
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Semprotan selang besar yang menghunus keatas dari dua tangki air besar mobil PK ( Pemadam Kebakaran) yang membentuk formasi cantik, nampak mengguyur badan pesawat Boeing 737-900ER berkapasitas 215 seat itu dengan di iringi suara sirine sebagai ucapan selamat datang.
Nampak segala persiapan kala menyambut pesawat perdana yang akan mengawali rute TGR-JKT itu. Mulai dari tari-tarian daerah, hingga beberapa awak media berita lokal yang meliputi peristiwa penting itu.
Namun, dikala suara bising dari mesin engine burung besi itu kian terdengar memekakkan telinga, sebuah getaran nampak mengusik Deo.
" Kenapa Mama nelpon?" Gumamnya demi melihat nama Mamanya di layar pipih itu.
Deo yang berdiri di dekat Dona nampak fokus ke ponsel, namun urung mengangkat panggilan itu sebab merasa tak enak hati.
Membuat Deo akhirnya memilih memusatkan perhatiannya, kepada anak buahnya yang membawa sebuah papan khusus untuk memandu pilot memarkirkan pesawat, sesuai dengan info dari air traffic control.
Marshaller.
Dan, Dona yang lebih memiliki ruang gerak dinamis itu terlihat merogoh saku celananya demi merasakan ponselnya yang juga bergetar.
Menandakan sebuah pesan tengah masuk.
" Gue Erik dari kantor pusat, infokan sama Pak Deo pusat lagi crowdit. Kalau udah free, suruh telpon gue balik!"
Dona belum mengenal Erik secara gamblang, Dan pesan itu, merupakan rekor kali pertamanya mereka berhubungan.
Dona yang melihat Deo kini lekas berjalan menyongsong crew bersama para petinggi Andara Air untuk sesi foto itu, lebih memilih untuk menahan dirinya dulu. Suasana sedang ramai dan tidak memungkinkan bagi Dona untuk berbicara dengan Deo.
Namun satu hal yang menjadi perhatiannya. Sesuatu telah terjadi di kantor pusat.
.
.
Demas
Ia mendadak gusar demi mengetahui informasi yang cukup mengejutkan itu. Bagiamana dan kenapa bisa kejadian seperti itu terjadi di perusahaannya kakaknya, ia sendiri belum bisa menyimpulkan secara pasti.
Kakaknya selalu terlampau adil dalam urusan pendapatan. Gaji mereka bisa dibilang sesuai bahkan jauh lebih baik dari standar UMR yang di tetapkan oleh pemerintah. Lantas, hal apakah yang menjadi pemicu aksi mogok kerja pagi itu?
" Halo, elu dimana?" Ucap Demas kala nomer yang ia tuju nampak menjawab panggilan.
"Cari tahu deh kenapa itu anak-anak bisa mogok kerja, laporin ke saya nanti. Oke oke, yok!"
Demas menghubungi salah satu orang kepercayaannya, yang biasa mengerjakan tugas intelegensi macam itu. Mendadak turut merasa tidak tenang.
" Kalau bukan orang yang kuat, gak mungkin bisa mempengaruhi beberapa orang itu. CK sialan!" Demas mendadak naik pitam demi mendengar permasalahan yang jelas akan berimbas kepada perusahaannya itu.
Demas menuju ke mall yang baru ia buka, dan akan sedikit memberikan pengarahan sebelum ia akan pulang. Jika sudah begini, Deo pasti tidak akan tinggal lama disini.
Selain itu, ia juga tidak akan tinggal diam jika perusahaan keluarganya itu berada dalam masalah.
.
.
Arimbi
" Romeo Charlie!" Panggil Arimbi memanggil Ramp yang bertugas.
" Gohet!" Jawab Ramp dengan suara bising mesin pesawat yang juga terdengar dari Handy Talky hitam itu.
" Pax Uda masuk semua ya. Bagasi di belakang juga sudah clear!"
" Oke, Gate tolong print manifestnya ya, kita boarding di menit 25!"
" Oke di copy Romeo!"
Arimbi diminta Novi untu bertugas menjaga check in. Sementara senior pasasi itu, memilih membersamai para anak baru demi menunjukkan standard proses boarding yang benar.
Membuat istri dari Deo itu nampak santai sebab semua penumpang telah lapor ke check in.
Namun, saat ia hendak menghubungi Eva guna menanyakan kabar sahabatnya itu, sebuah pesan di group karyawan GH mencuri perhatiannya.
" Ada apa ini? Kenapa mereka pada ribut di group?"
Arimbi dengan mata melebar, kini bermonolog sambil tekun menggulir ponselnya, demi melihat keseluruhan percakapan yang menerangkan makian, umpatan juga kekesalan Hizkia juga rekan-rekan senior yang lain, sebab mereka kekurangan personel pagi itu.
" Astaga! Apa aku melewatkan sesuatu?" Gumamnya yang memang tak sempat membuka ponselnya sejak dia mulai bekerja tadi.
Ia langsung men-dial nomer Dian namun tidak ada jawaban. Menelpon nomer Yohan juga sama.
" CK, pasti mereka lagi sibuk handle. Astaga, ada apa sebenarnya!"
...----------------...
Bandara Kota B
Antrian yang masih mengular itu membuat Kesemuanya bekerja secara under pressure. Bagiamana tidak, pilot yang bertugas pagi itu sampai marah besar sebab jadwal yang harusnya ontime, kini telah delay hampir satu jam.
Membuat Erik berusaha keras untuk menenangkan pihak maskapai, sebab masih ada beberapa penumpang yang belum terlayani.
Alhasil, anak dari Tomy itu sampai kena semprot pilot senior yang kebetulan bertugas pagi itu.
" Groundtime dong mas. Kacau kalau gini, setelah ini saya harus terbang ke Gunung Sitoli mas. Kalau begini caranya kita delay nanti!"
Erik hanya diam saat pilot itu mencecarnya dengan omelan. Fix, Ground Handling mereka memang bersalah pagi itu.
" Saya gak mau tahu Mas Erik. Pak Deo harus tau soal hal ini!" Belum juga hilang omelan dari sang pilot, kini General Manager dari Andanu Air nampak berang kala meninjau berita mengejutkan itu.
Erik yang nampak menjadi paling sibuk itu nampak tak menyuguhkan raut tenang sama sekali. Pria itu sedari tadi tegang dan nampak menyuguhkan wajah keruh.
" Check in, kurang berapa orang yang belum lapor?Tolong di percepat saja itu!" Tanyanya demi mengkoordinir situasi yang semakin membuat kepalanya terasa pecah.
" Standby Mas, ini ada lima belas orang lagi antrian, kalau keseluruhan kita kurang 25!" Jawab Hera yang nampak ngos-ngosan.
Resita yang duduk bersama dua seniornya nampak menelan ludah demi mendengar suara Erik yang nampak berang.
Suasana tegang, mencekam, dan membuat seluruh syaraf kaku. Membuat semua orang yang tengah bekerja keras itu, merasakan sakit di bagian kepala mereka.
Dengan gerakan cepat dan dengan personel yang benar-benar minim itu, mereka bekerja sama serta berjibaku dalam menangani penumpang yang beraneka ragam tabiatnya itu.
Tak jarang, Dian terlihat ketus manakala menjawab penumpang yang rewel, dan bolak balik minta ganti tempat duduk.
" Gate, boarding!" Titah Erik mengomando staff yang berada di ruang tunggu dengan suara yang nampak tak ramah.
Membuat petugas yang masih berada di check ini kini kelabakan karena mereka masih kurang banyak.
" Check in, tolong dua orang bantu di gate!" Titah Hizkia yang juga nampak ngos-ngosan. Meraka tidak tahu, jika Hizkia sampai mengurus dokumen ke AirNav dengan seorang diri.
" Mas mas ada yang lapor pakai kursi roda ini, gimana?" Resita yang melihat Hera sibuk kini berinisiatif mengkonfirmasi sendiri spesial handling yang baru lapor itu kepada Erik, walau ia merasa takut.
" Astaga, kenapa baru lapor sekarang?"
Resita tertunduk resah sebab ketakutannya terbukti. Erik marah.
" Sakit apa dia itu? Gak nutut kita kalau ke karantina ini!" Sahut Erik dengan suara yang benar-benar marah.
" Manula aja kok mas. Gak kuat jalan jauh!" Jawab Resita menatap iba pria tua bersama seorang ibu-ibu yang nampak awam.
" Ya udah - ya udah cepat. Minta si Dian yang dorong dulu, kita kekurangan porter di belakang ini soalnya ini, bagasi juga belum naik semua!"
Kesemuanya mendadak kasihan kepada Erik. Pria itu benar-benar bekerja keras pagi ini. Entah apa yang tejadi jika Erik tidak ada disana.
Dian yang namanya di sebut seketika mengambil rompi dan juga wheel chair yang ada di sudut counter, dan langsung cekatan menghandle kakek tua yang nampak bingung itu.
" Res, butain surat pernyataan dulu Res!" Ucap Dian dengan sikap yang mendadak macho, dan membuat Hera seketika menatap Dian tak berkedip.
Apa ini nyata?
Dalam situasi terdesak, dan dengan kesukarsulitan yang kentara, tanpa mereka sadari Dian menjelma menjadi sosok yang sejati. Laki-laki setengah jadi itu seketika berubah menjadi laki banget demi suara tegang yang kini tercipta.
Oh man!
" Setelah ini closed, tolong jangan di terima lagi. Kita udah delay satu jam lebih ini!" Titah Erik masih dengan suara yang belum normal.
" Di copy mas!" Jawab Hera seraya mendudukkan tubuhnya dengan lesu. Merasa sangat lelah.
Hera yang menjadi senior on duty itu nampak ingin menangis. Ia merasa tak kuat demi merasakan keadaan crowdit yang penuh tekanan itu. Ia bahkan meloloskan beberapa orang yang bagasinya lebih dan menyarankannya untuk di bawa ke pesawat, demi keadaan yang benar-benar tidak memungkinkan.
Dan kejadian ini, merupakan kejadian yang pertama bagi mereka. Nyatanya, mangkirnya delapan puluh persen karyawan di tubuh GH pagi itu, benar-benar sukses memporak-porandakan situasi yang ada.
Keadaan di check in saat ini lengang. Dian yang mendorong penumpang yang menggunakan kursi roda sudah nampak menghilang di dalam lift, sementara Resita berlari-lari demi mengantar surat pernyataan wheelchair menuju ke parkiran pesawat secara estafet, untuk kemudian di terima Ramp dan di serahkan kepada pramugari.
Menyisakan Hera yang hanya seorang diri, saat para karyawan maskapai lain kini mulai berdatangan dan menatapnya penuh selidik.
" Kurang dua orang!" Ucap Yohan dengan suara tegang yang terdengar melalui HT itu.
" Astaga, langsung announced namanya itu, sebagian cari di toilet. Kita udah gak ada waktu ini!" Suara Erik yang terdengar nampak semakin frustasi.
Membuat Hera seketika memusatkan perhatiannya kepada nama yang masih muncul di sistem boarding, pada layar komputernya itu.
" Gate, ini orangnya bapak-bapak yang pakai jaket tadi loh. Coba cari dulu di lounge!" Ucap Hera demi mengingat nama orang yang ada di sana.
" Cepat gate cepat, kita udah gak ada waktu lagi ini!" Seru Erik dengan suara yang makin tak berusaha
" Ini satu orang ketemu di toilet meluncur, kurang satu lagi!" Suara rekan Yohan yang merupakan seorang wanita yang mencari penumpang itu terdengar terburu-buru. Menegaskan jika mereka tengah berlari saat ini.
" Oke cepet-cepet!"
" Oke , kita jadi kurang satu orang di seat 8A, atas nama Bramasta K!" Seru Yohan yang menginformasikan kepada Erik.
" Announced satu kali lagi kalau enggak ada tinggal!" Titah Erik dengan komando yang benar-benar nampak terburu-buru.
Di sisa tenaga yang ada, kesemuanya berpencar demi mencari satu orang itu namun nihil.
Membuat situasi di pesawat kian memanas.
" Gate, capten gak mau nunggu, satu orang di cut!"
Hera memejamkan matanya kala mendengar suara Erik yang terdengar lesu. Jelas akan menjadi persoalan apabila orang itu datang nanti. Sebab pesawat itu nyata-nyata delay, namun mengapa meninggalkan satu orang.
" OK AA 329 Door closed!" Ucap Erik yang menjadi penegas groundtime mereka berakhir.
Membuat kesemua yang telah selesai bertugas itu, menghela napas penuh kelegaan, meski mereka semua yakin jika setelah ini mereka akan di briefing habis-habisan oleh pihak maskapai Andanu Air.
Bersamaan dengan info tegas dari Erik itu, seorang pria dengah wajah sombong nampak memasuki pintu itu dengan langkah santai.
DEG
Membaut jantung Hera seakan- akan hendak meledak, demi menyadari jika pria yang baru masuk itu, merupakan pria yang barusan di tinggal oleh mereka.
" Oh sial!
.
.
.
.
.
.
.
.
Keterangan:
Marshaller : Tukang parkir pesawat. Petugas ini wajib hukumnya memiliki lisensi khusus.
Mommy sengaja tidak memakai code asli Bandara yang ada di beberapa negara Indonesia biar lebih seru aja. Tapi, mommy percaya jika pembaca mommy cerdas- cerdas untuk menilai fiksi dan kenyataan 🤟