
"Keluarga pasien?" tanya seorang dokter yang keluar dari ruang tindakan.
Renal berdiri dengan cepat.
"Saya, sus"
"Pasien sedang butuh beberapa kantong darah. Kebetulan belum pernah ada pendonor dengan golongan darah Rh-Null. Bapak dan keluarga dimohon untuk segera mencarinya, sementara kami juga berusaha menghubungi rumah sakit yang lain untuk mencarinya. Paling lambat transfusi dilakukan sebelum pukul 5 sore nanti." jelas perawat itu memberi tahu.
RH-NULL. Dimana ia bisa mendapatkan orang dengan golongan darah seperti itu. Yang bahkan bisa dihitung jari keberadaannya di dunia.
Alda yang mendengarnya langsung menepon Ares.
"Kakek, tolong" ucap Alda parau saat telponnya sudah tersambung.
"Tolong cari orang yang mempunyai golongan darah RH-NULL." kata Alda lagi.
"Sebelum jam 5 sore sudah harus dilakukan transfusi. Terima kasih, kakek" Alda menutup telponnya. Ia lalu menelpon Angga, Mika dan Randi.
Renal melakukan hal yang sama. Ia menelpon papanya, menelpon Sandi, Rian dan Alex. Ia tentu juga meminta Abdi untuk segera mencari pendonor.
"Minta semua data karyawan. Dan umumkan siapa saja yang memiliki golongan darah Rh-Null, baik itu karyawan atau keluarganya, minta dia datang kesini. Katakan bahwa ia akan mendapatkan imbalan yang sangat besar" perintah Renal.
Abdi mengangguk. Ia meninggalkan pelataran rumah sakit untuk segera melakukan tugasnya.
"The gimana?" tanya Aina yang baru saja tiba bersama Lathief. Ia menenangkan anaknya yang menangis.
"Mama, Alda minta maaf" ucap Alda tersendat.
Aina memeluk anaknya. Keadaan anaknya tentu tidak baik-baik saja.
Lathief menepuk pelan pundak menantunya, seolah memberinya semangat lewat tepukan itu. Kemeja putih Renal begitu kotor, dari bagian lengan hingga bagian badannya berwarna merah. Darahnya sudah mengering.
"Anak aku pa" katanya.
"Kemana kita akan mencari golongan darah Rh-Null, pa? Renal bahkan baru tahu kalau The punya golongan darah seperti itu."
Lathief melihat jam tangannya. Pukul 2 siang. Ia menghela napasnya kasar. Ia tidak bisa membantu apa-apa, selain mengerahkan orang-orangnya untuk mencari segelintir manusia dengan golongan darah itu.
"Gimana, Ren?" tanya Raka yang baru saja datang.
Renal menggeleng.
"Belum ada, pa" jawab Renal.
Raka dan Lathief berjalan kesana-kemari, sibuk dengan ponselnya.
Alda bahkan sudah sangat lelah, ia bersandar di tubuh sang mama. Ia menyadari kecerobohan nya. Ia begitu merasa bersalah.
"Kamu minum dulu" Aina membuka tutup botol minum yang dibawanya. Membantu anaknya untuk minum.
"Jaga kesehatan kamu. Ada janin yang bergantung sama mamanya" Aina mengelus perut anaknya.
Alda mengangguk. Ia tentu tak lupa akan janin yang sedang berada dalam perutnya.
"Pak, apakah pendonornya sudah ditemukan?" seorang dokter bertanya.
Semuanya menggeleng.
"Kondisinya benar-benar memprihatinkan. Ia masih begitu kecil, dan juga kehilangan banyak darah. Kami bahkan sudah menelpon semua rumah sakit yang setidaknya bisa memberi darah itu sebelum pukul 5 sore, tapi maaf kami tidak berhasil" kata dokter itu. Dari wajahnya terpancar kesedihan, sepertinya ia juga cukup lelah dan kasihan atas sesuatu yang menimpa pasien mungilnya.
"Masih ada waktu 30 menit. Mari kita sama-sama berdoa, semoga ada keajaiban" lanjut dokter tersebut.
Tangis Alda kembali terdengar. Ia tidak bisa membantu apa-apa. Pun dengan Renal. Ia bingung harus berbuat apa. Anaknya sedang kritis dan dia tidak bisa berbuat apapun bahkan untuk sekedar meringankan sakit anaknya.