
Kediaman Maheswari kini sedang kedatangan dua orang tamu tak diundang. Bak pemilik rumah, Alex berbaring di sofa ruang keluarga. Di sisi lain, Rafa memangku sebuah toples yang berisi keripik singkong buatan bi Sumi, ART di kediaman ini. Sementara pemilik rumah dengan cuek hanya bermain mobile legend di ponsel pintarnya.
"Ran, tau gak Lo, kemarin kita habis naik kincir bareng kak Alda." Alex membuka percakapan.
"Tapi boong" sambung Rian.
Mendengar Rian berbicara, Renal masih asyik dengan gamenya.
"Kak Alda damage nya ruarrr biasa coy. Hanya menatap polos ke bang Mika, bang Mika langsung iyain aja." Alex kembali berbicara.
"Apalagi waktu mau naik wahana kincir itukan." Rian melanjutkan.
Renal memilih menyelesaikan game nya, kemudian menyimpan ponselnya. Ia menatap jengah ke dua sahabatnya.
"Ada yang mulai panas, Lex" Rian mulai kompor.
Alex terkekeh.
"Lo berdua kenapa sih?" Akhirnya Renal mengeluarkan pertanyaannya.
"Kemarin gue, Rian, kak Alda dan bang Mika gak sengaja ketemu di pasar malam. Bukan gak sengaja sih, gue liat duluan terus samperin mereka berdua lebih tepatnya. Terus gue dan Rian di traktir cilok, habis itu naik kincir deh" Alex bercerita.
"Serius Lo?" Tanya Renal tak santai.
Dengan wajah tanpa dosa, Alex dan Rian mengangguk.
"Bang Mika so sweet gilaaa, parah." Kata Rian.
"Posesif juga sih" celetuk Alex.
Rian mengiyakan ucapan Alex kemudian berkata, "Gak pernah melepas tautan tangan, kecuali waktu dia ambil duit di dompet buat bayarin jajanan kak Alda. Jajanan kami juga sih."
"Tahu gak Ren gimana sikapnya bang Mika sewaktu kita lagi naik wahana kincir" tanya Alex.
Renal menggeleng, tanda tak tahu.
"Kak Alda duduk terus nyandar di dada bang Mika. Udah gitu bang Mika ngerangkul pundak doi, sesekali di usap kepalanya. Tanpa peduli ada kami diatas keranjang kincir itu." Dengan menggebu-gebu Alex bercerita.
"Kira-kira ada hubungan apa yah antara kak Alda dan bang Mika?" Rian bertanya.
"Berteman. Mereka tumbuh bersama sejak kecil." Renal menjawab.
"Tau darimana Lo?" Kini Alex yang bertanya.
"Sandi yang bilang. Kak Dian yang cerita" jawab Renal.
"Lo yakin tetep deketin kak Alda? Mesti Lo tau macan disekitarnya segarang apa?" Tanya Rian.
Renal mengangguk tanpa ragu.
"Kuatin mental Lo yah, bro." Alex memberi semangat.
✨✨✨
Sabtu sore, anak penghuni rumah nomor 5, 6, 7 dan 8 sedang menikmati pisang goreng ala Alda. Alda tentu saja dengan susu coklatnya, sedangkan empat orang lainnya dengan teh hangat.
"Ehh Ran, tahu gak Lo ?" Pancing Rafa.
Randi yang terpancing pun melihat ke arah Rafa. "Gak tahu, Raf." Katanya.
"Kemarin, di asrama ada sepasang anak manusia makan ice cream. Mana mesra banget pulak" Rafa berbicara dengan serius.
"Siapa, Raf?" Angga ikut terpancing.
"Ada deh. Makanya itu orang gak minta ice cream lagi sama kita-kita. Karena sudah punya yang baru" Rafa memulai perkara.
Alda yang merasa ngeh pun mulai angkat bicara. "Gak gitu yah. Alda sama Renal kan gak sengaja ketemu. Terus Alda diajak makan ice cream. Alda terima dong tawaran Renal. Alda gak minta ice cream karena gigi Alda terasa ngilu sejak kemarin"
"Noh, dengerin" Mika angkat suara.
"Iyeee, twins boss" serempak Angga, Rafa dan Randi.
"Nanti malam nge-mall yok" Angga mengemukakan idenya.
"Boleh tuh. Kita ke stand Nike tapi. " Rafa menyetujui dengan syarat.
"Gampanglah." Mika dan Angga juga menyetujui.
"Dedek Al, gimana?" Tanya Rafa.
"Yoklah. Tapi traktir boneka Teddy yah" Alda dengan senang hati menyetujui rencana mereka nanti malam.
"Kayak orang gak mampu aja, minta dibeliin" cibir Rafa
.
Alda hanya cengengesan mendengar cibirann Rafa.
"Kayak gak tahu aja adek gue gimana. Tuh kartu gak pernah tergesek." Kata Mika.
"Kira-kira duit Alda ada berapa yah?" Randi bertanya random.
"Yee, itu sih kata Lo." Rafa menghimpit leher Alda dengan lengannya. Membuat Alda susah untuk bergerak.
"Gak tahu gue." Mika menjawab pertanyaan Randi.
"Dibilangin gak punya juga. Noh, yang banyak duit kan kalian" Alda merendah.
"Yang banyak duit yah papi James, bapak Halim, yang punya kekuatan negara, bapak yang suka bedah tubuh orang juga sih banyak duitnya." Kata Rafa.
Malam harinya mereka tiba di sebuah mall di kota kecil itu. Alda tentu saja berada dalam rangkulan sang kakak, Mika. Sementara Angga, Rafa dan Randi sesekali berjalan di belakang twins, sesekali mereka di depan. Tergantung situasi dan kondisi.
"Dedek, bagusan warna merah atau hitem?" Tanya Mika sambil menenteng dua pasang sepatu. Merah di sebelah kiri den hitam di sebelah kanan.
"Keren yang merah kak" Alda memberikan pendapatnya.
Mika mengangguk. Ia kemudian menemui pegawai di stand sepatu itu, kemudian berjalan ke arah adiknya yang sedang duduk menunggu para cowok memilih sepatu.
"Yok, cabut." Kata Rafa yang sudah menenteng belanjaannya. Diikuti Angga dan Randi.
"Tunggu dulu, gue ambil barang dulu" Mika kemudian mencari pegawai tadi . Tak lama, ia kembali sambil menenteng dua paper bag belanjaan.
"Makan kuy" ajak Alda dengan mata berbinar-binar.
Keempat orang lelaki yang menemaninya tentu saja mengangguk. Dan pilihan mereka jatuh pada restoran yang terkenal dengan menu tradisional nya.
Tanpa diperintah Alda memesan makanan untuk dirinya dan tentu saja untuk empat orang pengawalnya. Ia sudah hapal apa saja yang disukai oleh mereka, apa yang perlu mereka hindari dan juga hal lainnya.
"Itu bukannya Renal, yah?" Mika menunjuk ke arah dimana seorang pria tengah mengantri untuk memesan.
Alda dan tiga orang sahabatnya menoleh ke arah dimana Mika memberikan instruksi.
"Iya, dia Renal." Kata Alda.
Tanpa malu Rafa berteriak. "RENAL"
Tanpa ba-bi-bu Angga menjitak kepala Rafa. "Malu-maluin aja" keluh Angga.
Rafa hanya bisa meringis mendapat jitakan maut dari Angga.
Renal yang mendengar teriakan memanggil namanya pun, memilih mendekat ke asal suara.
"Iya bang, kenapa?" Tanya Renal.
"Itu, tadi Alda nyuruh gue teriakin Lo" Rafa mulai mengarang cerita.
"Nggak yah" bantah Alda dengan wajahnya yang sudah semerah tomat.
Renal yang mendapat pernyataan itu pun melihat ke arah Alda. "Kenapa kak Al?" Tanya Renal.
"Gak, bukan Alda yang manggil. Serius." Kata Alda sambil mengangkat dua jarinya membentuk V.
"Sini, makan sama kita aja. Lo sendiri, kan?" Mika mengambil jalan tengah.
"Gue nggak ganggu kan?" Renal memastikan.
Kelimanya mengangguk.
"Santailah, kayak sama siapa aja." Randi ikut bicara.
Renal tergabung dalam meja itu. Suasana nampak ramai. Tidak ada lagi kecanggungan yang terjadi.
"Ren, gue boleh minta tolong, gak?" Mika mulai angkat bicara.
Renal mengangguk. "Apa tuh, bang?" Tanyanya.
"Tolong anterin Alda pulang ke rumah gue yah. Soalnya gue sama Randi, Angga dan Rafa mau ketemu teman dulu." Jawab Mika.
"Gak usah, kak. Alda ikut kak Mika aja." Alda menolak. Ia tidak enak hati.
"Pulangnya malem banget loh. Adek pulang duluan aja. Renal ikhlas kok nganterin nya. Iya kan, Ren?" Tanya Mika.
"Ikhlas kok, kak" jawab Renal.
Alda menyetujui ucapan sang kakak. Ia kemudian pamit dan masuk ke dalam mobil Audi R8 itu. Duduk di depan, dekat kursi pengemudi.
"Maaf yah, ngerepotin" ucap Alda saat mobil membelah jalan kota kecil itu.
"Gak ngerepotin kok. Lagian rumah gue dan bang Mika juga searah, satu kompleks pula." Jawab Renal.
Keadaan kembali hening. Hal itu terjadi sampai mereka sampai di kompleks Arunika.
"Thanks yah , Ren." Alda melihat ke arah Renal.
Dengan senyum teduhnya Renal mengangguk. Kemudian ia mengacak rambut Alda.
"Good night." Katanya.
"Night. Sleep tight" Alda membalas ucapan Renal, kemudian membuka pintu meninggalkan Renal yang masih tersenyum.