemesnya." Lathief berkata.


Mika bermisuh-misuh.


"Papa liat aku?" tanya Alda yang tidak terkecoh dengan pertengkaran sang papa dan kakaknya.


"Iya papa liat. Adem bener duduk dipinggir danau" jawab sang papa.


"Kok papa gak samperin?"


"Ya kali papa samperin anaknya yang sedang berpacaran, mana gak ngakuin papa pula pada orang-orang" keluh sang papa.


Alda mengeratkan pelukannya pada sang papa, kemudian mencium pelipisnya.


"Adek tuh takut buat papa malu. Adek kan gak pinter-pinter amat kayak kakak. Gak sekeren kakak. Serius deh. Nanti kalau waktunya udah tiba, dengan suara lantang adek akan menyebut Lathief Arunika adalah papaku" kata Alda.


Setelah mendengar ucapan sang anak, Lathief mencium puncak kepala sang anak dalam.


"Padahal tanpa ngelakuin apapun, papa udah bersyukur banget punya anak seperti adek" ucap Lathief.


"Kakak nggak?" tanya Mika.


"Kakak jugalah. Sini peluk papa, nak" katanya.


Tanpa menunggu lama, Mika berdiri dari duduknya. Ia ikut duduk disamping papanya, kemudian memeluknya.


"Ada apa nih? Kok pelukan segala kayak Teletubbies?" tanya sang mama yang baru saja ikut bergabung.


Pelukan dua orang anak dan sang papa terlepas.


"Biasa lah. Ada maunya " jawab sang papa .


"Nggak, ma" jawab Twins bersamaan.


Aina terkekeh. Sebagai seorang istri dan ibu, ia begitu bersyukur memiliki keluarga yang seperti ini. Suami yang baik, serta anak-anak yang sehat dan cerdas.


"Habis dari gunung, kita ngumpul di puncak yah." kata Aina.


"Berempat aja, ma?" tanya Alda.


"Dua malam berempat. Sisanya bersama para tetangga" jawab Aina.


"Waaah, asyik" Alda berlompatan senang.


Setiap liburan sekolah, empat keluarga itu memang selalu mengadakan liburan bersama. Tempatnya berpindah- pindah. Kadang di pantai, puncak bahkan di tengah laut. James dengan entengnya membeli kapal pesiar.