My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 141. Tak bisa menunda



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Demas


Pandangannya langsung ia arahkan kepada Eva yang tidur miring seraya berbantalkan lengannya. Tertegun untuk sementara waktu demi secuil asa yang hendak di laksanakan oleh orang tuanya.


Mendesak jiwa laki-laki untuk segera memutuskan. Walau sebenarnya ia memang sangat mencintai Eva, tapi sungguh ia tidak ingin menikah atas dasar dikasihani..


" Untuk urusan kamu besok jangan khawatir. Papa sudah minta Fadli buat mengurus. Ujian untuk kamu ujian untuk Papa juga Dem!"


Demas makin tercenung kala tangan kokoh papa menepuk-nepuk pundaknya. Pergolakan batin tengah menderanya. Bagiamana jika ia tidak sembuh, dan bagiamana jika ia tidak bisa melindungi istrinya?


.


.


Deo


Ia yang semalam menderita karena harus tidur terpisah dari sang istri, baru bisa memejamkan matanya di jam dua dini hari lantaran bolak-balik terjaga.


Benar-benar definisi dari siksaan dalam arti sebenarnya. Dan apesnya, saat baru dua jam Deo lekas terlelap, ponselnya meraung-raung dan membuatnya begitu terusik.


CK, sialan!


Papa Calling...📞


" Astaga, apa tidak bisa ..., Papa?" Deo langsung menendang selimutnya, lalu seketika duduk sembari menggulir tombol hijau, manakala dua mata layunya membaca nama yang tertera lada layar ponselnya.


" Ya Pa?" Sahutnya dengan suara parau.


" Papa minta tolong...."


.


.


" Mas yakin?" Tanya Arimbi yang kini nampak mengenakan masker rangkap dua kala berbicara dengan suaminya di jam pagi ini.


" Hmmm, Papa subuh tari nelpon aku!" Jawab Deo sembari mengancingkan kemejanya. Sedikit terburu-buru sebab harus mampir ke suatu tempat yang dimintakan oleh papanya.


Deo tak bisa memerintah Erik, sebab pria itu selain sedang cuti, ia juga tak ingin menginterupsi upaya anteknya itu dalam mengejar cinta sang janda.


" Ar, keterlaluan banget sih kamu. Aku jadi ngerasa kayak hama kalau begini. Aku ini suamimu loh Ar!" Rajuk Deo demi rasa kesalnya kepada Arimbi yang anti terhadap dirinya. Menatap istrinya dengan wajah murung.


" Ya aku enggak tau mas kenapa bisa begini. Bukan kesengajaan juga. Mau aku muntah terus?"


" Makanya baca soal ibu hamil biar tahu kalau kita ini sensitif banget sama bau-bauan!"


" Ya tapi masak aku sih. Aku enggak bau loh Ar!" Ucap Deo masih tak mau kalah.


" Ya udahlah ayo kita berangkat. Dian udah di depan itu, naik Mojek tadi dia!" Sergah Arimbi yang semakin tak tahan.


Suaminya tidak bau, tapi entah mengapa rasanya pusing dan mual saja tiap mencium aroma tubuh suaminya.


" Hah, Dian? Udah sembuh joni?"


" Udah kering pasti, yuklah kasian dia diluar, disuruh masuk juga enggak mau!"


.


.


Dian


Semua rekan sejawat sepertinya memiliki nasib baik yang bisa dibilang mujur. Jika Resita tengah dekat dengan Daniel, dan issue yang beredar mengatakan jika mereka sudah mendapatkan lampu hijau dari kedua belah pihak.


Yohan juga di kabarkan di gandrungi oleh kepala operasional Andanu Air. Ya, wanita yang menggantikan posisi Zakaria itu sepertinya kepincut dengan laki-laki hitam manis itu.


Sangat berbeda dengan dirinya yang masih saja hamsyong, nestapa, ngenes, nelangsa, dan juga pengeretan.


Kulit si joni sudah mengering dan rasanya juga sudah lebih baik. Tapi, entah mengapa ada sesuatu yang bergejolak di dalam relung batinnya.


CEKLEK!


" Kenapa nggak masuk sih?" Tanya Arimbi yang kini keluar bersama Deo. Nampak sudah siap untuk menjenguk Eva dan Demas.


" Enggak ah, kalau di dalam nggak bisa ngerokok!" Sahutnya sembari menggerus sebatang rokok kedalam asbak di meja marmer itu.


Membuat Deo dan Arimbi saling menatap.


" Apa Dian baru saja kejedok tembok kepalanya?"


" Apa kabar si joni?" Tanya Deo terkekeh.


" Sudah agak aman pak. Helmnya udah kelihatan!" Sahut Dian menyandang ranselnya. Sebab, usai dari rumah sakit ia berniat langsung menuju airport untuk berdinas.


Membaut Deo makin tergelak demi melihat tampilan parlente yang alisnya benar-benar kece badai.


" Lah dulu apa enggak ada helmnya?" Tanya Deo yang begitu berminat meladeni manusia hompimpa itu.


" Enggak lah. Pak Deo pernah lihat ontong ( jantung pisang)?" Tanya Dian cepat.


" Nah, seperti itu sudah punya sama yang lama! Ada lapisan ajaib yang menutupi!" Jawab Dian tergelak dan membuat Deo terpingkal-pingkal.


PLAK


" Aduh!" Pekik Dian kesakitan efek dari pukulan Arimbi.


" Ngomongin apa kalian? Masih pagi yang di bahas hal-hal absdurd. Udah cepat berangkat! Makin ngawur aja yang dua ini!" Seru Arimbi sembari ngeloyor menuju mobil yang sudah siapa di depan.


Membuat keduanya menahan tawa sembari mencium kepalan tangan masingmasing.


" Pssst Yan, bisa kamu bantu saja?" Bisik Deo sembari melirik Arimbi yang lekas membuka pintu mobil.


" Bantu apa pak?" Sahut Dian mengerutkan keningnya.


" Bantu cari tahu cara, biar ibu hamil tidak anti terhadap suaminya!"


Membuat Dian seketika memindai Deo dari atas hingga bawah. Pantas saja Arimbi memakai masker ganda.


" Bapak tau sinetron azab?" Ucap Dian nampak serius.


" Enggak tau tapi pernah dengar sih, memangnya kenapa? Timpal Deo tak kalah serius.


" Sepertinya Pak Deo sama dengan itu sinetron. Lagi kena azab!" Jawab Dian terkikik-kikik.


Dan detik itu juga, Deo seketika memiting leher Dian


.


.


Dirumah sakit


"Beberapa penyebab dapat disembuhkan atau menjalani terapi agar fungsi berjalan dapat dilakukan, akan tetapi tidak semua dapat disembuhkan"


Eva yang semalaman dibiarkan menginap di rumah sakit, kini hanya bisa berdiri menyimak penjelasan sang dokter kepada Jessika dan David di belakang punggung mereka.


" Saya minta tolong untuk di bantu mekanisme dan prosedur apa saja yang harus kami jalani demi kesembuhan anak kami dok" Timpal Jessika yang nampak terus ingin mengejar segala informasi dari dokter itu.


" Dokter Fisioterapi akan dapat membuat program dengan beberapa metode seperti,


Latihan postur tubuh, peregangan


Fisioterapi menggunakan listrik


Fisioterapi manual


Hipnoterapi, hidroterapi, akupuntur. Kita akan lakukan pengecekan nanti. Mungkin tidak instan, bahkan ada yang sampai lama, dan kami juga tidak bisa berjanji sebab mukjizat dari Tuhan lah yang bisa mengubah segalanya!"


Demas terlihat stress meski emosinya sudah lebih terkendali. Bagiamanapun juga, keadaan abnormal yang timbul secara mendadak pasti membuat psikis seseorang terusik.


Sepeninggal dokter itu, Eva terlihat memalingkan wajahnya karena malu sebab tertidur sepanjang malam dan sama sekali tidak terbangun.


Padahal, semua itu juga merupakan reaksi obat yang diberikan untuk Eva sebab dia juga merupakan korban kecelakaan.


" Saya minta maaf karena...."


" Kamu juga sakit, kami yang minta maaf karena membuat kamu seperti ini!" Jawab Jessika tersenyum lembut seraya mengusap lengan Eva.


" Eva, Tante mau bicara penting sama kamu."


Tubuh Eva seketika menegang kala mendengar Jessika yang berbicara cukup serius terhadap dirinya. Apalagi, tatapan serius David semakin membuat dirinya membeku.


" Saya tahu anak saya sekarang sedang seperti ini kondisinya. Dan ini..." Jessika meraih tangan kiri Eva yang di jari manisnya telah tersemat sebentuk cincin cantik.


Membuat Eva berusaha menyusun pemikirannya. Apa yang sebenarnya di maksud oleh Jessika.


" Tante dan Om ingin kalian menikah hari ini!"


DEG


Membuat Eva benar-benar terkejut. Bahkan, Demas tak berani menatap Eva sebab ia merasa tak berdaya.


Eva terkejut sebab tak mengira jika harapannya akan terkabul. Sebab jujur saja, Eva merasa bersalah terhadap Demas. Pria baik yang mau menerima segala kekurangan dalam kehidupannya bersama sang Ibu.


" Kau bisa menolak Va. Kau tidak harus menjawab iya karena aku...."


" Saya tidak mau Tante..." Potong Eva cepat, membuat perkataan Demas menguap percuma ke udara.


DEG


Kini, ketiga orang itu seketika menatap kaget ke arah Eva, demi mendengar kalimat informatif beranda negatif itu.


" Saya tidak mau menundanya lagi. Saya mencintai Pak Demas dan saya mau menikah dengan Pak Demas walau tanpa acara besar. Saya yang berterima kasih karena meski keadaan saya seperti ini, Pak Demas mau untuk mencintai saya!" Ucap Eva dengan suara bergetar sebab tangis yang tertahan.


Jessika seketika langsung menarik Eva kedalam pelukannya. Membuat David yang berada di depan istirnya langsung menatap Demas yang agak tersenyum.


Antara bahagia juga menahan sebuah beban, Demas menitikkan air mata.


" Aku harus sembuh, karena aku sudah berjanji akan membahagiakan kamu Eva. Dan aku tidak akan pernah bisa membahagiakanmu jika kondisiku seperti ini!"


.


.


.