My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 99. Find You



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Eva


Ia terus mengemudikan mobil milik Resita walau ia sempat kehilangan jejak managernya itu. Menggunakan instingnya bak agen yang berada di film-film action. Yeah!


" Va, sumpah aku merinding banget. Aku belum pernah lewat jalan ini lho Va!" Ucap Dian resah seraya celingak-celinguk di pekatnya malam yang mengerikan.


" Tunggu dulu, ini kan...jalan menuju ke hutan cengkeh itu, aku pernah lihat di instagramnya si Resita! Ya bener ini, astaga Va! Hutan ini itu angker lho Va!" Rengek Dian dengan alis yang tiada berhenti berkerut.


" Eh botol kecap! Wujud lu doang yang laki. Nyali lu kelas nini nini!" Dengus Eva yang benar-benar sebal. Dian sedari tadi bukannya membuatnya lebih berani, malah tambah membuatnya kesal dan takut.


" Sialan lu bilang aku nini. Nini Thowok kali!" Sahut Dian berengut.


Hah, sepertinya jiwa mereka berdua telah tertukar. Yang satu wanita sifat lelaki, yang satunya wujud lelaki sifat Barbie Tumbelina. Oh ya ampun!


" Eh Va, sek sek... itu bukannya Pak Erik?" Ucap Dian kala ia melihat pria tinggi berkemeja biru yang wajahnya berkilau karena tersuluh lampu mobil yang mereka kendarai.


" Beneran itu Pak Erik. Lah, ngapain mereka berdiri di tengah jalan gitu!"


Eva menajamkan pandangannya, demi mengikuti objek yang di sebut serta di tunjuk oleh Dian. Dan kali ini, rekannya itu sepertinya tak salah penglihatan.


" Berguna juga kali ini elu Yan. Matamu belum rabun rupanya!" Cibir Eva seraya terkekeh.


" Kok ada manusia kayak elu Va. Udah buruan, eh tapi kenapa mereka pada jongkok? Kemana mobil mereka?"


Eva yang meyakini jika sekumpul manusia yang bergerombol diatas tanah dengan sampah daun mahoni yang gugur itu merupakan Erik, seketika tancap gas.


Dan beberapa saat kemudian.


" Pak!" Seru Eva lantang sesaat setelah ia membuka kaca mobilnya. Berteriak sekeras-kerasnya demi rasa bahagia sebab telah menemukan Erik.


" Lah Va, itu siapa? Pak Demas ya itu? Lha yang satunya, wajahnya kayak pak Erik, tapi kenapa lebih mengerikan?" Ucap Dian dengan tatapan tak lepas dari empat pria yang nampak syok itu.


" Cangkemmu Yan!"


Dian seketika berengut manakala di damprat oleh Eva. Sialan!


Eva seketika turun usai menarik tuas handbreak dengan mesin yang masih menyala, agar lampu mobilnya masih memancarkan cahaya guna memecah kegelapan.


" Eva?" Ucap Erik dan Demas secara bersamaan. Membuat Tomy dan David saling bertukar pandang.


" Pak Demas? Astaga Pak, Bapak kenapa?"


Alih-alih di kejutkan, sikap penuh kekhawatiran yang ditujukan oleh Eva kepada Demas lah yang justru membuat ketiga pria itu terkejut.


" Awhh!" Ringis Demas kala Eva yang nampak panik spontan menyentuh bagian yang nyeri itu. Membuat Erik melongo.


" Maaf Pak!" Balas Eva dengan wajah iba. Merasa bersalah karena tak sengaja menyentuh daging yang telah koyak itu.


" Demas tertembak!" Terang David sengaja menginformasikan kepada dua anak muda yang entah mengapa menyusulnya itu.


" Apa? Pak Dem? " Eva makin menatap muram ke arah Demas. Sejurus kemudian pandangannya kini bertumbuk kepada luka dengan darah yang terus merembes. Lengan kokoh yang terbebat sobekan kain baju David itu, nampak tidak baik-baik saja.


" Kamu ngapain kesini?" Tanya Erik tak habis pikir demi mewakili dua tetua yang sama penasarannya itu.


" Ngikutin Pak Erik lah ngapain lagi. Pak Erik tadi kemana sih, kita nungguin sampai ngantuk tapi enggak lihat lewat!"


Dan jawaban Eva yang barusan, sukses membuat keempat pria itu benar-benar terkejut. Nekat sekali pikirnya.


" Pak!" Eva mengangguk hormat seraya meringis kala ia menatap David dan juga Tomy. Dian nampak turut mengangguk sungkan.


" Ini bahaya, kenapa kalian ikut?" Tanya David yang sebenarnya tak setuju dengan aksi nekat mereka.


" Arimbi sahabat saya Pak, saya gak bisa cuma tinggal diam gitu aja. Please pak, libatkan kita dalam pencarian Arimbi dong, aku kan..."


" Disini bahaya, kau pikir kita ini liburan?" Sergah Demas menyela dengan wajah keruh. Membuat David dan Tomy saling melirik.


Apa mereka bertengkar?


" Aku enggak takut!" Eyel Eva dengan wajah tidak mau kalah. Membuat Demas memijat keningnya frustasi.


Kini, kedua manusia beda jenis itu seperti sejoli yang terlibat kisruh rumah tangga saja.


" Eh tunggu dulu, ngomong-ngomong anda ini...?"


" Beliau Papanya pak Deo, Tuan David!" Jawab Erik. " Kalau ini papaku!"


Dian seketika melongo. Pantas saja pria berwajah oriental itu benar-benar mirip dengan Erik.


" Pak david? Lha, kok bisa..ikut...kemari?" Tanya Eva ragu. Menatap ke arah pria matang yang benar-benar berwibawa itu.


" Psstt, elu ngapain pakai nanyain hal itu segala kampret?" Bisik Dian resah sesaat setelah mencubit pinggang Eva.


" Apa boleh buat aku kan penasaran?" Balas Eva saling berbisik.


" Menantuku dalam bahaya, tentu aku tidak akan tinggal diam!"


" Hah, menantu?"


.


.


Deo


Namun, ada sejumput rasa tak tega manakala ia meninggal Roro sendirian disana.


" Apa yang kau lakukan, kau mau kabur hah?"


PLAK!


Ia sempat tiba-tiba berhenti demi mendengar jeritan Roro yang ia yakini telah di tampar oleh Bram saat itu. Membuat Deo memejamkan matanya demi keadaan yang benar-benar membuatnya merasa geram.


" Bajingan!" Ia hanya bisa mengepalkan tangannya sebab ia kini benar-benar khawatir terhadap Arimbi.


Bagaimanapun juga Roro juga telah berkontribusi memberinya informasi terkait istrinya itu. Namun, agaknya Deo jelas memiliki skala prioritasnya sendiri.


Deo seketika berlari menuju ke arah jendela lalu melompat keluar. Lagipula, cepat atau lambat, pasti setelah ini Bram akan mengetahui jika ia telah memporak-porandakan villa dan anak buahnya.


Dan beberapa jam kemudian, Deo nampak mengatur napasnya usai berlari dengan jarak yang tak main-main. Pria itu terlihat tersengal-sengal kala ia mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak.


" CK, tidak ada sinyal!" Ia mendecak kesal demi melihat ponsel yang tak memiliki jaringan sama sekali itu. Mau bagiamana lagi, ia memang tengah berada di tengah hutan dengan pepohonan yang rimbun.


Niat hati ingin menghubungi Demas, namun kondisi benar-benar tidak mendukung.


Deo memilih membuka aplikasi kompas dalam ponselnya. Kilasan ingatannya kembali manakala Roro mengatakan jika Arimbi jatuh ke jurang.


Deo lantas melajukan langkahnya lagi, pria itu nampak gencar mengikuti arah mata angin yang sepertinya sedikit membuatnya beruntung.


Deo yang sedari kecil cukup familiar dengan teritorial villa yang beberapa kilometer lagi berbatasan langsung dengan kebun cabai miliknya itu, sedikit lebih bisa memahami topografi wilayah disana.


" Berjanjilah kau harus selamat Ar!" Deo bahkan menitikkan air matanya kala mengucapkan hal itu.


Kini, ia benar-benar tahu akan kehadiran istrinya. Ia tahu dan paham arti sebuah kerinduan dan siksaan yang hadir karenanya.


" Tolong selamatkan dia Tuhan!" Lirihnya dengan kaki yang terus bergerak maju, membelah rerumputan liar dengan penerangan yang begitu minim.


Apalagi, tangis Jessika yang benar-benar pilu beberapa waktu lalu, semakin membuat dirinya gencar membuang rasa lelah yang mulai menyerangnya.


Ia berjalan dan terus berjalan. Tiada letih walau daya semakin melemah. Tersandung, bahkan tak sengaja bertemu binatang melata nocturnal, tak menyurutkan niatnya untuk mencari Arimbi.


Di sisa tenaganya yang habis terforsir, Deo menguatkan niatnya, tak akan berhenti berjalan sebelum menemukan Arimbi. Apapun kondisinya .


.


.


Arimbi


Suara burung malam membuat kuduknya berdiri. Membuat pori-pori di kulitnya menebal. Ia yang belum pernah mengalami tersesat atau hal mengerikan semacamnya itu, kini hanya diam memeluk lututnya, sembari melantunkan doa-doa guna mengusir pikiran negatif.


Alas atau hutan jelas merupakan tempat yang benar-benar menakutkan. Apalagi, di malam yang gelap itu, Arimbi hanya seorang diri. Bukan hal tabu jika jin dan dedemit jelas menjadi salah satu penghuni tempat seperti itu.


KRETEK


Ia mendadak terkejut lalu seketika tertegun dengan jantung yang berdetak lebih kencang, manakala mendengar sebuah suara.


" Siapa itu?" Batinnya dengan degup jantung yang tremor.


Sungguh, Arimbi lebih memilih bertemu dengan manusia jahat, ketimbang dengan hantu atau makhluk astral lainnya.


Arimbi semakin menajamkan pendengarannya, kala suara langkah itu terlihat menuju ke arahnya.


Oh tidak!


Di sela dirinya dalam menahan rasa sakit yang perlahan mulai membuat tubuhnya demam itu, Arimbi terlihat berdiri sembari meraih sebuah kayu yang ada di dekatnya, dan nampak bersiap demi langkah yang semakin mendekat itu.


Keringat dingin sebesar biji kacang itu, nampak membasahi kening Arimbi manakala sebuah sorot lampu samar-samar tertangkap oleh netra jernihnya.


DEG


Jelas menegaskan jika ada sosok yang akan mendekat ke gubuk tempatnya berlindung.


" Siapa itu? Bagiamanapun ini?" Ucapnya dalam hati penuh dengan keresahan.


KRETEK


Lagi, bunyi ranting kering yang terinjak itu makin membuat rasa deg-degan Arimbi kian membuncah.


Arimbi menyiapkan diri kala sosok itu benar-benar telah dekat dan nampak akan memasuki gubuk yang ia huni.


Dan sejurus kemudian.


BUG


BUG


" Argghh!!"


Arimbi mendelik demi mendengar suara seseorang yang mengerang kesakitan karena ulahnya.


.


.


.


.


.