My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 161. Mencium aroma kebusukan



...🌿🌿🌿...


...β€’...


...β€’...


...β€’...


Pasca pembicaraan serius antara Demas dan David beberapa hari yang lalu, semua keadaan berubah. Demas lebih bisa menahan diri, walau kecurigaannya makin mendasar.


Semua lini berjalan pada porosnya. Arimbi juga semakin kompak dengan Deo, dalam mempersiapkan diri pada trimester pertama kehamilannya.


Detik yang berlari, berubah menjadi hari yang menggelar kesempatan, dan hari yang berganti, berubah menjadi Minggu yang syahdu, membawa serta perubahan dalam kesehatan Demas walau belum sepenuhnya.


Meski suasananya canggung cenderung kaku, namun Eva tetap setia berada di samping Demas. Ia meyakini, bila pengorbanannya kelak tidak akan menjadi sia-sia.


Eva juga semakin menebalkan muka, dengan semangat menulikan telinga, manakala melihat Demas sering insecure juga kerap lost control. Eva yakin, bila cintanya kepada Demas lebih besar dari pada rasa nelangsanya.


Inilah ujiannya, inilah cobaannya.


Hubungan Wira dan Claire nampak makin dekat, walau anak sulung Leo itu sengaja tak pernah membagi kisah ini kepada keluarganya, namun tanpa keluarga Darmawan ketahui, keduanya semakin memupuk kisah cinta mereka dengan kesungguhan.


Namun, mereka agaknya tiada menyadari, bila badai pekat tengah mengintai dan sewaktu-waktu bisa saja memporak-porandakan seluruh dunia mereka.


Wanita itu menjadi jarang bertemu dengan Wira sebab ia harus bolak balik ke kota S guna mengurusi pekerjaannya yang sepertinya akan membuka cabang di kota B.


Ya, circle kehidupan yang selalu karib dengan usaha itu, membuat Claire yang notabene juga keturunan Darmawan turut mencoba peruntungannya dalam berbisnis.


Sebuah klinik kecantikan dengan brand skin care yang dirintis oleh Mama Bella, nampak ingin ia lebarkan sayapnya di kota yang menjadi sejarah elektabilitas keluarga Darmawan itu.


Hingga, malam ini, ia yang baru landing sengaja ingin menemui Wira sebab sudah sangat lama tidak bertemu.


Jangan tanya mengapa, karena sudah pastilah rindu yang menjadi jawabannya.


" Mau coba ini?" Tunjuk Claire kepada daftar menu sembari memperlihatkan ke arah Wira yang nampak tak seperti biasanya.


" Samain aja sama kamu!" Jawab Wira mencoba tersenyum, meski entah mengapa malam ini ia lesu.


Bukan karena tak suka bertemu dengan Claire. Namun sidang Anthoni lagi-lagi di tunda. Membuat seluruh pikirannya tercurah kepada kasus berat yang menimpa kakaknya.


Usai menginformasikan menu yang akan mereka pesan kepada pelayan, Claire menatap lekat pria yang menjalin kedekatan dengannya walau tanpa status yang jelas itu dengan tatapan sayang.


" Apa ada masalah?" Ucap Claire lebih serius demi melihat segurat kegelisahan pada Wira.


Wira membasuh wajahnya dan kini menyuguhkan raut tegang. Berusaha menggugurkan keresahan.


Sejurus kemudian, pria itu terlihat meraih tangan Claire lalu mengusapnya lembut. Membuat Claire mengerutkan keningnya. Ada apa?


" Apa pendapatmu tentang balas dendam?" Tutur Wira spontan menatap lekat Claire.


Kini, Claire bukan saja menatap tak mengerti ke arah Wira, namun wanita itu seketika dibuat bingung dengan pertanyaan laki-laki tampan di hadapannya itu.


" Kamu nggak lagi..." Jawab Claire dengan wajah menebak.


" Intermezo aja!" Timpal Wira yang menyadari jika Claire sepertinya agak terkejut. Membuatnya mengurungkan diri untuk jujur tentang siapa dirinya.


Not today!


Ya, Wira tak mau kehilangan Claire. Ia takut jika Claire menjauhinya karena ia merupakan adik dari seorang penjahat.


Walau sebenarnya, keduanya tak mengetahui bila bom yang tengah mereka bawa kemana-mana itu, bisa saja meledak sewaktu-waktu.


" Menurut aku sih, ini relatif. Sepengetahuan aku, balas dendam itu ya...hanya akan melahirkan dendam yang gak bertepi!"


" Ibaratnya, sesuatu yang enggak akan ada ujungnya, kalau tidak kita sendiri yang berniat memungkasi!"


"Kenapa tidak mencoba untuk memaafkan aja. Ya, ini sih bahasan receh ya.. soalnya aku gak pernah begitu sih!" Jawab Claire meringis, menampilkan senyuman menggemaskan.


Membuat Wira terdiam. Polos sekali pikiran wanita yang ia sayangi itu.


" Sepertinya aku tidak perlu menceritakan hal ini kepada Claire. Dia terlalu polos!"


.


.


Demas


Malam ini, ia tk bisa memejamkan matanya barang sejenak. Ingatannya soal Raja yang beberapa saat lalu menolong Eva saat tangannya teriris pisau, membuatnya terusik.


Dan jujur saja, selama ini Demas merupakan tipikal orang yang cuek.


Telah berulangkali ia membaca CV atau Curricullum Vitae milik Rajandra demi memuaskan rasa penasarannya. Namun, tak satupun teka-teki yang bisa ia pecahkan.


Rajandra hanyalah pria muda yang umurnya berada diatasnya, dan saat ini tercatat sebagai yatim piatu yang bekerja sebagai supirnya


Dengan tongkat ia mulai berjalan tertatih-tatih menuju luar. Ia menatap wajah Eva yang sepertinya nampak kelelahan karena seharian ini mengurus dirinya.


Sangat berhati-hati kala menutup pintu agar tak membuat suara yang bisa membangunkan istrinya.


Dilihatnya jam pada sudut ruangan rumah besarnya. Menunjukkan pukul sebelas malam lebih sepuluh.


CEKLEK!


Dua netra jernihnya menangkap sesosok pria yang tingginya sama dengan dirinya menyembul dari balik daun pintu rumahnya. Sedikit terkejut lantaran kenapa di jam semalam ini Raja baru pulang.


" Anda belum tidur Pak?" Tanya Raja dengan wajah yang selalu saja tenang walau dalam hatinya ia sangat terkejut.


" Dari mana kau?"


.


.


Dua pria dengan usia yang nyaris sama itu duduk berhadapan dengan sorot mata tak terbaca. Meski begitu, Demas yang bermimik wajah dingin nampak memperhatikan gerak-gerik supirnya yang kerap membuatnya terbakar api kecemburuan itu.


" Pekerjaan apa yang kau lakukan diluar menjadi supir? Sepertinya, sepatumu terlalu bagus untuk ukuran supir?"


Membuat Raja mengumpat dalam hati demi merutuki dirinya yang lupa mengganti sepatu selepas bertemu dengan Claire.


" Saya bekerja di distro baju second Pak. Kakak saya memerlukan banyak uang. Dan saat ini, saya adalah tulang punggung. Jadi ..."


" Apa kau pikir aku percaya kepadamu?" Sela Demas yang tak bisa lagi menahan dirinya.


Membuat Raja seketika mengangkat wajahnya sembari menatap mata elang Demas dengan tatapan terkejut.


Apa-apaan ini?


Dan entah kebetulan atau bagaimana, waktu ini menjadi kali pertamanya, dua pria itu berbicara serius.


" Saya tidak peduli ada percaya atau tidak pak. Karena bagi saya, keadaan kakak saya jauh lebih penting!" Ucap Raja yang kesabarannya untuk berdiam telah terkikis.


" Kau!"


" Mas!"


Demas yang telah mengeraskan rahangnya dan hendak bangkit seketika menunda niatnya manakala mendengar suara Eva yang memanggilnya.


Membuat Raja seketika melirik Eva yang nampak berjalan mendekat.


Di tatapnya Raja yang kini juga menatapnya tajam. Ya, dua pria dengan tingkat ketampanan yang sepadan itu, agaknya mulai menunjukkan citra sebenarnya.


Detik itu juga, Demas menyadari bila pria itu benar-benar patut ia curigai.


" Raja kamu baru pulang?" Tanya Eva yang tak mengetahui tentang apa yang terjadi antara supir dan suaminya.


" Iya Bu saya agak terlambat malam ini!"


" Ya sudah masuk kamu, ini sudah malam. Mas, kenapa bangun? Mas lapar?"


Demas dan Raja saling melempar tatapan yang tak di sadari oleh Eva manakala adik dari Anthoni itu lekas menjalankan langkahnya.


Kini, Demas hanya bisa diam dan tak ingin membuat istrinya takut. Berjanji dalam hati jika ia harus segera mengabarkan hal ini kepada Fadli.


.


.


.


.


Pembaca terkasih, bagaimana kabarnya?mommy minta maaf karena lama nggak up. Deadline mommy belum selesai.


Semoga setelah ini bisa mencuri waktu buat up yaπŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜