Renalda

Renalda
Mrs. Renaldi Maheswari



Warga RelFath merayakan pernikahan cucu dari seorang Ares Arunika dengan begitu meriah. Meskipun pada dasarnya resepsinya hanya dihadiri oleh keluarga inti dan orang-orang terdekat, mereka semua bisa melihatnya di televisi yang ada di rumah mereka.


Ares sendiri yang memintanya untuk mengabadikan pernikahan cucunya dan memperlihatkan nya pada warga RelFath.


"Selamat, nak. Sekarang sudah jadi Mrs. Renaldi Maheswari" Ares mencium kening cucunya cukup lama.


Alda menahan tangisnya. Memeluk erat pinggang sang kakek.


"Jangan nangis, nanti make up nya luntur" goda Hans yang berada di belakang Ares.


Ares mengusap pipi cucunya.


"Renal Maheswari, saya titip cucu saya. Jaga dia dengan baik, lakukan segala upaya untuk kebahagiaan nya." pinta Ares.


"Tentu kakek. Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakan cucu kakek" kata Renal.


"Dia ini permata kami. Identitas kami. Jagalah cucu opa dengan baik." kata Hans yang juga sedang memeluk tubuh cucunya.


Renal mengangguk.


"Pasti, opa" katanya.


Alda terlihat begitu cantik dengan balutan gaun berwarna peach, rambutnya di hias ala-ala princess di negeri dongeng. Sementara Renal terlihat begitu tampan dengan tuxedo nya yang berwarna senada dengan gaun Alda.


Orang-orang Ares diberi kesempatan untuk berfoto dengan mempelai, menggantikan para kerabat yang tidak diundang.


Dina meminta untuk membuat resepsi lagi setiba mereka tiba di kota A nanti. Hal itu tentu diiyakan oleh Aina. Aina mengerti betul akan keinginan sang besan. Apalagi Renal adalah putra satu-satunya.


"Dedek gemesh kita udah nikah aja" kata Angga.


"Selamat, sayang" Randi memeluk Alda.


"Jagain princess gue" katanya pada Renal.


Alda masih betah dalam pelukan Randi. Randi meskipun dingin seperti kutub, tapi jiwanya hangat. Ia hanya hangat ke beberapa orang terdekatnya.


"Siap, bang" kata Renal.


"Time flies so fast. Kita semua sudah sebesar ini. Masing-masing punya kesibukan. Angga, Randi, cari gih menantu buat mama Priska dan Arwini, kasian beliau sudah tua, tidak ada yang menjadi temannya untuk bercerita" ceramah Mika.


"Soon" ucap Randi dan Angga bersamaan.


"Ren, Alda itu segalanya buat gue, meskipun sekarang ada Ivana. She is my sister, my twins, my everything. Kebahagiaannya tentu hal yang penting buat gue. Terima kasih Lo udah nepatin janji Lo" kata Mika.


Renal mengangguk. Alda terisak mendengar ucapan sang kakak. Ia memeluk Mika erat, orang yang sudah bersamanya sejak dalam kandungan hingga saat ini. Mika, sosok panutan untuk Alda.


"Udah jangan nangis. Kakak gak pergi lho ini. Kita masih tetanggaan nanti." Mika mengusap air mata adiknya, kemudian mencium kedua matanya dan terkahir dikeningnya, cukup lama.


"Ivana mana?" tanya Alda.


"Lagi dibajak mama untuk dipamerin" jawab Mika.


Jawaban Mika membuat Alda tertawa kecil.


Kebahagiaan menyelimuti Alda hari ini. Lelaki yang ditemuinya 6 tahun lalu kini berada didekatnya, sebagai suaminya. Keluarganya, tetangganya yang penuh kasih, kakaknya serta sahabat-sahabatnya terlihat begitu bahagia melihat dirinya menjadi seorang istri. Meskipun begitu, sebagian kecil hatinya merasa hampa, merasa rindu akan sosok sahabatnya yang sudah pergi begitu jauh. Rafa Mahendra. Alda akan diam-diam mengusap air matanya jika mengingat sosok sahabatnya itu. Papi James juga Mami Rina tidak bersama dirinya saat merasakan hari bahagia. Betapa Tuhan sangat berkuasa tentang hal yang ada dimuka bumi. Sedangkan kita semua hanyalah butiran debu.