Renalda

Renalda
Asrama (2)



Keadaan asrama sore hari cukup damai dan sejuk. Alda duduk di bawah pohon sambil membaca buku. Lembar demi lembar telah ia baca, hingga ia dikagetkan oleh seseorang yang langsung mengelus puncak kepalanya.


Alda melihat ke samping, melihat sang pelaku.


"Hai, Ren" sapa Alda.


Renal nyengir. "Kok sendiri? Kak Dian mana?" Tanya Renal.


"Dian lagi tidur." Alda menjawab.


Renal mengangguk. "Tingginya kak Al berapa sih?" Tanya nya.


"Mmmmm, 153 cm. Kenapa emang?"


"Kok pendek sih?" Goda Renal.


Alda menepuk ringan lengan Renal. "Gak usah ngejek deh" sewotnya.


"Tapi gak apa-apa. Gue suka cewek pendek kok." Celetuk Renal.


"Pacarnya Renal juga pendek kayak Alda?" Tanya Alda.


"Bukan pacar sih. Tapi soon to be pacar." Jawab Renal.


"Oh yah, selamat. Semoga secepatnya" Alda memberikan selamat dengan senyum manisnya.


Tak selaras dengan hatinya yang sedikit remuk mendapatkan fakta orang yang disukainya sebentar lagi menjalin kasih dengan orang lain.


"Mau makan ice cream, gak? Sebentar lagi penjualnya datang" tawar Renal.


Alda mengangguk antusias. "Boleh." Katanya.


Renal berdiri, di ikuti Alda. Merasa tangannya ada yang menggenggam, Alda melihat ke arah tangannya yang sudah bertautan dengan tangan Renal.


Renal yang merasa Alda memperhatikan tautan mereka pun nyengir.


"Jari tangannya mungil. Sangat pas dengan tangan gue" katanya.


"Yeee, ngeles aja." Cibir Alda tanpa melepas tautan tangannya.


Seakan teringat sesuatu, langkah Alda terhenti. Renal pun ikut menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" Tanya Renal.


"Alda gak bawa uang, uangnya ada di kamar" jawab Alda.


"Alda ke dalam dulu ambil uang."


Baru saja hendak berbalik menuju asrama, tangan Alda kembali di tarik.


"Gue yang traktir." Kata Renal.


"Renal bawa uang?" Tanya Alda memastikan.


Renal terkekeh. "Ya bawalah, manis" katanya.


Setelah memastikan Renal membawa uang yang cukup, Alda dengan antusias menarik tangan Renal.


"Cepat Ren, nanti ice cream nya habis"


Renal hanya terkekeh. Mengikuti langkah kaki perempuan mungil itu.


✨✨✨


"Tahu gak Ren, ini rekor terbaru Alda. Gak makan ice cream selama 2 hari." Curhat Alda.


"Lah, emang iya?" Renal heran.


Alda mengangguk. "Kalau di rumah, Alda stok ice cream banyak-banyak. Kemarin sebelum masuk asrama, Alda juga beli beberapa untuk stok di kamar, tapi ternyata lemari pendinginnya gak muat. Beberapa Alda bagi ke teman- teman, sisanya yah baru disimpan." Kata Alda panjang lebar.


"Baru pertama kali makan ice cream disini?" Tanya Renal .


Alda mengangguk. "Tempatnya kan baru Alda tahu tadi. Renal yang bagi tau."


"Besok aku traktir lagi deh." Janji Renal.


"Ehh gak usah. Besok Jumat, kak Mika bakal jemput aku." Kata Alda.


"Mau kemana emang?" Tanya Renal.


"Setiap Jum'at kan anak asrama boleh pulang. Alda mau pulanglah." Jawabnya.


"Harus banget dijemput bang Mika?" Intonasi suara Renal sedikit berubah.


"Yah, harus. Angga, Rafa dan Randi ada acara keluarga. Cuma kak Mika yang free" Alda menjawab.


"Kalian ternyata sedekat itu, yah" kata Renal.


"Yah dekat. Sejak kecil udah sama mereka. Malahan Alda itu jadi adik perempuan mereka."


Renal mengangguk mengerti.


"Ren, thanks yah traktirannya." Ucap Alda.


Alda kini sudah berdiri di depan pintu 09.


"Kembali kasih" kata Renal dengan senyumnya sambil mengelus puncak kepala Alda.


"Suka banget yah ngelus kepala Alda? Kalau rambutku berantakan gimana?" Alda menggerutu.


Renal terkekeh. Menarik telapak tangannya dari kepala Alda.


"Tetap cantik kok" katanya. Kemudian berlalu meninggalkan Alda yang jantungnya mulai berdegup kencang.


Alda memegang sejenak letak degupan itu. Kemudian berlalu masuk dan berbaring di kasurnya.


Pintu kamar mandi terbuka, Dian keluar dengan handuk yang menutupi kepalanya.


"Cieelah yang habis makan ice cream" goda Dian.


Alda bangun dari tidurnya. "Iya, tadi ditraktir Renal" katanya.


"Dian tahu dari mana?" Tanya Alda.


Dian mengambil ponselnya. Kemudian memperlihatkan Alda sebuah foto. Isi foto itu adalah Alda yang sedang makan ice cream, saling berhadapan dengan Renal.


"Di kirimin Sandi tadi." Jawab Dian.


Alda mengangguk mengerti. "Pantas" katanya.


"Alda mandi dulu yah" Alda mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi.


✨✨✨


"Maaf, kakak nunggu lama" katanya.


Mika mengelus puncak kepala sang adik sambil tersenyum. "Gak terlalu lama kok"


"Jalan jalan kuy!" Ajak Alda.


Mika mengangguk. "Let's go!"


Sebelum pulang ke rumah, dua keturunan Arunika mampir ke pasar malam. Kincir, komedi putar masih dalam tahap dipersiapkan.


Mika merangkul sang adik posesif. Berjalan menyusuri jalan di tempat itu.


"Kak, makan cilok boleh?" Tanya Alda mendongak ke wajah sang kakak.


" Ya boleh dong." Jawab Mika.


Mereka berhenti di stand penjual cilok.


"Mas, ciloknya 2 yah" Alda memesan.


Sementara Mika tetap setia merangkul sang adik.


"KAK ALDAAAAA" seseorang berteriak dari arah seblah kanan mereka.


Alda menoleh, melambaikan tangannya.


"Hai Rian, Alex" sapanya.


"Hai kak Al. Selamat sore, bang" sapa Rian dan Alex bersamaan.


Alda terkekeh mendengar dua orang depannya begitu kompak. Sementara Mika mengangguk, tanda ia menanggapi sapaan adik kelasnya tersebut.


"Rian dan Alex ngapain disini?" Tanya Alda.


"Alex habis temenin Rian mutusin pacar ke 5nya pekan ini kak" Alex menjawab.


Rian terkekeh.


"Bener, Rian?" Tanya Alda memastikan.


"Hmm, gimana yah kak" jawab Rian gak enak hati.


"Ini yang terakhir deh. Gak ada lagi perempuan perempuan lain. Rian bakal jomblo dulu deh, sama kayak Alex" jelasnya.


"Alhamdulillah, teman gue tobat" Alex mengucapkan syukur.


Alda terkekeh.


"Dek, ini ciloknya" kata mas mas penjual cilok.


Alda mengambil cilok yang dibungkus dengan plastik transparan itu. Tanpa dikomando Mika membayar nya


.


"Gue gak ditraktir, bang?" Tanya Rian tidak tahu malu.


"Rian, jangan malu-maluin gue lah" Alex mesem.


Alda tertawa gemes.


"Gue traktir deh" kata Mika sambil memberikan dua lembar uang sepuluh ribuan pada kang cilok.


"Makasih, bang" ucap Rian dan Alex bersamaan.


"Kalian seperti kembar botak di TV yang sering Alda nonton." Celetuk Mika.


"Wahhh bener bang, Kak Alda masih sering nonton kartun anak kembar itu?" tanya Rian.


Mika mengangguk.


"Bocah bener." Cibir Rian.


Alda mengerucut kan bibirnya. "Kak, batalin gih traktirannya." Katanya.


"Yah, jangan" .


"Jangan dong, kak"


Lagi-lagi Rian dan Alex berucap bersamaan.


Sementara Mika menggeleng heran. Kenapa juga mesti ada dua orang anak SMA yang masih seperti anak TK.


"Kak, naik kincir boleh? Waktunya pas nih buat liat senja." Mata Alda berkedip-kedip, merayu sang kakak.


Mika yang luluh pun hanya mampu mengangguk. Kemudian menggandeng tangan sang adik.


"Kak, Rian boleh ikut?" Tanya Rian cengengesan.


Alda berbalik. "Kalau Alda bilang gak boleh, kalian bakal gak ikut beneran?" Tanya Alda.


"Ya, nggaklah" jawab Alex dan Rian barengan.


"GC Lo pada" kata Mika sarkas.


Dengan wajah berseri-seri Alex dan Mika mengikuti langkah kakak kelas mereka.


Langit sedang berwarna merah merona, matahari kini berada di ujung barat. Sebentar lagi tenggelam.


Alda bersandar di dada sang kakak. Sementara dua manusia yang mengikutinya tadi asyik menghabiskan cemilan hasil malakin Kakak kelasnya.


"Langitnya keren abis, kak" kata Alda.


Mika mengangguk. Mengiyakan ucapan sang adik.


"Kak Alda suka senja?" Tanya Alex


"Banget" jawab Alda.


"Senja dan pelukan doi adalah kombinasi terbaik di bumi ini" celetuk Rian.


"Pengalaman yah?" Tanya Alda.


"Belum sih." Jawab Rian cengengesan.


"HUHH" teriak Alda, Mika dan Alex menistakan Rian.