Renalda

Renalda
Renaldi's Birthday 2



Setelah sarapan tadi, Alda meminta izin pada Lathief dan Aina untuk pergi bersama Renal. Hal tersebut tentu tak luput dari godaan Mika kepada adiknya. Setelah membantu sang mama membersihkan meja makan, Alda bergegas menuju kamarnya untuk memberitahu Renal.


^^^Renalda^^^


^^^Udah di ACC sama papa dan mama. Katanya boleh.^^^


Renaldi Maheswari


30 menit lagi aku jemput


Setelah membaca pesan Renal, Alda segera bersiap-siap. Ia memilih memakai rok motif bunga-bunga yang menutupi hingga tengah betisnya dipadukan dengan kaos yang yang kaki bajunya dimasukkan ke dalam rok. Tak lupa rambutnya ia ikat kecil-kecil masing-masing diatas telinga diakhiri dengan ikatan besar pada bagian tengkuknya.


(Ngerti gak sih model rambutnya gimana, hikks). Ransel mini yang hanya cocok untuk dompet dan ponsel tak lupa tergantung cantik dibahunya.


Sementara di lantai bawah, Renal sedang menunggu Alda. Ia tadi disambut oleh Aina.


"Maaf yah, mesti nungguin Alda" ucap Aina.


"Gak apa-apa, Tante. " kata Renal sopan.


Alda turun dengan berlari kecil. Tak lupa ringisan pelan terpancar dari wajahnya.


"Sorry, lama" kata Alda.


"Kebiasaan nih, Adek" tegur Aina.


Alda meringis.


"Tante, saya bawa Aldanya dulu" pamit Renal kemudian menciumi punggung tangan Aina. Hal tersebut tentu diikuti Alda.


"Hati-hati sayang" kata Aina melihat kepergian anaknya.


Mobil meninggalkan kediaman Arunika, bergabung dengan kendaraan yang lain.


"Kita mau kemana?" tanya Alda memecah keheningan.


"Kamu bisa buat cake yah?" Renal kembali bertanya.


Alda mengangguk.


"Yaudah, kita ke supermarket dulu, habis itu ke apartemen." kata Renal.


"Kamu punya apartemen?" tanya Alda.


"Punya papa lebih tepatnya" jawab Renal.


Alda mengangguk.


"Al, masak makanan untuk lunch juga yah" pinta Renal yang berjalan di dekat Alda sambil mendorong troli belanja.


"Kamu sukanya apa?" tanya Alda.


"Kamu" spontan Renal.


Alda menghela napasnya.


"Makanan kesukaanmu, Ren"


"Suka ayam goreng, kangkung tumis, capcai, telur ceplok." Renal mengabsen makanan kesukaannya.


Rak demi rak mereka lalui. Sesekali Alda mengambil barang yang dibutuhkan. Renal diam-diam memotret Alda yang sedang sibuk depan rak.


"Udah, Ren" kata Alda.


Setelah selesai dengan proses bayar membayar, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kurang lebih 30 menit, sampailah mereka di halaman gedung apartemen.


Sebelah tangan Renal menggandeng tangan Alda, sebelahnya lagi membawa kantongan.


"Al, lantai 30 dong" ucap Renal tanpa melepas tangan Alda.


Alda mengerti, ia memencet tombol angka 30.


Renal menempelkan Access card-nya, pintu terbuka dengan cepat.


"Masuk, Al" kata Renal.


"Al, mau buat kuenya sekarang?" tanya Renal.


Alda mengangguk.


"Aku bantuin yah?" pinta Renal.


"Aku sendiri aja bikinnya. Kamu tunggu di depan" tolak Alda.


"Aku liatin kamu aja kalau gitu" putus Renal kemudian berjalan ke mini bar yang menjadi sekat antara dapur dan ruang keluarga.


Dengan telaten Alda membuat adonan cake. Tak butuh waktu lama, cakenya sudah berada dalam oven.


Alda ikut duduk didekat Renal, minum jus jeruk yang Renal keluarkan dari kulkas.


"Capek banget?" tanya Renal.


Alda menggeleng.


"Biasa aja" katanya.


"Kalau kamu capek, gak usah masak makanan. Kita order aja"


"Aku masak aja. Nanti bahan makanannya kebuang kalau gak dimasak"


Renal mengangguk.


"Aku nyusahin banget kayaknya" katanya.


"Baru nyadar pak" sinis Alda.


Tawa Renal meledak mendengar nada sinis Alda.


"Cakenya dihias yah. Terus ukir namaku diatasnya" pinta Renal.


"Biar apa coba?"


"Yah biar cantik, terus aku pamerin" jujur Renal.


"Ngapain juga mesti dipamerin" heran Alda.


"Kan biar orang tahu, sudah ada yang buatin aku cake, sudah ada yang masakin aku"


"Emang harus banget orang lain tahu?"


"Ehh, atau nggak deh. Aku simpan aja kalii yah, aku awetkan"


"Ngaco bener" Alda menepuk jidat Renal.


Alda mengikuti kemauan Renal. Menghias cakenya dengan ukiran namanya, memasak nasi, membuat ayam goreng dan tentu saja kangkung tumis.


Renal benar-benar memotret hasil masakan Alda. Alda memamerkan cakenya, sementara Renal didepannya memegang ponsel untuk berselfie.


"What a beautiful day" gumam Renal sebelum memulai makan siangnya bersama Alda.


Mereka makan dalam diam. Renal begitu lahap memakan masakan Alda.


Setelah makan, Renal meminta Alda untuk duduk di ruang keluarga. Sementara ia membersihkan alat tempur dan piring yang mereka gunakan tadi. Setelah semua kembali ke tempatnya masing-masing, Renal duduk di samping Alda yang sedang makan coklat.


Renal merangkul bahu Alda, menyandarkan kepala Alda di dadanya. Alda yang begitu yang begitu lempeng hanya diam.


"Al, sama aku terus yah" lirih Renal.


"Gak bisa, Ren. Bentar sore aku harus pulang. Ntar mama nyariin" kata Alda.


"Iyain. Kamu yang paling bener dehh" Renal mengacak rambut Alda.


"Renal, ntar rambutnya berantakan" Alda memberenggut kesal


Renal terkekeh. Ia melingkarkan tangannya di pundak Alda, sementara Alda masih asyik dengan coklat dan film Tinkerbell yang sedang tayang.


Karna sudah tidak adalagi pergerakan dari Alda, Renal penasaran. Ternyata Alda sudah tertidur. Bulu mata lentik nya begitu cantik.