
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Arimbi
Jelang matahari tenggelam, ia baru selesai membersihkan dirinya usai meladeni gelora Deo yang tiada matinya itu. Membuat sendi di bagian lututnya bagai keropos.
Arimbi lemas, lelah dan tiada berdaya.
" Bawa ini!"
Arimbi yang baru saja menyelesaikan makannya yang tertunda hampir tiga jam itu, kini mendongak kala sesosok pria yang bertelanjang dada itu memberikan sebuah kartu.
" Apa ini?" Jawab Arimbi dengan kerutan diatas alisnya.
" Semoga belum terlambat untuk aku membenahi sikap. Kamu bisa memakainya untuk keperluan kamu. Kasih uang saku farel, juga keperluan Ibu!" Tutur Deo dengan suara khasnya yang berjenis bass.
Arimbi tertegun. Pria di depannya itu rupanya tak bohong soal ucapannya. Usai memberi nafkah batin yang luar biasa, pria itu kini nampak memberikan nafkah lahir.
" Aku harap setelah ini kita bisa saling menjaga perasaan. Secepatnya aku akan membuat keadaan ini normal, hm?"
Ucap Deo menarik tubuh istrinya lalu mencium bibir wanita yang nampaknya sudah menjadi candu baginya itu.
Walau masih dalam suasana tidak percaya, namun Arimbi mencoba mensugesti dirinya agar dia bisa berpikir logis, dan menilai jika Deo sebenarnya sosok yang bertanggungjawab.
" Aku antar atau?" Tanya Deo sesaat setelah melepaskan cecapannya.
" Tidak perlu, nanti Eva tahu. Sepertinya, dia belum kembali bersama Demas!"
" Sepertinya Demas akan berhenti menyukaimu. Karena menurutku Eva..."
Kedua pasutri itu nampak saling menatap sembari senyam-senyum bersama. Sehati dan sepemikiran soal Eva dan Demas yang bakal memiliki kerempongan sendiri. Ahay!
" Ar?"
" Ya?"
CUP
Deo menarik pinggang istrinya kembali manakala mereka masing saling melempar tatapan, pria itu kembali menangkup wajah istrinya lalu kembali melumaat bibir itu penuh cinta.
" Udah ah, gak bisa bangun aku besok. Ingat, besok innagural!" Seru Arimbi yang sedikit mendorong tubuh berat Deo guna melepas ciumannya.
Membuat Deo tergelak demi melihat istrinya yang kesal karena berkali-kali ia tiduri.
...----------------...
Pagi yang menyapa membawa serta aroma peruntungan bagi si pemecah kesempatan di jagad pagi ini. Roda-roda kehidupan mulai menggeliat dari peristirahatannya. Memperlihatkan sendi-sendi kehidupan dari berbagai lapisan untuk bergerak mencari peluangnya.
Guru kembali mengajar, anak-anak kembali ke sekolah, petani ke sawah, dan karyawan macam Arimbi nampak bersiap pagi itu.
Usai bercumbu sepanjang sore kemarin, wanita itu nampak tidur lelap hingga pagi. Badannya benar-benar terasa remuk dan lelah, bahkan ia tak sempat mendengar telepon dari Deo saking lelahnya.
Pria itu benar-benar tak memberinya kesempatan untuk beristirahat. Untung saja Deo merupakan pemain kawakan, membuat pria itu bisa mengantisipasi sendiri dalam menunda kehamilan istrinya sebab situasinya masih belum memungkinkan.
Lagipula, ia hanya tak ingin Arimbi mendapat cap buruk atas kesalahannya itu. Perlahan namun pasti, rasa ingin melindungi dan menjaga martabat baik istrinya timbul dari dasar diri pria itu.
" Halo?" Sahut Arimbi manakala ponselnya menggelepar.
" Kemana aja sih, dari semalam aku nelpon enggak di jawab? Mau aku susulin ke situ tapi lupa kalau kamarmu di depan kamarnya Eva!"
Arimbi memijat keningnya demi mendengar Deo yang mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
" Aku tidur, capek tau! Semua ini gara-gara kamu" Jawab Arimbi mendengus seraya meloudspeaker panggilannya sebab ia sibuk memoleskan lipstik.
Deo terlihat tergelak di sebrang telepon," Udah siap-siap? Kesana bareng siapa?"
" Sama Kak Daniel dkk lah, sama siapa lagi!" Kesal Arimbi yang merasa jika Deo kini lebih cerewet.
" Nanti sore habis flight, kamu kesini ya? Masih hapal kan nomernya?"
" Ogah!"
" Hah?"
Membuat Arimbi tekrikik-kikik demi mendengar reaksi penuh keterkejutan dari suaminya.
" Kita pulang kapan sih? Aku pingin beliin oleh-oleh buat Ibuk sama yang lain!"
" Kita lihat dulu, besok kalau anak-anak udah bisa dilepas, lusa kita bisa balik. Tapi kalau belum, ya.. terpaksa kalian stay dulu. Orang Andara agak rewel!"
" Kayak kamu rewel!"
" Berani ya?"
Obrolan itu akhirnya Arimbi pungkasi secara sepihak sebab Deo terus saja ngoceh dan membuat dirinya kesal. Meski ia tahu, jelas Deo akan menghukumnya nanti.
Dan benar, Arimbi yang sudah bersama Daniel, Novi dan Andre, kini nampak resah demi menanti Eva yang belum juga muncul di lobi penjemputan.
" Aku kira dia udah dulu mbak, soalnya aku udah agak telat juga ini tadi!" Jawab Arimbi muram.
" Udah lebih baik kita berangkat dulu. Nanti Eva biar di antar pihak hotel, aku tak konfirmasi sebentar ke mereka!" Seru Daniel sang pencetus ide yang selalu solutif itu.
Ketiga orang itu mengangguk setuju, sebab waktu sepertinya sudah semakin angkuh meninggalkan mereka.
.
.
Di bandara
Semua sudah standby di mejanya masing-masing. Penumpang pagi itu tercatat ada 109 dewasa, 3 anak-anak dan satu bayi, dengan spesialis handling ibu hamil.
Novi yang bertindak sebagai senior terlihat sibuk mengkoordinir beberapa anak buahnya yang baru itu. Arimbi juga nampak sibuk membantu beberapa anak-anak baru, yang kesulitan kala menghandle penumpang asing.
Andre dan Daniel pun juga telah melesat menduduki kursi kebesaran mereka di Flop, dalam membersamai para juniornya.
Benar-benar hari yang sangat sibuk.
Deo nampak pergi bersama para petinggi Airlines, dan telah bersiap untuk seremonial acara penuh birokrasi itu.
Sementara Eva, menurut informasi yang Daniel dapat wanita itu masih dalam proses pencarian. Membuat Deo meminta adiknya untuk mengkoordinir, hal apa yang membuat Eva terlambat datang.
" Mbak, rombongannya rombongan nih. Mbaknya aja yang check in, saya takut salah!" Ujar Mikha, kala menerima sebuah penumpang pria tampan, yang sibuk menggendong seorang bayi bersama Ibu hamil yang menggandeng dua anak berusia lima tahun dan tujuh tahun.
Mikha yang tercatat sebagai karyawan baru itu nampaknya masih takut salah dalam melayani spesial handling.
" Mbak, kayaknya itu rombongannya udah datang deh. Mbak Novi aja deh, kasihan Mikha belum berani!" Seru Dhita, yang melihat raut kekhawatiran dari wajah Mikha.
" Oke biar aku aja. Mana kode bookingnya? Ar kamu kalau udah selesai sini bantu aku!"
" Oke mbak!
Novi yang kini menduduki kursi milik Mikha, kini bangkit berdiri dan memulai pelayannya.
" Permisi, atas nama Bapak Sakti Buana Soebardjo?"
Suara tegas namun ramah yang berasal dari Novi itu, sukses membuat pria yang nampak sibuk menenangkan bocah laki-laki lima tahun yang tengah menangis itu, menoleh.
" Sebentar ya mbak? Saya yang bawa infant, dua child , terus istri saya lagi hamil!" Jawab pria berwajah oriental itu dari kejauhan.
Membuat Novi membeku selama sepersekian detik. " Buset, produktif banget!"
" Operation monitor!" Ucap Novi melalui HT yang ia tekan.
" Gohet!" Terdengar suara Daniel yang menyahuti.
" Spesialis handlingnya datang ya, tolong seat depannya di buka, pax nya hamil juga nih!"
"OK lanjut, jangan lupa ibunya suruh isi SP ya?"
" OK di copy!"
Beberapa anak baru disana memerhatikan cara Novi dalam menangani penumpang khusus itu. Baik dari cara bicara, maupun saat menghandle. Semua harus dilakukan dengan kesopanan yang tinggi.
" Mana mbak yang hamil!" Tanya Arimbi yang kini terlihat lekas melibatkan dirinya dalam penanganan spesial handling itu.
" Itu, ibu yang pakai dress kuning, yang rambutnya pendek!" Ucap Novi.
" Mohon maaf Pak Sakti, bisa di isi dulu surat pernyataan untuk crew di pesawat nanti ya?" Ucap Arimbi yang melihat ID card yang diberikan oleh Novi.
" Mah sini, disuruh ngisi surat dulu!" Ucap pria bermata sipit yang juga menggendong bayi yang matanya juga sipit. Dan setelah Arimbi perhatikan, keseluruhan mata anak- anaknya memanglah sipit.
Membuat Arimbi tertegun demi memindai keluarga kaya namun terlihat rempong di depannya itu.
" Benar - benar produktif!"
.
.
.
.
.
Mas Sableng habis jalan-jalan kemana ya? Hihihi
.
.
Keterangan :
Infant : Bayi
Pax : Penumpang