My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 127. Cinta itu, deritanya tiada akhir



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Demas


" Tunggu!"


Ia menyergah Eva yang hendak membuka pintu mobil, sesaat setelah wanita itu melepaskan sabuk pengaman yang semula dikenakannya.


" Bolehkah aku antar ke dalam?" Tanyanya dengan sorot mata redup.


Jakun milik Demas bahkan nampak bergerak sesaat setelah mengucapkan kalimat itu. Menandakan jika pria itu sebenarnya tengah ketar-ketir.


Hening.


Eva menatap Demas penuh keraguan, dan pria itupun sama. Semacam ingin namun tanggung untuk mengatakan.


Namun, diluar dugaan wanita itu ternyata mengangguk, " Ikutlah!"


Tanpa menunggu lagi, laki-laki itu nampak membuka pintu lalu keluar dan mengikuti langkah Eva yang nampak lesu.


Dalam derap langkah yang terukir, segumpal mitigasi soal perasaannya mendadak menyelinap. Memaksa serta mendesak naluri laki-laki itu untuk mengeluarkan apa yang selama ini tertahan.


CEKLEK


Ia turut mengedarkan pandangan kala pintu itu telah terbuka sempurna. Nampak kosong, tiada menampakkan penghuninya lain selain mereka berdua.


" Ibu sepertinya udah tidur. Makasih udah mau ngantar. Aku masuk dulu. Pulanglah! Laopo, Pak Demas besok harus bantu Pak Deo buat ngurus acara pernikahannya kan?"


Demas mengangguk. Membuat Eva menyunggingkan senyum singkat dengan wajah lelah.


" Tunggu dulu!" Ucap Demas dengan tangan terulur dan sukses membuat Eva menunda langkahnya.


" Ada apa?" Tanya wanita itu.


" Eva, aku...aku ingin mengatakan sesuatu!" Ucapnya dengan tergagap. Sial!


Membuat Eva mengerutkan keningnya. What's wrong?


HREP!


Bukannya menjawab, detik itu juga Demas justru menarik Eva kedalam pelukannya. Menciumi puncak kepala Eva dengan penuh kesungguhan, lalu menghirup aroma rambut wanita itu sembari memejamkan matanya.


Membuat Eva seketika membeku.


" Pak Demas?"


" Aku tahu kau adalah wanita kuat!" Ucap Demas demi mengingat bahwa rupanya dibalik sikap bar-bar Eva, tersimpan sejuta kenestapaan soal keharmonisan sebuah keluarga.


"Jangan memintaku untuk menjauhimu. Jangan pernah!" Ucapnya lagi masih dalam posisi memeluk, dengan pikiran yang melesat pada kejadian beberapa saat yang lalu.


" Karena entah mengapa, aku ingin selalu melihatmu. Setiap detik, menit, jam, setiap hari."


" Eva...,"


Saat suara Demas mulai terdengar bergetar dan tercekat, mata serta hidung Arimbi mulai turut memanas.


Kenapa dia?


Apakah dia juga merasakan hal yang sama?


" Jadilah kekasihku! Apa kau berkenan?"


DEG


Jantung Eva seketika berdebar lebih kencang dari biasanya. Pria itu menembaknya?


Memang tidak seromantis kisah Romeo dan Juliet. Namun rasa yang membuncah dalam dada Demas, sudah tak bisa lagi ia tahan.


Demas jatuh cinta kepada Eva.


Ya, Eva yang sangat jauh dari kata elegan, Eva yang kerap membuatnya kesal, dan Eva yang berani menciumnya tanpa izin di tempat umum itu, nyatanya mampu mengusik hati, pikiran serta perasaan Demas.


Adik Deo itu nampak melepaskan pelukannya dengan mata yang buram akibat kristal bening yang berjejalan di pelupuk matanya.


Terasa mengharukan.


" Maukah?" Lirih Demas dengan jakun yang kembali bergerak. Hangat harum segar napas Demas, bahkan seketika mengalir mengisi laju darah Eva yang berdesir.


Eva yang mati-matian menahan kristal bening itu, hanya bisa menatap Demas tak percaya.


Wanita itu sejurus kemudian menitikkan air matanya, lalu mengangguk mantap saat bendungan air mat itu kian tak terbendung.


Yes!


I want to!


Eva rupanya juga memiliki perasaan yang sama terhadap pria datar yang lebih kejutan itu. Membuat hati Demas kini meledak-ledak sebab Eva menerima tawarannya.


Pria itu seketika kembali merengkuh tubuh Eva dengan gerakan cepat dan penuh luapan kebahagiaan.


Dipeluknya wanita itu semakin dalam dan dalam lagi.


" Terimakasih sudah mau menerimaku. Aku janji akan membuat kalian bahagia dengan caraku!"


.


.


" Kamu kenapa, monyong aja?" Tanya Mama Eka di jam semalam itu yang sengaja menunggu kepulangan Erik.


BRUK


Erik menjatuhkan tubuhnya dengan gaya lemas ke pangkuan Mamanya, sesaat setelah ia membuka jaket yang ia kenakan.


Ya, Tomy dan Eka yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing itu, memang sengaja menunggu Erik yang tadi berpamitan akan kerumah Deo.


" Aku suka heran deh sama kaum betina Ma!" Ucap Erik dengan mata yang masih terpejam di pangkuan Mamanya.


Membuat Eka juga Tomy saling bertukar pandang. Apa yang terjadi dengan putra sulungnya itu?


" Kamu enggak kenapa-kenapa kan Rik?" Mama Eka malah membolak-balikan kepala anaknya, mengecek seolah anaknya itu baru saja mengalami benturan kepala.


Oh ya ampun!


"CK, Mama ini kenapa sih, malah di bolak-balik. Pusing tau!" Gerutu Erik demi tingkah konyol Mamanya.


" Lagian, kamu ini enggak biasanya begini. Katanya ngambil seragam, bukannya seneng, balik-balik malah kayak orang habis kena obat pencahar!" Sahut Eka seraya mendengus.


Erik nampak kembali ke mode lesu. Tatapannya menerawang dan seolah ingin mengutarakan sesuatu.


" Si Wiwit Ma, enggak ada balas pesan. Hah! ( menghela napas panjang)"


" O jadi kmu ceritanya galau?" Tanya Eka seraya memutar bola matanya malas.


Erik mengangguk sembari membetulkannya posisinya meringkuk dengan bantal paha Eka yang kini lebih tambun.


" Rasanya, enggak enak banget. Serba salah!" Ucap Erik kembali.


" Mama penasaran deh, kayak apa sih wanita yang buat anak Mama kalang- kabut begini?" Ucap Eka terkikik-kikik.


" Tapi, Papa kamu dulu aja sama Mama juga begitu Rik. Belingsatan dia tiap ketemu Mama!" Ucap Eka bertambah tergelak


Membuat Tomy dan Erik kompak melirik seraya menyebikkan bibirnya. Dasar emak-emak penguasa!


" Menolak lupa atau gimana? Yang dulu nangis-nangis waktu aku diculik siapa ya?. Yang cemburu saat pesta pernikahan si Arin siapa ya? Hah, sepertinya ada yang mau memutarbalikkan sejarah!" Sindir Tomy dengan jari kekarnya yang masih mencumbu keyboard laptop.


Membuat Eka seketika melirik suaminya. " Lha, kok papa gitu sih. Itu kan udah lama banget!"


" Ya tapi bener kan?" Sergah Tomy.


" Kok malah kalian berdua yang ribut sih!" Protes Erik yang semakin mumet kala kedua orangtuanya justru berdebat.


Membuat Eka malah tekrikik-kikik kala melihat wajah anaknya yang berengut dan bersungut-sungut.


" Katamu dia bekerja dan buka kedai. Wajar kalau dia nggak seperti wanita kebanyakan yang hidupnya cuma asik bergaya Rik. Kamu juga harus tahu, enggak semua wanita itu kayak Mama yang kerjaannya mantengin hape sebab jadi netizen!" Terang Eka penuh anggukan mantap.


" Saran Mama, kalau kamu bener-bener punya waktu luang, temui dia, ajak dia makan, keluar. Masa kayak gitu aja minta diajari. Rugi banget jadi anak-nya Mama!"


Tomy hanya geleng-geleng kepala. Sungguh anak dan orangtua yang benar-benar plek - ketiplek.


" Papa dengar dia itu belum bisa nerima kenyataan kalau suaminya sudah meninggal!"


What?


" Lha, kok Papa tahu?" Ucap Eka dan Erik secara bersamaan.


Membuat Tomy seketika menutup laptopnya, lalu menatap lurus anak dan juga istrinya.


" Mama lupa, Papa ini dulunya siapa dan sebagai apa?" Tanya Tomy dengan wajah datar seperti biasanya.


Membuat Eka menyebikkan bibirnya. Sombong amat!


" Tuan David sudah memintaku menyelidiki asal usul keluarga Arimbi sejak mereka baru menikah siri tempo hari. Wiwit adalah anak dari saudara ibunya Arimbi. Jadi, mereka adalah sepupu!"


" Dari info yang Papa dapat, suaminya tenggelam kurang lebih tiga tahun yang lalu saat mencari ikan!"


Membuat Erik tertegun. Sama sekali tiada mengira jika antara om David juga papanya masih saling terhubung. Benar-benar luar biasa!


" Kok Papa enggak ada cerita ke aku?" Protes Erik.


" Orang kamu nggak nanya!"


Hah?


Membuat Erik mendengus.


" Lagipula, Papa mana tahu kalau kamu suka sama sepupunya Arimbi!"


Membuat ketiganya kini larut dalam pikiran masingmasing. Sungguh memusingkan.


" Rik! Papa enggak bakal ngalang- ngalangin kamu buat dekat dengan siapapun. Bagi Papa, yang penting kalian bisa menerima satu sama lain, dan menghargai apa itu ikatan hubungan. Jangan sembarangan mempermainkan pernikahan!"


"Tapi persoalan terbesarnya adalah, sekalipun Wiwit terlihat ramah dan baik terhadap siapapun, tapi hatinya sepertinya sulit untuk menerima sosok baru!"


Kini, Erik nampak tercenung usai mendengar sederet penjelasan dari sang Papa. Pun dengan Eka yang benar-benar terkejut, sebab suaminya sepertinya masih menjadi agen yang handal hingga saat ini. Buktinya, segala akses informasi bisa dengan mudah dia dapatkan.


" Bantu aku Tuhan!" Lirih Erik dalam hati seraya memejamkan mata.


Lagi-lagi benar juga kata Cupatkai. Cinta itu, deritanya tiada akhir.


.


.


.


.