My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 142. All support for a better life



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


David


Alasannya menikahkan Demas dengan Eva secara mendadak ialah, karena ia tahu bila Demas merupakan orang yang keras kepala, dan memiliki jiwa insecure yang cukup tinggi.


Dan, kehadiran Eva dalam kehidupan putranya itu, sedikit banyak mampu merubah sisi negatif dari anak bungsunya itu.


Sedikit banyak pula, ia yang notabenenya merupakan orang tua, tentu saja pasti sudah makan banyak asam garam kehidupan. Membuatnya mampu mendeteksi, bila Eva merupakan orang yang humanis serta non materialistis.


Apalagi, ia yang dulu juga terjerat cinta kepadanya wanita yang teramat bersahaja di era nya, jelas bisa menafsirkan bila Eva merupakan wanita yang baik.


Ia nampak terharu kala mendengar jawaban Eva yang begitu membuatnya terkejut di awal-awal. Sedikit berbeda dengan menantunya yang pertama, sepertinya Eva cenderung lebih ekspresif.


" Mama sama Papa dan Kak Deo akan bantu mempersiapkan segala sesuatunya!" Tutur Jessika meraih tubuh Eva dengan luapan perasaan lega.


Ya, walau tanpa perencanaan, namun pernikahan itu nampaknya akan segera terselenggara, agar psikis Demas lebih cepat membaik, dan bisa membangunkan semangatnya dalam mengikuti terapi.


Dan aksi peluk memeluk yang sarat keharuan itu, membuat tiga manusia yang baru saja nongol di mulut pintu itu kini saling menatap.


What is it?


" Permisi!"


" Eni badi hier ? ( Anybody here/ Ada orang disini?)" Seru Dian demi memecah kebisuan yang tercipta.


Membuat Deo mendengus. Sudah jelas ada orang, pakai nanya lagi. Begitu pikir Deo.


" Dian?" Jawab Eva sembari mengusap sisa air mata wajahnya, sesaat setelah ia melepaskan pelukannya dengan Jessika.


" Aaa kangen tau!" Ucap Dian segera memeluk Eva namun langsung membuat Demas mengerutkan kening.


Apa-apa ini? Yang benar saja! 😏


" Ekhem! Ekhem!"


Demas sengaja berdehem demi menebarkan sinyal ketidaksukaannya kepada dua manusia yang saling berpelukan itu.


Membuat Deo dan Arimbi kompak menahan senyum.


" Cemburu Pak?" Tanya Arimbi kepada adik iparnya itu.


"Cemburu? Cemburu apaan? Ngapain, aku haus aja. Mah, tolong ambilin Demas minum dong, kering nih!" Ucap Demas mengelus tenggorokan dengan gerakan lambat dan wajah jutek.


Terbukti dari alis yang tiada henti mengerut itu.


" Oh haus, ya? Kirain...." Timpal Jessika mencibir dengan posisi tangan yang telah mengulur ke atas nakas.


Membuat David tersenyum senang. Sedikit banyak, ketegangan yang semula tercipta, kini perlahan menguap.


" Pak Demas, saya turut prihatin atas kejadian yang menimpa Bapak. Elu juga Va, baik baik deh habis ini ya?" Seru Dian dengan wajah yang benar-benar prihatin.


" Makasih Yan. Oh iya, ngomong-ngomong, kamu apa kabar?" Tanya Jessika mewakili Demas yang masih sibuk meneguk segelas air putih.


" Aku seh..."


" Permisi!" Seru seseorang yang berhasil membuat semua yang ada di sana seketika mengalihkan pandangannya.


Membuat ucapan Dian menguap percuma ke udara lepas.


" Dian? Ya ampun, kamu apa kabar? Loh, alis kamu kok gak cetar seperti biasanya?" Tutur seseorang dengan intonasi ceriwis dan rempong.


Membuat pria tampan yang ada di belakang wanita itu seketika mendengus.


Bisa tidak, tidak usah bahas alis di sini?


.


.


" Gercep banget lu Jes, udah mau dapat mantu dua aja. Kalah cepet aku sama kamu. Si Erik tuh lemot banget!" Gerutu Eka yang kini nampak bersama Jessika berjalan menuju ke ruang dokter bersama David juga Tomy.


" Sabar. Semua ada waktunya. Jadi ngejar sepupu Arimbi?" Tanya Jessika dengan langkah yang masih beriringan.


Eka mengangguk, " Anaknya sih baik kelihatannya. Tapi...!"


" Tapi apa?"


" Kayak belum bisa move on dari suaminya!"


Jessika menatap Eka yang kini muram. Untuk pertama kalinya, sahabatnya itu nampak resah, khawatir, dan nampak mencemaskan sesuatu.


" Sampai masa cutinya hampir habis, itu anak malah sering mengurung diri di kamar. Kemarin ada temen cewek datang, malah aku yang suruh ngadepin. Anak itu memang!" Timpal Eka seraya menghembuskan napas panjang.


" Kayak gak pernah muda aja!" Sahut David menginterupsi obrolan dua betina senior itu.


Membuat Eka seketika melirik David yang berjalan bersama Tomy di depannya. Selalu saja!


" Ini beda Pak. Si Erik kalau udah suka sama orang, susah buat gagalinnya." Ketus Eka demi merasai jika mereka sedari dulu tiada pernah akur.


" Emang mau di gagalin?" Imbuh Jessika terkekeh-kekeh.


" Ya enggak, maksud aku bukan gitu!" Sahut Eka manyun.


Hah, jika sedang bersama seperti itu, rasanya mereka seperti kembali ke zaman masih muda.


Membuat Tomy serta Eka nampak berpikir dengan raut menimbang-nimbang.


.


.


Sementara itu, di tempat lain.


" Aku seneng banget dengernya Va. Gak nyangka kalau aku sama kamu bakal jadi ipar!" Ucap Arimbi yang kini bersama Eva menuju kantin untuk membeli sesuatu.


Sibuk mengisi derap langkah mereka dengan obrolan berfaedah.


" Pak Demas kecelakaan karena aku ajak ngobrol di dalam mobil Ar. Aku terlalu senang saatitu karena ini!" Tutur Eva sembari menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya kepada Arimbi.


Membuat Arimbi nampak tersenyum haru karena senang.


" Mau Pak Demas sakit, mau dia sehat, aku nggak akan ninggalin dia Ar!" Ucap Eva dengan tatapan menerawang.


"Karena dialah, aku merasa memiliki harga sebagai manusia Ar. Pak Demas lah yang membelaku di depan Papa kandungku saat dia malah menjadi sumber segala kesulitan hidup ibuku!"


Arimbi tertegun demi mendengar secuil kisah memilukan itu. Dan untuk kali ini, ia semakin yakin jika Eva benar-benar orang yang tepat untuk Demas.


" Oh ya, selamat ya. Ini udah isi!" Ucap Eva mengusap perut Arimbi yang masih rata. Sedikit malu sebab terlambat mengucapkan.


" Maaf aku sampai lupa Ar. Jujur, aku senang!"


" Va!" Panggil Arimbi yang membuat langkah wanita yang gemar mengenakan lipstik on itu terhenti.


" Ya?"


Kini, Arimbi nampak meraih tangan Eva lalu menatapnya lekat-lekat. Membuat Eva menatap serius wajah sahabatnya itu.


" Va, aku harap semua hal yang telah kamu ambil ini akan konsisten kamu jalani!"


" Kamu harus ikhlas dalam menjalankannya. Sebab, tanpa keikhlasan, semua yang kita kerjakan hanya akan mendatangkan rasa lelah!"


.


.


Meninggalkan dua wanita yang tengah serius manakah berbicara dari hati ke hati, tiga pria dengan kepribadian yang berbeda-beda itu nampak berbincang santai di dalam kamar.


" Kenapa lagi?" Tanya Deo demi melihat wajah adiknya yang masih di tekuk, keruh dan penuh beban.


" Aku minder kak. Takut menjadi beban untuk Eva dan..."


" Takut kalau Eva selingkuh?" Potong Dian demi menjawab keresahan yang muncul di wajah Demas. Membuat keduanya menatap makhluk hompimpa itu.


" Maaf ya pak Demas, pak Deo. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada anda, tapi saya tidak setuju jika anda mencurigai Eva!"


Kini, dia kakak beradik itu nampak saling bertukar pandang, demi melihat Dian yang mendadak diplomatis.


" Yang pertama, saya kenal Eva itu lebih lama dari anda anda ini!" Ucap Dian dengan gerakan bersidekap, dan mirip pendakwa ulung yang mondar-mandir.


Haish!


" Kedua, Eva merupakan korban perselingkuhan. Sinyo, anda pasti ingat kan?"


Dian menatap Demas yang nampak meneguk ludahnya.


Ya, Demas terlihat kaget dengan pernyataan Dian soal Sinyo yang mengingatkan dirinya soal Eva yang cukup berani menciumnya di depan umum, dan menjadi cikal bakal hubungi mereka hingga kini.


"Menurut penelitian, orang yang pernah di sakiti akan cenderung lebih menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak ia sukai Pak. Dan menurut pengamatan saya. Pak Demas ini tipikal Eva sekali!"


Membuat Demas semakin melongo. Sok bijak sekali dia. Tapi, boleh juga lah.


" Semangat Pak. Saya yakin, meski harta bukanlah segalanya, tapi dengan uang yang bapak miliki, perlahan namun pasti, nanti bapak akan sembuh!"


" Bahagiakan Eva Pak!"


Ucap Dian dengan tingkah sok jagoan yang malah membuat kedua pria itu menjadi ngeri.


Dan sejurus kemudian.


BRAK!


Ketiga pria itu tersentak kaget demi suara keras pintu yang mendadak terjeblak. Oh man!


" Sory gak sengaja, pintunya aja yang rapuh bukan aku!"


Dian mendelik demi melihat sesosok datar, yang pernah membuatnya merinding dan kini tengah berdiri di ambang pintu.


" Wanita ini!"


.


.


.


.


.


Siapakah?


🤣🤣🤣