
Setelah menempuh perjalan yang cukup melelahkan, mereka kini sedang bersantai di salah satu rumah di kompleks RelFath. Di kompleks ini hanya ada 7 rumah. Jika di kota sebelah kompleks Arunika adalah yang paling elit, maka disini RelFath adalah paling ter-elit. Jarak dari bangunan satu ke bangunan lainnya adalah 1,5 KM. Dengan bangunan mewah juga halaman yang begitu luas, serta fasilitas yang tak main-main, bahkan memiliki helipad resmi pada tiap bangunan rumah di kompleks ini.
"Ka, nanti sisain gue satu bangunan di kompleks ini yah" pinta Rafa tak tahu diri.
Mika hanya menghela napas. Tak perlu ditanya, ia juga masih begitu terkejut atas hal yang baru ia ketahui kini. Sungguh miris dirinya.
"Gue gak papa deh tinggal di paviliun belakang" Angga ikut bicara.
"Gue minta satu kamar kosongnya yah, Ka. Biar kalau kemari gak perlu nginap di hotel" Randi yang dikenal kalem pun ikut bicara.
"Ngomong dehh kalian pada" pasrah Mika.
Alda turun dari tangga yang berdiri kokoh. Lantainya bermotif batik dengan perpaduan warna merah, gold dan coklat, terlihat sangat mewah.
"Dari mana dek?" tanya Mika.
"Dari kamar, kak. Tahu gak, kita udah punya kamar masing-masing. Tiap pintu ada namanya." seru Alda.
Ares dengan sengaja menyiapkan tiap kamar untuk para teman cucunya. Mereka bukan hanya teman, tapi juga seperti saudara bagi cucunya. Randi, Angga dan Rafa begitu berarti bagi kedua cucunya. Sebab itu ia menyiapkan masing-masing kebutuhan untuk mereka bertiga, sama seperti kebutuhan para cucunya.
Jauh sebelum mereka lahir, para orang tuanya semasa remaja juga berteman baik dengan Lathief. Bersekolah di sekolah yang sama, sebelum masing-masing punya kehidupan baru. Tuhan begitu berbaik hati kepada Lathief, selain diberikan orang tua penyayang, ia juga diberikan teman-teman yang begitu baik. Temannya pun merasa begitu beruntung, bisa berada dalam circle Lathief.
"Gue merasa sedang berada didunia fantasi" ungkap Rafa jujur.
Ares dan Hans yang baru saja bergabung terkekeh mendengar ucapan Rafa.
"Lhoo kenapa Raf?" tanya Ares.
"Kek, pulau ini sungguh luar biasa. Bangunan nya unik, berdiri kokoh, tata peletakkannya bagus. Rafa yakin semua orang bakal mengira ini adalah negeri dongeng" cerita Rafa.
"Apa masih ada yang kurang dari pulau ini kek?" tanya Mika.
Ares mengangguk.
"Kenapa gak bangun aja, kek?" tanya Angga.
"Kakek sengaja gak bangun universitas, biar orang-orang yang tinggal disini keluar mencari ilmu." jelas Ares.
"Bukannya pulau ini sudah sangat maju yah kek?" tanya Randi.
Ares mengangguk.
"Semua jiwa yang tinggal disini adalah orang yang sangat cerdas, masing-masing punya keahlian tersendiri. Meskipun gak lanjut universitas, kakek berani jamin jika ia begitu pintar. Tahu gak yang mendesain tata letak pulau ini adalah seorang pribumi yang bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan baik formal maupun non formal. Mereka ini cerdas, tapi gak ada fasilitas. Dari generasi ke generasi kami mencoba memfasilitasi, dengan syarat mereka harus kembali ke pulau ini untuk memajukan pulau. Salah satu syarat mutlak kemajuan suatu bangsa adalah komunikasi yang baik antara pemimpin dan rakyat. Tapi di pulau ini gak punya pemimpin, gak punya kepala daerah, tapi begitu tertib, mereka hidup dengan damai." jelas Ares.
"RelFath itu artinya apa kek?" tanya Mika.
"Jaman dulu katanya buyut pernah bermimpi mempunyai keturunan kembar, entah generasi ke berapa. Jika mereka lahir, namanya harus Renalda atau Renaldi dan salah satunya adalah Alfath. RelFath berarti singkatan dari Renalda-Alfath. Alfath nama tengahnya kakak, kan?"
Mika mengangguk mendengar penjelasan Ares.
"Sekarang masih minat gak sama kebun anggur nya opa?" goda Hans.
"Ya masihlah, opa." jawab Mika tanpa pikir panjang.
Rafa menimpuk kepala Mika dengan bantal sofa.
"Serakah sekali Anda" katanya.
"Yah kan biar banyak teman. Banyak uang banyak teman." sarkas Mika.