My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 59. Rencana



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Ia menangkap nada penuh sandiwara dari mulut pria berwajah tegas itu. Baginya, di perlakukan manis oleh Deo bukanlah suatu kegembiraan. Melainkan sebuah hal yang patut di curigai.


" Mencurigakan sekali!" Batin Arimbi mencibir.


Namun, rupanya pesona pria yang tak bisa ia nafikkan itu, benar-benar membuat Arimbi salah tingkah. Arimbi terhanyut akan sikap Deo yang manis.


Siapa juga yang bisa menyangkal jika Deo itu tampan. Apalagi, pria yang semalam menggagahi tubuhnya itu, benar-benar terasa kuat dan memiliki aroma tubuh yang khas.


Membuat Arimbi yang juga sudah masuk dalam kategori manusia 21+ itu, mendapatkan pengalaman baru, akan arti sebuah kenikmatan.


" Sek sek, ini mama enggak salah dengar kan?" Tanya Jessika dengan wajah kegirangan. Menatap bergantian wajah anak dan menantunya.


Arimbi malu dan memilih melirik Demas yang terlihat tenang dan tidak terpengaruh apapun itu.


" Salah apanya sih? Baik di curigai, enggak baik apalagi! Hadeehh ribet banget rasanya jadi aku!" Sahut Deo yang rupanya juga melirik Demas yang kini lekas berjalan menuju kursi yang berada di dekat mamanya.


" Ya mama kan tanya. Habis, enggak biasanya kamu sama Arimbi..."


David tersenyum manakala melihat istrinya yang senang. Pria yang ketampanannya masih terlihat itu, memang sedari dulu memprioritaskan kebahagiaan sang istri.


Tiada mengetahui jika ada bagian dari diri menantu dadakannya yang tercabik-cabik, dan kini membuat Arimbi tersiksa karenanya.


" Dah lah, makan yuk. Laper banget!" Sahut Deo yang berhasil membuat adiknya tahu, jika antara dia dan Arimbi tak ada yang perlu di khawatirkan. Tak mau membahas ke hal yang menjurus kepada sesuatu yang bakal membuatnya makin merasa bersalah.


" Papa senang lihat kalian begitu!" Ucap David yang kini menunggu di ladeni oleh istrinya, " Jadi bikin mood mama kamu bagus!"


" Lah kok jadi mama!" Sahut Jessika berengut.


" Kalau mood mama baik, semua jadi lancar. Kalau enggak, ya..." David mengendikkan bahu, seraya mengangkat kedua tangannya, sebagai tanda jika dia akan sangat terancam jika permaisuri tengah tidak baik-baik saja.


Membuat Jessika menyebikkan bibirnya.


Sementara Arimbi yang tak fokus sebab bagian bawahnya masih agak linu itu, mati-matian menjaga cara jalannya.


" Oh iya De. Tadi kamu pas mama telpon bilang mau ke Tenggarang Minggu depan. Kalau gitu kamu samaan aja Dem sama kakak kamu. Demas juga mau buka cabang baru disana!" Tutur Jessika senang.


" Uhuk - Uhuk!"


Deo yang baru memasukkan sepotong cumi krispi sembari menunggu Arimbi mengambilkan nasi itu, tersedak sebab tiada mengira jika adiknya akan turut menuju ke Utara.


" Niatnya menghindari, kenapa malah samaan begini?"


" Kamu ini kenapa sih? Makan enggak pernah mau pelan!" Oceh Jessika yang melempar tatapan sebal kepada anak sulungnya.


.


.


Sementara itu, saat Arimbi dan Jessika tengah sibuk di dapur bersama dua ART mereka, dua kakak beradik itu nampak larut dalam suasana tegang di sebuah ruangan.


" Semoga apa yang aku lihat tadi bukan hanya sekedar pencitraan!"


Demas rupanya sengaja mendatangi kakaknya yang sibuk di sebuah ruang kerja, dan tengah tekun mencari beberapa file penting yang masih ada di sana. Membuat pria yang kini kumisnya lekas tumbuh itu, melempar pandangannya ke arah gawang pintu.


" Dia Istriku. Tentu saja aku..."


" Atau karena kau baru percaya kalau kekasihmu dulu itu tak lebih dari seorang pelacuur?" Sahut Demas menarik sebelah bibirnya. Membuat kalimat sangkalan dari mulut Deo menguap percuma.


" Kau!"


Deo yang tak suka manakala Demas mengatai Roro pelacur itu, seketika meletakkan kertas yang baru ia ambil, lalu menarik kerah baju adiknya dengan kuat.


Membuat keduanya larut dalam keheningan yang memanas.


Deo menyayangi semua anggota keluarganya, pun dengan adiknya itu. Tapi mulut Demas yang kerap tajam melebihi dirinya walau kadang suka benar itu, membuatnya menjadi berang.


" Apa?"


"Kau mau memukulku? Lakukan!" Ucap Demas menatap datar wajah kakaknya yang hendak menempelengnya. Menantang kakaknya yang nampak tidak terima.


Demas masih memasang wajah tak terbaca, manakala menatap wajah kakaknya yang telah diliputi oleh api kemarahan yang lekas mengangkat tangannya.


Deo tak mampu untuk sekedar menampar wajah adiknya. Membuat Demas menarik seulas senyum, dari sebelah bibirnya.


" Karena ancamanku...masih berlaku!"


Demas menarik lalu melepaskan tangan Deo dari kerah bajunya secara kasar, sesaat setelah mengucapkan kalimat dengan nada penuh penekanan.


Membuat keduanya saling melempar tatapan sengit.


...----------------...


" Besok kau masuk seperti biasa! Ingat, kau harus pakai motormu sendiri!"


Arimbi bolak-balik membaca pesan dari Erik yang di tujukan kepada dirinya itu. Setengah tertegun sebab hukumannya harusnya berkahir selama beberapa hari.


" Apa kau ingin membeli sesuatu?"


Pertanyaan yang terlontar dari bibir Deo yang tekun mengemudi di sampingnya itu, sontak membuat Arimbi terkesiap dari lamunannya.


Ya, dua pasutri itu terlihat membelah jalanan yang telah lengang, menuju kediaman mereka saat malam telah tiba.


" Tidak. Aku hanya ingin...." Ucap Arimbi nampak ragu-ragu.


" Apa?" Sahut Deo tanpa mengalihkan pandangannya yang fokus ke jalan.


" Aku cuma ingin menemui Ibu dan Farel. Besok Mas Erik memintaku untuk masuk!"


" Hmmm!"


" Ham Hem Ham Hem aja ni orang. Gak bisa ngomong apa?" Arimbi menggerutu dalam hati. Sedikit heran sebab mengapa Deo tidak langsung mengatakan langsung kepada Arimbi, perihal dirinya yang besok sudah di izinkan masuk.


Dan benar saja, keesokan harinya, Arimbi pagi itu nampak berjalan dan memasuki kawasan terminal domestik , dan terlihat di sambut oleh geng kocak mereka.


" Arimbi!"


" Ya ampyun.. Kok elu masuk enggak bilang-bilang sih?" Dian heboh manakala melihat Arimbi yang sudah masuk pagi ini. Membuat jajaran staf cantik dan ganteng yang pagi itu telah bersiap untuk tugas pelayanan, menoleh ke arah Arimbi.


" Enggak tau, Mas Erik yang info semalam. Mendadak lagi!"


Saat Eva hendak menyahut, mulutnya mendadak terkunci manakala Kenanga terlihat melintas bersama Cassandra. Menatap mereka dengan tatapan tak bersahabat.


" Ah ya sudah lah. Yang penting kamu udah masuk Ar. Kangen tau! Mana kemarin aku nyariin kamu enggak ada terus. Kamu kemana aja sih?" Tutur Dian sejurus kemudian, dan menepikan aura permusuhannya yang mendadak tercipta.


" Aku...aku nganterin Farel. Tau sendiri hapeku kayak gini!" Ucap Arimbi nyengir karena kebingungan mencari alasan.


" Duh, kenapa kau lupa kalau mereka bakalan nyari rumahku!"


" Udah kayak mafia aja elu Ar. Susah banget di temuin!" Sahut Eva. terlihat bersungut-sungut.


" Nanti deh aku ajak jalan ke mbak Wiwit. Post flight deh!" Rayu Arimbi menaikturunkan kedua alisnya, kepada dua rekannya yang sudah manyun itu.


" Gampang lah nanti. Mau urus group balik soalnya. Aku kalau capek males ngapa-ngapain!" Sahut Eva yang sibuk mengoleskan lipstik.


" Gincu udah tebel begitu masih aja elu dempul Va Va. Kok ngeri aku lihat kamu begitu. Mau kerja apa mau nari tarian daerah sih elu!" Cibir Dian mendengus demi melihat Eva yang selalu all out.


" Berisik aja lu. Ini juga bagian dari usaha. Siapa tau ada bule yang ototnya segede gaban naksir sama aku! Dah lah, awas ya kalau ngobos terus ( ngomong) lu. Aku cukur alismu nanti biar botak!"


" Ih mulutnya!" Ucap Dian yang spontan menutup kedua alisnya yang kemarin sempat pintak, karena Eva kebablasan manakala merapikan.


Membuat Arimbi tergelak. Itulah yang ia rindukan, kebesaran dan kekocakan para rekanan.


" Resita mana?"


" Ada, lagi ke toilet dia. Kalau Yohan lagi prepare di ruang tunggu!" Jawab Eva yang kini mengaca di depan cermin ajaib yang kerap wanita itu bawa.


" Charlie monitor!"


" Charlie monitor Charlie!"


Ketiga orang yang masih bergunjing itu menoleh ke arah meja check in, manakala mendengar suara yang muncul dari dalam HT yang kini berada di dekat senior mereka.


" Gohet!" Jawab Hera, senior yang terlihat memantau radio komunikasi itu.


" Kalau ada yang namanya Arimbi sama Eva suruh ke flop belakang!"


Membuat kesemua karyawan yang ada disana menatap dua perempuan yang saling kebingungan itu.


" Ok di copy!" Jawab Hera dengan wajah bingung yang bercampur rasa penasaran.


" Ar, Va ke flop gih. Di panggil Daniel tuh!" Tutur Hera menginformasikan dengan menatap resah wajah keduanya.


Membuat Eva dan Arimbi saling menatap.


" Ada apa?"