
Ballroom hotel milik Arunika dihias oleh penata ternama. Putra dari seorang Arunika akan melepas masa lajangnya sebentar lagi. Disalah satu kamar VVIP Mika sedang memeluk Alda. Ia memeluk adiknya dengan erat, enggan melepaskannya.
"Akhirnya, Mika duluan yang nikah" kata Alda.
"Kamu sih gak mau barengan" Rajuk Mika.
"Barengan gimana, orang pacar aja gak punya"
"Kamu sih, dingin kayak kulkas" tuduh Mika.
"Ehh, yang selama ini protektif nya luar biasa siapa? Yang nyuruh tuh belasan pengawal siapa?" sarkas Alda.
Mika terkekeh mendengar sarkasme adiknya. Ia tentu tidak ingin kalah oleh papa dan kakeknya yang menempatkan orang-orang untuk menjaga seorang Renalda.
"Kan biar jauh dari para buaya" Mika ngeles.
"Mika habis ini masih di Arunika kan?" tanya Alda.
Mika mengangguk.
"Tempatin rumah 04" jawabnya.
"Asyik. Mika is the best" seru Alda kemudian mengecup pipi sang kakak.
"Sekarang aja is the best. Kemarin kemarin hindarin aku terus" omel Mika.
"Mika sih, pake mau misahin aku dan Athena segala. Padahal Athena kan lucu, gemoy gitu" Alda balik ngomel.
"I'm so sorry sister." ucap Mika yang masih menyesali ucapannya beberapa bulan lalu.
"Udah, lupain aja. Tugas Mika sekarang tuh bantu adek jagain Athena" kata Alda.
"Siap, tuan putri" hormat Mika.
Alda terkekeh. Sudah lama ia tidak memeluk sang kakak, sudah lama ia tidak bermanja-manja dengan Mika. Bentar lagi Mika bakal punya tanggung jawab baru, punya prioritas lain. Kini bukan lagi dirinya yang menjadi prioritas Mika, tapi Ivana.
Ivana, seorang gadis yang masih berumur 19 tahun. Ia seorang yatim piatu yang memilih bekerja untuk menyambung hidup. Ivana hanya lulusan SMA, tapi tentu bukan hal yang pantas mereka permasalahkan. Selagi dia adalah gadis baik dan Mika mencintai nya, maka itu sudah cukup.
"Dicari kok malah pelukan. Sana semuanya siap-siap" Titah Aina yang mendapati anaknya lagi berpelukan.
"Mama" oceh Athena yang berada dalam gendongan Aina.
Aina hanya menggelengkan kepalanya heran. Mereka sudah berumur 23 tahun, dan hidup seperti anak kecil.
Ia tentu saja bangga bisa membesarkan anaknya hingga saat ini. Apalagi sekarang Mika sudah akan menikah, ia sangat bersyukur semua anak-anaknya tidak pernah mempermalukan dirinya dan keluarganya.
"Cucu kita udah besar Hans, bentar lagi lepas Lajang dia" kata Ares yang sedang memperhatikan Mika yang sedang diberi arahan oleh Aina.
"Waktu begitu cepat berlalu, Res. Sudah waktunya kita untuk istirahat." Hans mengiyakan ucapan besannya.
"Setelah Alda nikah, aku janji bakal pensiun. Kamu harusnya juga udah lepas tangan dari bisnis pertanian mu disana" suruh Ares.
Hans mengangguk.
"Sebelum kesini aku udah urus semuanya. Bagiannya anak-anak, untuk sosial dan juga ketenangan dimasa tua. Kamu nunggu Alda nikah dulu, emang Alda mau nikah dalam waktu dekat?" tanya Hans.
"Aku gak yakin, Hans. Cucu perempuan kita itu cukup berpendirian" jawab Ares.
"Kita sebagai tetua hanya bisa berharap semoga anak cucu kita menemukan kebahagiaannya masing-masing, dijaga dari segala hal yang membahayakan." ucap Hans.
"Maaf, tuan saya terlambat menyapa anda" ucap Abraham sopan pada kedua tetua didepannya.
Ares berdiri menyambut kedatangan Abraham, ia memeluk Abraham.
"Abraham" katanya.
Hans juga melakukan hal yang sama.
"Saya cukup kaget saat Mika mengatakan akan menikahi seorang gadis. Anak itu sudah besar sekarang, meminta kita semua menikahkan dirinya" kata Abraham.
Ares dan Hans terkekeh mendengar perkataan orang kepercayaan Lathief tersebut.
"Mika sudah akan menikah. Bagaimana dengan ketiga anakmu?" tanya Hans.
"Jake dan Brian terlalu dingin dengan para perempuan diluar sana, sedangkan Brandon cukup ahli dalam menaklukkan wanita. Tapi hingga detik ini, belum ada satupun gadis yang mereka bawa kehadapanku" keluh Abraham.
"Anak-anak memang begitu Abraham. Mika butuh waktu 23 tahun untuk mengenalkan seorang wanita pada kami" Lathief ikut berbicara.
"Tapi setidaknya kalian bisa mengucap syukur, karena hal itu telah terjadi. Entah kapan para putraku akan membawa menantu ke rumah" ucap Abraham pasrah.
Semuanya terkekeh kecil melihat ekspresi pasrah Abraham. Ketiga anaknya benar-benar betah melajang.