Renalda

Renalda
Adik-Kakak



Alda sedang duduk di balkon kamarnya yang berhadapan langsung dengan kamar Rafa. Athena sudah ia tidurkan di box tidurnya yang terletak di samping ranjang Alda.


"Langit nya cantik yah dek?" tanya Mika meminta persetujuan Alda.


Alda mengangguk. Ia mendekat pada sang kakak. berusaha mencari kehangatan dari pelukan sang kakak.


"Udah punya Athena tapi masih manja aja" goda Mika.


"Kangen tahu." kata Alda.


"Kemarin aja pas di RelFath gak pernah tuh bilang kangen, malah terkesan ngilang" cibir Mika.


"Maafin lah kak. Kan adek tuh lagi belajar, biar jadi CEO cantik dan baik hati sepanjang masa" Alda ngeles.


Mika terkekeh mendengar perkataan adiknya. Boro-boro menjadi seorang CEO, adiknya kini malah menjadi staf di Instalasi CSSD di rumah sakit miliknya. Alda kembali merendah seperti saat ia masih sekolah.


Direktur rumah sakit itu malah Brian, anak dari Abraham.


"Dek, Dian udah nikah pekan depan. Adiknya kak Mika kapan yah?" tanya Mika dengan nada bercanda.


"Kakak dulu deh yang nikah. Adek gak ada yang suka." kata Alda.


"Mana bisa gitu? Adiknya kakak tuh yang paling cantik setelah mama."


Alda terkekeh.


"Bisa aja sih. Ehh gimana sama si Ivana?" tanya Alda.


Ivana, seorang pelayan yang bekerja di cafetaria yang selalu Mika datangi saat ia masih kuliah. Tubuhnya mungil, nampak serasi dengan wajahnya yang baby face.


"Masih dipantau." jawab Mika singkat.


Mika mencubit pipi adiknya gemes.


"Gak ada gerakan. Sekalinya gerak langsung lamar" kata Mika angkuh.


"Tapi sayang omong doang. Bukti gak ada" sambung Alda kemudian tertawa keras.


Mika juga terkekeh kecil mendengar nada ejekan dari sang adik. Benar apa yang adiknya katakan. Ia sudah mengintai gadis itu selama 4 tahun. Malahan, ia meminta Andre untuk menyuruh dua orang pengawal untuk mengikuti kemanapun Ivana pergi, tentunya dengan jarak tertentu dan aman.


"Dek, gimana sama Renal? Masih?" tanya Mika.


"Kalau ingat yang dulu-dulu kadang kangen tapi sakit juga sih hahha. Tapi sejak ada Athena yah biasa aja. Mungkin Renal juga udah lupa, apalagi sekarang Angel juga udah mau nikah. Renal bisa jadi juga sudah punya yang lain." jawab Alda.


"Kalau misalkan Renal kembali dan meminta adek sama papa gimana?" tanya Mika.


"Kan misalkan. But I think, it's impossible. Apalagi sekarang ada Athena." kata Alda.


"Athena kan anaknya Rafa, Alda gak usah ambil pusing sejauh itu" nasehat Mika.


Alda menghela napasnya.


"Athena itu seperti cahaya untuk aku, kak. Aku udah anggap dia seperti putriku sendiri. Jika kelak ada seseorang yang minta aku sama papa, ia juga harus mau terima Athena" Alda menjelaskan posisi Athena dalam hidupnya.


"Athena memang bukan anak aku. Tapi kakak bisa liat kan, bisa ngerasa gimana Athena kalau sama aku." kata Alda.


Mika mengelus kepala adiknya. Ia tahu betul gimana sayangnya Alda terhadap anak dari sahabatnya itu.


Mereka bercerita tanpa menyadari seseorang mendengar dari depan pintu kamar Alda yang sedikit terbuka. Orang itu cukup mengerti akan kekhawatiran Mika. Kekhawatiran Mika tentu sangat berdasar. Ia khawatir adiknya tidak memikirkan masa depannya karena seorang gadis mungil yang ternyata bukan siapa-siapanya. Athena hanya anak anaknya, bukan anak Alda. Kenapa Alda harus merepotkan diri mengurus Athena sejak dulu. Pikir Rafa sebelum meninggalkan kamar Alda.