
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Eva
Kendati ia syok akan kedatangan Demas yang tak ia sangka itu, namun ia masih tetap harus memungkasi tujuannya datang kesana dengan segera mengatakan apa yang perlu dikatakan.
Sudah cukup mereka mengalah selama ini. Ia juga hanya ingin Ibunya bahagia. Meski, ia tahu jika ibunya tidak sepenuhnya benar.
" Pak...Pak Demas, anda Pak Demas kan?" Sapa istri pertama Papa Eva. Nampak terkesima dengan kehadiran pria tampan yang jelas memiliki kekayaan diatas rata-rata itu. Mengabaikan Eva yang masih berdiri dengan kobaran api kemarahan yang menyala.
Namun, bukannya menjawab, Demas justru terlihat menatap Eva yang kini memajukan langkahnya. Menatap khawatir wanita yang berhasil menarik rasa suka di hatinya itu.
" Jangan pernah menemui Ibu lagi!"
Membuat kedua orang di depannya itu tersadar jika ada sosok Eva yang naik pitam disana.
" Dan ingat, jangan pernah mengganggu kehidupan kami lagi! Ucap Eva penuh kekecewaan terhadap papanya. Membuat raut istri pertama papanya seketika meradang.
Namun, pria yang menjadi bapak biologis Eva itu nampak menundukkan wajahnya lesu. Terlihat tak bisa memilih.
" Kurang ajar sekali dia berani mengangkat suara kepadaku. Tapi tunggu dulu, apa iya jika Pak Demas akan menikahi Eva? Benar-benar tidak adil. Putriku lebih cantik dan lebih berpendidikan!" Batin Ibu tiri Eva dengan tatapan menyepelekan.
" Selamat malam. Keluarga terhormat!" Sejurus kemudian Eva memilih melesat pergi. Ia sudah lelah dengan semuanya. Anggapan anak haram, hingga pengganggu istri orang sudah kerap terlontar kepadanya, ia tepiskan begitu saja.
Padahal, jika ia bisa memilih, tentu ia tak ingin menjadi seperti itu.
" Saya tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu terhadap Eva. Dengar itu baik-baik!" Ancam Demas dengan suara penuh penekanan.
Membuat dua orang itu seketika menelan ludah dengan gugup.
Demas menatap dua wajah yang nampak sungkan kepadanya itu secara bergantian. Rahang pria itu nampak berkedut dan mengeras demi menahan rasa geram.
Sejurus kemudian Demas nampak memutar tubuhnya, lalu menyuguhkan raut resah kala menatap punggung Eva yang semakin menjauh.
" Eva, tunggu!" Teriak Demas mengabaikan dua insan yang nampak pias itu, dan lebih memilih mengejar Eva yang nampak berjalan dengan kobaran api kekesalan.
" Eva!" Teriaknya lagi sambil mencekal tangan Eva yang telah sampai di bahu jalan dengan posisi yang sudah dekat mobilnya.
" Lepas!" Tukas Eva sembari menarik lengannya dari tangkapan tangan Demas. Menatap wajah pria itu dengan napas memburu.
Eva malu.
" Ada apa sebenarnya. Apa mereka berbuat hal buruk kepadamu?" Tanya Demas muram. Sungguh, Demas benar-benar khawatir.
" Pak Demas lebih baik pergi!" Seru Eva apatis.
" Eva!" Sergah Demas dengan suara lirih yang lembut.
" Aku cuma anak dari seorang istri simpanan, anak haram! Nama baik Pak Demas bakal tercoreng!" Teriak Eva dengan tangis yang nampak begitu pilu, dan suara yang benar-benar bergetar.
Membuat Demas seketika membeku dengan rasa hati yang begitu nyeri.
" Apa maksud kamu? Terus kenapa kalau kamu anak dari istri simpanan, hah? Dan satu lagi, enggak ada namanya anak haram di dunia ini Va!" Ujar Demas dengan alis bertaut dan emosi yang menggebu-gebu. Sama sekali tak setuju dengan apa yang di katakan oleh wanita yang lekas ia cintai itu.
Demas bahkan sampai mengatur napasnya yang kembang kempis, sebab berbicara tanpa jeda.
Membuat Eva menangis seraya menggigit bibirnya.
" Tinggalin saya Pak! Bapak akan mendapat malu nanti!" Ucapnya lagi demi rasa minder yang mendadak menghinggapi.
" Aku enggak peduli!"
Apa?
"Lagipula, aku udah tahu dari awal kalau papa kamu punya dua istri. Dan kamu, kamu adalah anak dari istri kedua!"
DEG
Eva mendongak, menatap lekat-lekat wajah rupawan walau dalam suasana tegang itu.
Bagiamana bisa?
" Aku tahu semua tentang kamu, bahkan sejak awal!" Timpal Demas terengah-engah demi menjawab sorot mata Eva yang mendadak terkejut.
Sungguh, entah mengapa hati Demas sakit kala melihat Eva menangis dan bersedih seperti itu.
" Tahu? Tahu dari mana?" Lirih Eva dengan suara tercekat.
Demas seketika menghela napas panjang sesaat sebelum ia menjawab.
" Aku tidak sengaja dengar pembicaraan kamu sama Arimbi waktu kalian ada di kamar hotel saat di Tenggarang. Maaf!"
Membuat Eva menelan ludah.
" Dia sudah tahu? Tapi...kenapa dia tidak pernah bertanya?" Batin Eva yang tiada menyangka jika Demas benar-benar menyimpan hal semacam itu.
Wanita itu sejurus kemudian membuang pandangannya kearah bawah, bertumbuk pada rumput teki yang tumbuh subur di tepi jalan.
Merasa malu, kerdil, kecil, dan tak memiliki harga diri. Semuanya.
" Jadi kau sudah tahu siapa aku?" Ucap Eva tersenyum sumbang, " Kita tidaklah sepadan. Keluargamu adalah keluarga terhormat. Sedang aku han..."
CEKLEK
" Masuk!" Ucap Demas mendorong paksa Eva untuk masuk melalui pintu sebelah kanan, lalu sejurus kemudian ia turut masuk dan dengan gerakan cepat, ia terlihat mengunci pintu mobil itu.
KLIK
Demas melakukan semua itu demi menghentikan ucapan Eva yang benar-benar tak ingin ia dengar. No way!
Eva nampak menelan ludahnya, kala Demas kini nampak diam dengan wajah mengerikan. Menginjak pedal gas mobilnya dengan kecepatan tinggi.
" Pak Demas!" Eva yang ketakutan seketika memasang sabuk pengamannya.
" Kau adalah wanita konyol pertama yang mengambil ciumanku. Dan kau pikir, kau bisa lari begitu saja?" Demas membatin dengan pandangan fokus, juga kaki yang tekun menginjak gas dengan kecepatan maksimal.
Sungguh Demas tak mau kehilangan Eva.
" Pak Demas, apa Pak Demas gila? Kita bisa mati Pak!" Teriak Eva demi rasa takut yang benar-benar mengujinya.
"Pak Demas!" Teriak Eva lagi yang benar-benar ketakutan.
Demas marah terhadap Eva sebab ia tak mau pergi dari hidup wanita itu. Tidak sama akan pernah.
" Pak!" Teriak Eva lagi dengan ketakutan yang kian menyiksa.
" Pak Demas!!"
SRITTT!
Keduanya sampai terhuyung demi injakan rem yang mendadak itu. Membuat Demas seketika membasuh wajahnya dengan kasar, demi menyadari jika ia telah terbawa emosi.
Meraka mereka berdua hening beberapa saat, dan nampak sibuk mengatur napas. Oh ya ampun.
" Apa Pak Demas sudah tidak waras?" Maki Eva dengan wajah bersungut-sungut, " Bapak ingin saya ma..."
CUP
Demas yang tak tahan dengan ocehan Eva, seketika meraih tengkuk wanita itu, dan memilih menyumpal bibir Eva dengan ciuman.
Oh man!
Membuat Eva seketika terkejut.
" Mmmmm!" Eva memukuli dada bidang Demas kala ia kini kesulitan bernapas.
" Mmmmm!"
Namun, alih-alih melepaskan ciumannya, pria itu justru semakin menekan tengkuk Eva. Demas ingin Eva tahu, ia tak suka di bantah.
Eva yang merasa putus asa, seketika mendapat pijaran lampu Thomas Alva Edison. Aha!
MEK!
" Aaaaaa!"
Demas seketika melepaskan ciumannya dan langsung menjerit, demi si Joni yang di remas oleh Eva.
" Eva kamu....," Ucapnya terjeda demi Joni yang kini dalam bahaya dan nampak menderita.
" Bapak mau bikin saya mati karena gak bisa napas?" Jawab Eva kesal dengan napas yang masih kembang-kempis.
.
.
" Mas?"
" Hem?" Jawab Deo yang kini mulai membaringkan tubuhnya ke samping istrinya dengan keadaan bertelanjang dada. Bersiap untuk beristirahat malam.
" Kenapa Eva tadi kelihatan murung banget ya? Apa dia sakit?" Ucap Arimbi yang sedari tadi memperhatikan Eva.
" Masa sih? Kok aku enggak lihat?"
" CK, gimana bisa lihat, orang kamu sibuk sama Dian terus!" Dengus Arimbi.
Membuat Deo terkikik.
" Tante Eka suka sama Dian. Sepertinya aku juga!"
Membuat Arimbi mengerutkan keningnya.
" Tenang dulu. Aku itu suka sama tingkah jenakanya. Bukan sama orangnya!" Sahut Deo lagi dengan terkekeh.
" Semoga cuma perasaanku aja ya mas. Tapi .. Demas beneran suka enggak sih sama Eva?"
Deo menarik tubuh Arimbi kedalam dekapannya. Menciumi kening Arimbi, lalu mengeratkan pelukannya. Deo begitu menyayangi istrinya itu.
" Demas itu cueknya melebihi aku sama Papa. Dia itu kalau enggak suka sama seseorang, enggak mungkin sampai rela ngantar jemput, terus diajak kerumah Mama!" Tuturnya serius.
" Eva sepertinya juga suka sama Demas!"
"Ya.. baguslah, toh dia sama kamu nanti bisa jadi saudara ipar!"
Membuat Arimbi tersenyum senang.
" Sayang?"
" Ya?"
" Nyicil bikin cucu buat Papa yuk! Aku di tagih terus nih!"
what?
Kamu kira angsuran bisa di cicil?
.
.
.