Renalda

Renalda
2847 MDPL



Pukul 5 pagi semua telah siap. Perlengkapan sudah kembali masuk ke dalam carrier.


Semalam sebelum tidur mereka mengeluarkan pendapatnya masing-masing tentang kepulangan mereka setelah dari puncak. Dan hasil akhirnya adalah setelah dari puncak mereka pulang lewat jalur lain.


Perjalanan kembali berlanjut. Angga berjalan paling depan, diikuti Rafa, Sandi, Renal, Randi Alda dan terakhir Mika.


Jalur sedikit lebih rumit. Dengan kemiringan diatas 70 derajat tentu saja mereka harus berjalan dengan hati-hati. Setiap langkah yang diambil harus dengan pertimbangan yang matang.


Sampailah mereka di sebuah jalan dengan susunan batu-batu besar. Di sisi kiri dan kanan jalan tersebut adalah tebing tinggi. Orang-orang menyebut jalur ini dengan sebutan jalur keberuntungan.


Katanya, orang yang banyak melakukan dosa tidak bisa melewati jalan tersebut.


Alda berjalan dengan sangat pelan. Memikirkan akan berpijak kemana pada tiap langkahnya.


Hingga ia tiba-tiba terduduk. Kakinya terhimpit batu.


"Dek" Mika mendekati Alda.


Angga berhenti. Semuanya menoleh ke bawah.


"Gimana Ka?" tanya Angga.


"Sepatunya Alda terhimpit" jawab Mika sambil berusaha melepaskan kaki Alda.


"Kakinya di lepas dulu, dek" kata Mika.


Alda mengangguk. Berusaha mengeluarkan kakinya dari sepatu. Setelah berhasil barulah Mika mengeluarkan sepatunya.


"Bisa?" tanya Rafa.


Twins mengangguk.


Alda kembali menggunakan sepatunya.


"Alda jalan depan Rafa, yah" kata Rafa.


Alda mengangguk. Ia kembali berjalan diikuti Rafa dan Mika . Melihat keadaan sudah aman, Angga dan yang lain kembali berjalan.


Empat puluh tujuh menit mereka lalui dengan perjuangan. Sinar surya masih malu-malu untuk menampakkan cahayanya.


Dengan segala rasa syukur, Alda bersujud kemudian memeluk sang kakak.


"Terimakasih" ucapnya.


Mika mengelus puncak kepala sang adik sebagai responnya.


"Sama Mika aja nih? Sama gue nggak?" Rafa merajuk.


Twins terkekeh kemudian membuka tangannya lebar. Dengan cepat lima orang itu berpelukan.


Renal dan Sandi yang melihatnya cukup takjub dengan persahabatan mereka.


"Ren, tolong fotoin dong" Randi memberikan kameranya.


Renal menerima kamera tersebut. Ia mulai memotret kelima seniornya dengan berbagai pose.


"Gue gak difotoin, bang?" tanya Sandi.


Semuanya terkekeh mendengar pertanyaan Sandi.


"Kita foto bareng dulu, yah" kata Randi. Ia mengatur kamera nya dan menyambungnya ke ponsel pintarnya. Ia meletakkan kameranya di atas carrier.


Alda meneguk air untuk menghalau rasa hausnya. Ia menoleh ke samping saat merasakan seseorang duduk.


Renal tersenyum. "Selamat sudah berhasil menginjakkan kaki di tempat ini" katanya.


"Terimakasih sudah menjadi bagian dari perjalanan ini" ucap Alda.


Dengan terpaaan cahaya matahari pagi, wajah Alda terlihat begitu bersinar dan cantik.


Renal mengeluarkan ponselnya. "Kak Al, senyum" kata Renal.


Alda melihat ke arah kamera, kemudian tersenyum.


Alda dan matahari pagi sungguh perpaduan yang sangat luar biasa. Pikir Renal.


Mika yang menyaksikan dua orang itupun tersenyum tipis.


"Woii, Renalda ngadep sini" Kata Randi.


Renal dan Alda menoleh ke belakang. Melihat ke arah kamera sambil tersenyum.


Randi tersenyum puas melihat hasil potret nya. Di foto tersebut keduanya tersenyum. Diantara mereka nampak matahari dengan sinarnya.


"Renalda. Renaldi, Alda. Boleh boleh" celetuk Sandi.


Alda lagi-lagi melempar permen ke arah Sandi.


"Apa sih?"


Sandi dan yang lainnya terkekeh melihat ekspresi Alda.


Alda melihat rute yang telah mereka lewati. Serasa mimpi ia berdiri disini saat ini. Entah berapa jauh kakinya melangkah, semuanya seakan tidak terasa.