My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 67. Wanita yang pandai bersiasat



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Demas


Cukup sudah ia memenjarakan kesabarannya pada wanita yang namanya saja bahkan belum ia ketahui itu. Ini sudah kelewatan. Membuat pria yang sedari tadi dibuat sibuk oleh panggilan-panggilan dari anak buahnya itu, mendatangi Eva yang masih menggelosor di atas paving.


" Sini lu!" Ucap Demas tak sabar dan makin mengundang perhatian orang di sekitar kolam, sebab suaranya yang keras.


Eva nampak tergopoh-gopoh manakala melihat pria tinggi itu berbalik arah, dan berjalan cepat menuju ke tempatnya ndlosor. Oh tidak!


" Aduh, mau ngapain dia kesini?" Gumam Eva.


Eva yang menangkap kilatan kemarahan dari dua netra Demas bahkan mendadak merasa kakinya kaku untuk di gerakkan. Mengiba kabur namun sialnya gagal.


Brengsek!


" Elu benar-benar ya. Wanita gak jelas! Kenapa kak Deo bisa nerima orang kayak elu!" Geram Demas yang jaraknya kini semakin mendekat.


" Buset, marah beneran tuh orang!" Ucap Eva makin panik seraya membangkitkan dirinya dan berniat untuk kabur.


Namun saat Eva hendak berlari, Demas berhasil mencekal tangan Eva yang langsung memberontak, demi rasa takut yang menyerangnya.


" Mampus aku. Mau apa dia?" Batin Eva yang benar-benar takut.


Diluar dugaannya, pria itu tiba-tiba mengangkat tubuh Eva bagai mengangkat karung berisikan gandum, dan langsung menceburkannya ke dalam kolam saking kesalnya.


BYURR


Eva yang tak mengira jika Demas lebih bar-bar darinya dalam arti sebenarnya itu, terlihat memutar otaknya cepat agar ia tak malu. Bagaimana tidak malu, ada puluhan orang disana yang jelas-jelas pasti menaruh atensi kepadanya.


Tidak, dia harus mencari cara.


Bagiamanapun juga, diceburkan ke dalam kolam oleh dedengkot penyulut emosi jelas akan membuat rasa malunya beranak pinak. No way!


Orang yang berada di sekitar kolam itu, terlihat terbengong-bengong manakala air tenang itu mendadak beriak dan si sertai jeritan seorang wanita.


" Tolong!!!"


Eva berteriak seraya mengangkat tangannya. Membuat Demas menyipitkan matanya dan mendadak panik.


" Tolong!"


Demas yang masih ragu kini hanya bersidekap seraya menatap Eva yang terlihat seperti gelagepan di dalam air itu.


" Apa dia tidak bisa berenang? Sial!"


Demas masih menatap Eva yang timbul tenggelam di antara air itu. Menatap tak jemu Eva yang memang sepertinya tak bisa berenang itu selama beberapa detik.


Para pengunjung lain yang melihat kejadian itu mulai menatap tajam ke arah Demas yang masih saja berdiam diri.


" Wah gak bisa berenang tuh!"


" Pacarnya gimana sih, bercandaannya kelewatan banget!"


" Ih, kenapa malah cuma dilihatin sih?


Suara-suara bernada mencibir itu membuat Demas mendecah kesal.


" Brengsek!"


Tanpa menunggu lagi, Demas segera melepas jas serta menaruh ponsel juga dompet yang ia bawa, keatas rumput yang ada di dekat kolam itu. Dan sejurus kemudian, ia langsung menceburkan dirinya demi melihat Eva yang mulai kehabisan napas.


" Astaga mas..mas, makanya kalau bercanda sama pacarnya jangan begitu. Kasihan dia enggak bisa berenang tuh!" Celetuk salah seorang pengunjung hotel yang melihat Demas mulai mengangkat tubuh Eva ke permukaan.


Pria itu masih membisu dan fokus kepada Eva yang mulai memejamkan mata. Sungguh, Demas saat ini panik. Eva pingsan.


Namun, apakah sosok yang di khawatirkan itu berbanding lurus dengan rasa cemasnya?


Jawabannya adalah tidak, sebab Eva sengaja menipu Demas agar ia tak mendapat malu dan ingin bersiasat demi kemenangannya.


Ya, Eva sengaja pura-pura pingsan. Membuat Demas panik bukan kepalang.


" Astaga pingsan tuh mas. Buruan kasih CPR. Bisa henti jantung dia nanti!"


" Iya bener, buruan mas. Pasti kemasukan banyak air itu. Kasihan sekali mbaknya!"


" CPR?"


" Napas buatan?"


"CK, kenapa perempuan ini benar-benar membuat hidupku sulit!"


.


.


Eva


Ia cengar-cengir dalam hati sebenarnya manakala Demas mulai mengangkatnya ke atas permukaan. Kini, ia tinggal menjalankan skenario tambahan, untuk bisa mendapatkan upeti dari sikap serta perbuatan tak menyenangkan yang dilakukan oleh pria itu.


Selain itu, ia berniat meminta ganti rugi ponselnya yang rusak dengan caranya. " Anda tidak tahu sedang berurusan dengan siapa tuan? Kancil bahkan lebih cerdik dari seekor Singa." Batinnya tertawa penuh kemenangan.


Namun, ada satu hal yang ia lupakan manakala ia bersandiwara. Seperti kata orang hukum, ' No crime is perfect ( Tidak ada kejahatan yang sempurna)'. Para pengunjung lain kolam itu justru meminta Demas untuk memberikan CPR atau napas buatan. Membuat Eva resah dalam menjalankan aksi tipu-tipunya.


" Brengsek, gimana dong nih!" Eva yang tubuhnya telah tergeletak di tepian kolam itu, benar-benar bingung. Tak mungkin dia membuka matanya secara mendadak, bisa dikira bohong dia.


" Betul mas, kasih CPR!"


" Cepat mas. Pacarannya anda nanti bisa kena masalah loh. Lagian anda ini kenapa bis...."


CUP


Demas yang tak tahan dengan penghakiman orang banyak , seketika melakukan apa yang dipinta oleh khalayak ramai itu. Membuat Eva kaget bukan main, sekalipun matanya masih terpejam.


Sebab jujur saja, selain itu Demas juga takut jika terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa wanita yang belum ia kenali secara jelas, selain berstatus anak buah dari kakaknya itu.


Eva yang masih memejamkan matanya benar-benar merasa bagai tersetrum aliran listrik bervoltase besar, manakala bibir beraroma spray mint itu kini meniup udara hangat kedalam mulutnya, seraya menekan dadanya sebanyak dua kali.


" Astaga Tuhan, dia benar-benar menciumiku anjirrr!!!"


Demas mengulangi aksinya dengan wajah panik yang tak bisa ia sembunyikan, sembari menekan dada berukuran lumayan itu dengan perasaan campur aduk. Dasar pria!


Dan saat Demas hendak meniup untuk ketiga kalinya, wanita itu pura-pura batuk demi menghindari ciuman ke-tiga yang jelas bakal membuat segala sesuatunya lebih runyam.


" Uhuk! Uhuk!"


" Nahh, syukurlah udah sadar!" Koor kompak beberapa pengunjung yang lega manakala melihat Eva sadar. Membaut hati Demas turut lega.


Eva tak berani menatap Demas dan memilih meneruskan aktingnya yang kepalang tanggung itu.


" Ibuk!" Dia merengek seraya pura-pura batuk demi ingin membuat Demas merasa makin bersalah. Mampus gak lu?


Eva sebenarnya sengaja menoleh ke sisi kiri sebab ingin mencari dimana keberadaan ponselnya, yang pasti turut hanyut dalam kolam itu.


" Dasar pria sialan!"


" Maaf!" Ucap Demas lirih dan terlihat penuh sesal manakala melihat Eva yang meneruskan batuk fiktifnya secara tekun.


Membuat Eva menatap tajam Demas dengan wajah bersungut-sungut.


" Maaf? Kau bilang maaf? Setelah kau menghancurkan ponselku, dan sekarang kau telah membuatnya hilang di dalam kolam, dan sekarang kau hanya minta maaf?" Cecar Eva penuh emosi.


Para pengunjung yang mengira jika pasangan muda itu tengah bertengkar, memilih untuk pergi sebab tak enak hati jika ikut campur.


" Waduh, tengkar nih kayaknya. Dah lah, yang penting mbaknya gak kenapa-kenapa, dah pergi yok!" Seru bapak-bapak yang sedari awal meminta Demas untuk memberikan Eva napas buatan.


" Minggir!" Tepis Eva kasar ke arah tangan Demas demi melengkapi aktingnya. Dasar Eva!


" Auwh!" Rupanya kaki Eva mendadak kram. Membuat wanita itu meringis dan di sangka keseleo oleh Demas.


Dan kini, demi melihat Eva yang nampak tak bisa menggerakkan kakinya, Demas seketika membalikkan posisi duduknya, lalu menarik paksa dua lengan Eva dari belakang, dan sejurus kemudian mengangkat paksa Eva untuk ia gendong ke punggung kokohnya.


Membuat wanita itu terkejut.


" Hey, apa yang kau lakukan! Turunkan aku sialan!" Eva terus memukul punggung keras itu sebab ia malu.


Tapi Demas masih bergeming, pria itu benar-benar merasa bersalah manakala Eva justru ingin terbahak-bahak sebab ia telah berhasil mengelabuhi Demas.


Benar-benar penipu ulung!


.


.


.