Renalda

Renalda
Gelas



Kepergian Ares dan Weni masih menyisakan duka. Renal beberapa kali mendapati Alda melamun sambil menatap keluar jendela.


"Mama" panggil Athena yang sedang bermain dengan bonekanya.


Namun Alda tidak mendengarnya.


"Mama" panggil Athena lagi.


Alda lagi-lagi tidak mendengarnya.


Athena berdiri dari duduknya. Mencari air minum di meja, tapi ia tidak melihatnya. Ia berjalan kesana-kemari, dan tidak menemukan mbak-mbak ataupun Alexia. Bayi itu merasa haus.


Athena yang sudah menghapal tatak letak rumah pun, dengan mudah mendapat dapur. Ia diam sejenak memandang kulkas dan dispenser. Biasanya ia akan melihat daddy-nya membuka kulkas untuk mengambil minum, dan melihat mamanya menekan dispenser untuk mengambil minum. Setelah berpikir sejenak, Athena kemudian mencari gelas. Ia menoleh ke arah meja makan, ada gelas disana. Tapi ia tidak yakin apakah ia bisa mengambilnya atau tidak.


Dengan kaki kecilnya, ia berjinjit, berusaha mengambil gelas yang sudah di susun ditempat gelas. Athena perlahan menarik gelas tersebut, hingga tempat gelasnya ikut bergeser.


PRANG


PRANGJDJEVDJSKS


Pecahan gelas berceceran di lantai.


"Huwaaaa" Athena menangis.


Alda yang mendengar suara benda terjatuh, bergegas berdiri dari duduknya. Seorang pelayan berusaha menenangkan nona kecilnya.


"Maaf, nyonya, Saya baru dari pasar, saya tidak tahu apa-apa" ucap pelayan itu takut.


Pasalnya jari Athena mengeluarkan darah saat berusaha mengambil sebuah gelas yang masih utuh, tapi naas jarinya digores beling .


Alda kaget, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia dengan cepat mengambil Athena dari pangkuan pelayannya.


"Nggak apa-apa, mbak"


Alda dengan cepat memasukkan jari telunjuk Athena yang berdarah ke dalam mulutnya, kemudian meludahkan nya ke wastafel.


"Huwaaaaa, aakit" Athena masih menangis.


Setelah di rasa sudah bersih, Alda membawa Athena kembali ke ruang keluarga. Ia meminta pelayan tadi untuk membawakan minum. Alda dengan hati-hati membantu Athena untuk minum.


"Maafin mama sayang." ucap Alda lirih.


"Mawuu dedii" ucap Athena.


Alda dengan cepat mengambil ponselnya, segera menelpon Renal dan memintanya untuk pulang.


"Sabar yah, bentar lagi Daddy pulang, nak" Alda mengelus belakang Athena, berharap anaknya tenang.


"Dedii puyang?"


"Iya, bentar lagi daddy nya The pulang" jawab Alda.


"The, duduk disampingnya mama yah nak. Kasihan adiknya kesempitan." Alda mendudukkan Athena disampingnya.


Ia sungguh tidak bisa jika harus memangku atau menggendong The dalam waktu yang lama. Jika pergi-pergi, pasti Renal yang kebagian menggendong Athena.


Mendengar suara mobil, Athena berlari ke depan. Ia menunggu Daddy nya keluar dari mobil.


"Daddy huwaaaa" air matanya kembali tumpah saat melihat kedatangan Renal.


Renal membawa Athena ke gendongannya.


"Kenapa sayang?" tanyanya sambil mengusap air mata anaknya.


"angan The cakit" Athena memperlihatkan tangannya yang sudah di beri plester luka.


"Kok bisa?"


"The num. Pi mama nda dengel. The jayan ndili, ambiyy gelas prang, cakiit" The bercerita apa bayi.


"Wah, anak Daddy hebat." Renal menggendong anaknya hingga sampai di ruang keluarga. Ia melihat Alda yang sedang melamun.


"Kalau kamu masih pengen melamun, The biar aku bawa ke kantor aja. Perasaan wanita dan pria memang tidak sama, tapi tolong kamu mengerti kakek dan nenek udah pergi, kamu cukup simpan kenangannya, doain mereka. Mereka juga pasti gak suka kamu kayak gini, apalagi Athena sampai terluka seperti ini." kata Renal panjang lebar. Ia masih berdiri.


Alda terkesiap mendengar ucapan suaminya.


"Maaf" ucapnya.


"Minta maaf ke Athena. Kamu beruntung, kita semua beruntung, hanya jarinya yang luka. Gimana tadi kalau dia berjalan kesana-kemari, dia gak bisa perhatiin belingnya. Kalau kamu masih mau melanjutkan hidupmu yang begini, Athena aku bawa ke kantor" lanjut Renal sebelum membawa Athena ke lantai atas.