
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Rasa diri yang awalnya kesal, cenderung geram, kini perlahan memudar dan berganti menjadi rasa iba yang teramat. Energi panas yang bisa ia rasakan dari tubuh Arimbi, membuat Deo resah.
Dari jarak yang begitu dekat, Tangan Deo bergerak menepikan beberapa anak rambut yang menutupi pipi Arimbi. Membuat hati pria itu terasa hangat.
Dan mendadak, ia teringat akan ucapan Demas yang sedikit membuatnya resah dalam waktu sekejap itu.
"Kalau kau berani menyakitinya, aku akan merebutnya darimu!"
Deo tahu jika adiknya itu sangat serius manakala berucap. Tapi, antara dirinya dan Arimbi bahkan tak memiliki perasaan apapun selain permusuhan. Tapi, kenapa ia juga tak rela mendengar ungkapan bernada mengancam dari mulut Demas itu.
Ya, Deo tidak memiliki rasa terhadap Arimbi. Mungkin lebih tepatnya, belum.
Hah, entahlah. Ia sendiri juga makin dibuat bingung dengan situasi yang terjadi. Tentang mengapa dirinya yang khawatir, saat wanita yang menjadi musuhnya selama ini itu terkapar tiada berdaya.
" Manis juga dia kalau diam begini!" Batin Deo sejurus kemudian sembari mengulum senyum. Menatap seraut pucat yang mengembuskan napas secara teratur, dengan napas panas.
" Astaga, ngomong apa aku!" Deo yang terkesiap dari ketidaksadarannya, seketika mengusap wajahnya kasar demi menyadari dirinya yang bicara tanpa ia sengaja.
Hah sial!
Tangan Deo kini terulur meraih ponsel di nakas dan berniat menelpon temannya yang notabene merupakan seorang dokter. Tidak akan sembuh jika tidak di obati, begitu pikir Deo.
" Halo, Zra! Udah berangkat? Oh baguslah, mampir ke rumah gue bentar dong...Iya yang di lokasi baru. Iya ..iya .. Adikku demam. Adik jauh lah, iya...iya...ya udah aku tunggu ya, yok!"
Deo terpaksa meminta Ezra untuk datang ke rumahnya. Lagipula, ia tak tega jika harus membangunkan Arimbi yang kini lelap dengan teduhnya. Ia masih bisa berdalih pikirnya. Yang penting, gadis tengik itu bisa sembuh terlebih dahulu.
Deo menatap mata Arimbi yang masih terpejam. Dan tanpa Deo sadari, ia kembali tersenyum manakala melihat wanita yang biasanya galak dan kurang ajar itu, kini tekolek lemah tak berdaya.
Sedikit heran kenapa hatinya belakangan ini, yang selalunya mendadak berdesir manakala mereka berada dalam posisi yang sedikit dekat.
Deo tiada menyadari, jika rasa aneh yang kerap nongkrong di hatinya belakangan ini, mulai meresahkan dirinya yang masih mencintai Roro.
Rasa yang sama, yang mungkin bisa disebut dengan, cinta.
.
.
Arimbi
Ia agak kaget manakala melihat pria tampan berkacamata dan asing baginya itu, kini tengah sibuk mengambil sebuah stetoskop dari dalam tas hitam khusus, sembari ngobrol akrab bersama Deo di dalam kamar.
" Siapa dia?"
" Ah, kau sudah sadar rupanya!" Ucap Ezra ramah, manakala menyadari jika Arimbi telah membuka matanya.
Membuatnya tersenyum canggung.
"Kakakmu tadi bilang kalau kau demam karena kehujanan. Bisa bangun sedikit, aku akan memeriksamu!" Pinta Ezra kembali saat pria itu kini berada di pinggir ranjangnya.
" Kakak?" Arimbi membatin seraya menatap Deo yang melipat kedua tangannya, dan terlihat bergeming di belakang pria yang sangat ramah itu.
" Permisi ya!" Ucap Ezra manakala meletakkan stetoskop ke atas tubuh Arimbi guna memulai mengecek kondisi Arimbi.
Arimbi yang kini tengah di periksa okeh Ezra, menatap Deo yang masih diam dengan wajah datar seperti biasanya.
" Jadi dia memanggilkan dokter untukku?" Batin Arimbi yang masih tertegun demi merasai sikap baik Deo.
" Kau adik yang mana? Kok aku belum pernah bertemu. Bukankah keponakan Om David itu di kota S? Anaknya Om Leo kan? Atau...kau keluarga dari Tante Jessika?" Tanya Ezra kepo dan nyerocos sembari memeriksa dengan teliti kondisi Arimbi.
" Aku..."
" Kau ini banyak bicara sekali sekarang Zra. Sudah cepat periksa, adikku sedang sakit dan malas bicara, kenapa kau malah menginterogasinya!" Seru Deo dengan wajah sebal.
" Kenapa kau yang marah. Aku kan cuma bertanya. Lagian, aku kan juga pingin tahu. Ya ..siapa tahu, kita bisa jadi saudara nanti!" Jawab Ezra menaikturunkan kedua alisnya penuh maksud kala membalas Deo.
" Enggak ada saudara- saudaran, udah cepet periksa. Adikku biar bisa cepat istirahat. Dasar Dokter cabul!"
" Enak aja dibilang cabul. Elu tuh yang cabul. Elu kapan nikahin si Roro. Jangan elu kawinin tapi enggak nikah- nikah!"
" Kau..."
Uhuk! Uhuk!
" Kau tidak apa-apa?" Tanya Ezra yang kini nampak cemas kepada Arimbi.
Arimbi menggeleng, " Saya sebenarnya sakit apa dokter?" Tanya Arimbi sengaja membatukkan dirinya, sebab tak ingin mendengar perdebatan lebih dalam lagi.
" Kau hanya terkena flu. Kepalamu pasti memang akan sedikit sakit dan tenggorokanmu juga. Tekanan darahmu sedikit rendah. Tapi itu bukanlah masalah. Aku akan berikan obat bagus setelah ini. Lain kali, kalau hujan menepi dulu ya. Musim pancaroba seperti sekarang ini memang rentan membuat orang sakit!"
Arimbi mengangguk lemah, sedikit ingin tertawa sebenarnya karena Deo rupanya pandai bersiasat.
" Terimakasih dokter. Anda baik sekali!" Ucap Arimbi dengan bibir yang masih pucat.
" Sama- sama. Kau sangat berbeda dengan kakakmu!" Bisik Ezra seraya terkekeh-kekeh. Membuat Deo terlihat tak suka.
" Sedang apa kalian? Udah Zra, kalau sudah cepat keluar. Nanti biar si Erik yang transfer! Kebiasaan kau ini!!" Dengus Deo demi merasakan kecemburuan.
" Aman! Elu kenapa sih, sensi amat!" Cibir Ezra berengut demi melihat Deo yang sedari tadi tak seperti biasanya.
"Cepat sembuh ya..., emm siapa nama kamu?"
" Arimbi!" Jawab Arimbi tersenyum
" Ah Arimbi. Ibunya Gatotkaca kalau dalam kisah Mahabharata ya. Cepat sembuh Arimbi. Senang bertemu denganmu!" Balas Ezra tersenyum penuh keramahan.
Membuat Arimbi ingin tertawa.
Deo terlihat kesal dengan Ezra yang malah SKSD ( sok kenal sok dekat) kepada wanita yang sebenarnya merupakan istrinya itu.
" Ngapain wajahmu begitu. Aku kan juga tengah berusaha. Siapa tahu aku bisa jadi adik sepupumu juga!" Ucap Ezra tekrikik-kikik.
" Auwh, sialan sakit Yo. Kau ini kenapa sih?" Ucap Ezra mendengus demi merasakan sakit akibat Deo yang sengaja mencabut tiga helai rambut warasnya secara cepat.
.
.
Deo
" Makanlah. Tadi Demas yang bawa kemari. Dari mama!"
Arimbi kini mendudukan tubuhnya ke sandaran ranjang yang sudah di tatai bantal oleh Deo sebelumnya. Menuruti ucapan pria yang wajahnya kini datar.
Wanita itu terlihat menurut dan tak berniat mendebat Deo. Tapi, ia yang tadi merasa bermimpi di peluk oleh Ibunya, seketika merasa Dejavu.
Ya, Bu Ning selalunya meminta Arimbi untuk duduk di posisi seperti itu, manakala ia hendak di obati.
" Buka mulutmu!" Titah Deo dengan wajah datar.
" Aku bisa sendiri!" Balas Arimbi hendak menyambar piring dan sendok itu.
" Buka mulutmu!" Ucap Deo kembali dan tak ingin di bantah. Membuat cuping Arimbi seketika melebar seraya mendengus.
" Aku tidak mau sampai kena omel Mama hanya karena di tuduh yang tidak-tidak nanti!"
Wanita itu akhirnya menurut, kala Deo menyuapi dirinya dengan nasi yang bercampur kuah segar pindang koyong.
Terasa lezat sekali.
Arimbi yang memang lapar dan merasa sangat suka dengan cita rasa masakan Jessika itu, tanpa sadar menghabiskan sepiring makanan yang di ambilkan oleh Deo.
" Bagus, sekarang minum obatmu!" Ucap Deo mengambilkan segelas air dan mangkuk kecil berisikan obat.
Arimbi mengambil dua kapsul dan sebuah pil berwarna putih yang di letakkan diatas mangkuk khusus lalu meminumnya.
" Lain kali jaga sikapmu saat berinteraksi dengan orang baru. Aku tidak suka!"
DEG
Arimbi terbengong-bengong demi mendengar ucapan Deo yang terlihat sangat kesal itu.
Memangnya apa lagi salahnya?
.
.
.
.
.
Up selanjutnya masih nunggu review